
Di dalam apartemen terlihat seorang gadis tengah sibuk berkutat dengan kompor dan peralatan masak lainnya, siapa lagi kalau bukan Reina, Ia mengambil sendok lalu mengambil sedikit kuah sayur yang sedang di masaknya. Dicicipinya masakan yang di buatnya.
“Hemmm lumayan” tuturnya sendiri sambil mengecap-ngecap lidah merasakan apa ada sesuatu yang kurang.
Suara pintu terbuka mengalihkan perhatian Reina, gadis itu menoleh ke arah pintu dan dilihatnya Zen berjalan masuk sambil tersenyum ke arahnya. Laki-laki itu perlahan menghampiri Reina dan langsung mengecup pipi mulus kekasihnya.
“Baunya harum” ucap Zen saat merasakan wangi masakan Reina.
“Mandi dulu sana, habis itu kita makan” Reina mendorong tubuh Zen yang menempel padanya dan menyuruh laki-laki itu pergi.
“Oke sayang” tutur Zen berlalu pergi meninggalkan Reina yang masih sibuk memasak.
Selang 15 menit Zen keluar dari kamarnya memakai celana pendek dan kaos lengan pendek, kemudian laki-laki itu
perlahan menghampiri Reina yang sedang menata piring di atas meja. Reina menatap Zen yang sedang berjalan ke arahnya, gadis itu tersenyum saat melihat kekasihnya yang sudah terlihat segar dan mencium bau wangi sabun dari tubuh Zen.
Zen sampai di meja makan kemudian langsung menggeser kursi dan mendudukinya. Mereka makan bersama sambil mendengarkan alunan musik yang menggema di seluruh ruangan itu. Setelah selesai makan, giliran Zen yang mendapat tugas untuk mencuci piring. Sedangkan Reina ia membereskan meja makan.
Suara lengkingan bel terdengar di telinga mereka, Reina menghentikan aktifitasnya dan berjalan menuju pintu
kemudian membukanya, di depan sudah berdiri dua orang yang di kenalnya yaitu Daniel dan Sarah.
“Malam Rei” sapa Sarah dengan tersenyum lebar, gadis itu langsung menerobos masuk taanpa di persilahkan
terlebih dahulu oleh tuan rumah.
“Mas Daniel, ayo masuk” ajak Reina karena laki-laki itu masih berdiri di depan pintu.
“Wah presdir kita lagi nyuci piring” seloroh Sarah yang di tanggapi dingin oleh Zen, laki-laki itu hanya diam tanpa berkomentar apa-apa.
“Ngapain kamu ke sini?” tanya Zen setelah selesai mencuci piring, ia kemudian mengeringkan tangannya yang basah dengan lap yang tergantung di dinding.
“Mas Daniel katanya pengen main ke apartemen mas Zen” tuturnya, Daniel yang menjadi kambing hitam Sarah
langsung menggoyangkan kedua tangannya memberi kode jika yang di katakan Sarah tidak benar.
__ADS_1
Zen yang tahu akal-akalannya Sarah hanya geleng-geleng kepala saja, kemudian laki-laki itu ikut bergabung
duduk di ruang tamu.
Cukup lama mereka mengobrol bersama hingga larut malam, karena tak kuat menahan kantuk Sarah beranjak dari
duduknya bersama dengan Reina masuk ke dalam kamar untuk membaringkan sebentar tubuhnya.
Sedangkan Zen, ia mengajak Daniel untuk mengobrol di balkon sembari menikmati angin malam yang dingin di temani secangkir kopi.
“Gimana mas sekarang menjadi seorang presdir pasti banyak pengalaman seru yang mas Zen rasakan?”
Zen tersenyum kecut “tiap hari aku hanya berkutat dengan dokumen yang menumpuk di atas meja, apalagi kalau ada pertemuan dengan rekan bisnis di luar, kebanyakan dari mereka menghalalkan berbagai cara agar mandapatkan tender, kamu tahu Niel ada rekan bisinis yag pernah mengadakan pertemuan di tempat karaoke, dan parahnya lagi mereka memanggil para gadis cantik dengan pakaian seksi untuk menemani kita di sana, ternyata
dunia bisnis seperti ini” ungkap Zen panjang lebar yang hanya di tanggapi Daniel dengan kekehan.
“Kenapa kamu malah ketawa?” tanya Zen heran.
“Nggak apa-apa, aku hanya lagi membayangkan bagaimana keadaan mas Zen saat di ruang karaoke di temani gadis cantik dan seksi” sahut Daniel. Zen menatap Daniel lalu meraka saling melepas tawa kompak.
Zen yang santai bersender di railing pagar langsung berdiri tegak saking terkejut, karena Reina tidak
memberitahu dirinya jika om nya datang menemui gadis cantik itu.
Zen menggeleng kepalanya pelan “nggak” balasnya. “Kapan Alex datang ke kafe?” Zen balik bertanya.
“Tadi siang” jawab Daniel, laki-laki itu kemudian meletakkan cangkir kopi yang di pegangnya di atas meja.
“Bantuin aku jagain Reina ya Niel” ucap Zen yang membuat Daniel merinding mendengarnya.
“Nggak usah mas minta, aku pasti jagain Reina, seperti aku jagain Sarah juga” Zen tersenyum seraya menepuk
pundak Daniel.
Karena hampir tengah malam, Daniel akhirnya pamit pulang, sebelumnya Sarah juga sudah di bangun kan Reina namun gadis itu tidak bergeming dan makin meringkuk manja di atas ranjang, akhirnya Daniel meinggalkan Sarah membiarkan gadis itu menginap di tempat sepupunya.
__ADS_1
Di kantor...
Seperti yang sudah di perintahkan Zen pada Yongki, nanti siang laki-laki itu punya janji untuk bertemu presdir Warren Holding yang tidak lain adalah Alex di sebuah restoran.
“Mas Yongki siapin dokumen yang nanti di bawa untuk bertemu dengan pak Alex” perintah Zen yang langsung di
laksanakan oleh Yongki.
“Aku berharap urusan dengan Alex akan berjalan lancar” gumam Zen dengan senyum menyeringai, justru ia yang tak sabar ingin bertemu dengan Alex.
Keluarga Alex suka berfoya-foya menghamburkan uang, dulunya Alex dan Warren sama-sama mendapatkan warisan satu perusahaan masing-masing untuk dua kakak beradik itu.
Namun karena Alex tak mampu mengelola perusahaannya dengann baik, karena memiliki banyak hutang akibat ulah dirinya dan keluarganya yang suka berfoya-foya membuat perusahaannya jatuh bangkrut. Sebagai kakak yang baik Warren tentu saja membantu adiknya untuk bangkit kembali, ia meminta Alex untuk membantunya di perusahaan milik Warren.
Karena sifatnya yang iri membuat Alex melakukan berbagai cara agar perusahaan kakaknya jatuh ke tangan dirinya, maka itu lah setelah Davindra Warren meninggal, ia yang menguasai perusahaan serta beberapa aset milik Warren yang di wariskan untuk putri satu-satunya yaitu Reina.
Reina yang masih muda dan polos menerima dengan ikhlas saat dirinya di usir dari rumahnya sendiri sepeninggal
Warren, ia hidup sebatang kara tanpa orang tua. Namun itu yang membuat Reina menjadi lebih mandiri dan dewasa.
Untuk bertahan hidup, gadis itu masih punya tabungan yang selama ini di simpannya dan juga ia menjual apartemen hadiah dari ayahnya, itu lah kenapa ia tinggal di kontrakan kecil.
Di balik semua musibah pasti ada hikmah, yang menjadikan Reina berubah menjadi gadis yang berpikiran dewasa, ia menyadari sulitnya bertahan hidup seorang diri, untungnya ia masih punya sahabat yang selalu ada buat dia. Dan semuanya menjadi lengkap semenjak kedatagan Zen dalam hidupnya.
Yongki masuk ke dalam setelah sebelumnya ia mengetuk pintu, laki-laki itu menyerahkan dokumen yang di minta
Zen.
Dilihatnya lembar tiap lembar dokumen terseebut, kemudian ia menutupnya setelah di baca, Zen berdiri lalu
merapikan jas yang dikenakannya.
“Ayo kita pergi sekarang” ajak Zen pada Yongki yang berdiri di depnannya, kemudian mereka keluar dan berjalan
menuju basement perusahaan.
__ADS_1