
Sudah beberapa hari sejak Reina tinggal dengan Zen, setiap pagi sebelum berangkat kuliah ia selalu menyiapkan
sarapan untuk dirinya dan tentu untuk kekasihnya juga, mirip seorang istri yang selalu memenuhi kebutuhan suami.
Pagi ini karena tidak ada kelas dan kerjanya juga libur, Reina berencana akan pergi ke tokobuku bersama Sarah, sahabatnya. Gadis itu membuka pintu kamar setelah mandi, di kepalanya masih menggunakan handuk untuk menutupi rambutnya yang basah, ia berjalan keluar menuju balkon yang ada di sebelah kamarnya.
Duduk menyendiri di ayunan kursi gantung yang ada di balkon seraya bersenandung lirih, dari arah kamar Zen,
laki-laki itu membuka pintu dan berjalan keluar masih memakai piyama dengan rambut acak-acakan, muka bantalnya masih terlihat jelas di wajahnya yang tampan.
Zen berjalan ke dapur yang satu ruangan dengan tempat makan, saat ia melewati meja makan di atasnya sudah tersedia sarapan berupa sandwich yang sudah di buatkan oleh Reina dan secangkir kopi. Zen kemudian berbalik menuju kamar Reina dan mengetuk pintu namun tak ada respon dari dalam, kemudian laki-laki itu memanggil nama Reina dengan lantang, Reina yang mendengar langsung menyahutinya dari balkon.
“Ternyata kamu di sini” Zen berjalan mendekati Reina dan ikut mendudukkan tubuhnya di ayunan kursi gantung.
“Kenapa nggak bangunin aku” sambungnya lagi sedikit mengeluh.
“Udah aku banguni tapi mas nggak mau bangun” ucap Reina sambil menggosok-gosokkan handuk ke rambutnya yang masih basah.
“Kamu pasti banguninnya di luar pintu, ya iyalah pasti aku nggak bangun, kalau mau bangunin itu masuk ke dalam
kamar, bukan di luar pintu” ujar Zen yang di tanggapi Reina dengan seulas senyum tipis di bibirnya.
Sarapan dulu mas, aku udah nyiapin di atas meja” tutur Reina, gadis itu beranjak dari ayunan kursi gantung dan berjalan menuju dapur diikuti Zen di belakangnya.
Zen kemudian duduk dan menikmati sarapan yang dibuatkan Reina untuknya, sedangkan gadis itu hanya duduk menemani kekasihnya sarapan.
“Rencana kamu hari ini apa?” tanya Zen yang tahu kalau kekasihnya bebas tugas, tidak kuliah dan tidak bekerja.
“Aku mau ke toko buku sama Sarah” sahutnya.
“Habis dari toko buku langsung ke kafe ya, mas tunggu di sana”.
\~\~\~
__ADS_1
\~\~\~
Zen mengantar Reina ke toko buku sekalian berangkat kerja, setelah sampai di toko buku gadis itu turun dari mobil. Di sana ia melihat Sarah sudah menungunya di depan pintu masuk.
“Udah lama ya nunggunya?” tanya Reina.
“Nggak gue juga baru dateng” sahut Sarah, mereka kemudian masuk ke dalam toko buku, berjalan mengelilingi
rak demi rak untuk mencari buku yang ingin mereka beli. Langkah Reina terhenti ketika ia melihat sebuah buku belajar memasak.
“Aku beli buku ini aja ah, biar keahlian memasak ku nambah” ujarnya berbicara sendiri sambil membolak balik lembar tiap lembar buku tersebut.
Saat ia membalikkan badan hendak pergi dari rak buku tersebut, Reina menabrak laki-laki yang sedang berjalan di
belakangnya.
“Bruukkk”
“Reina” laki-laki itu cukup terkejut ketika bertemu dengan pelayan kafe yang melayaninya saat ia membeli kopi.
“Kok anda tahu nama saya” ujar gadis itu heran.
“Kan nama kamu terpampang jelas di seragam kerja kamu” selorohnya tersenyum sambil memberikan buku yang tadi terjatuh kepada Reina.
Reina baru menyadarinya, ia tersenyum malu karena beranggapan orang itu sok kenal padanya “oh iya ya” ucap
gadis itu seraya terkekeh.
Sarah datang dari arah lain dan menghampiri Reina saat sahabatnya itu sedang mengobrol dengan laki-laki yang
tidak di kenalnya.
“Rei” panggil Sarah sambil menatap laki-laki tampan yang ada di depan Reina.
__ADS_1
Gadis itu menoleh “udah milih buku yang mau di beli?” tanya Reina.
“Udah nih” Sarah menunjukan buku yang akan di belinya pada sahabatnya itu.
“Kita pergi dulu ya pak” kata Reina pada laki-laki itu dan kemudian ia pergi begitu saja meninggalkan laki-laki yang masih menatapnya berjalan ke arah kasir.
"Aku di panggil pak" gumam laki-laki itu tersenyum kecut
“Dia siapa Rei?” tanya Sarah penasaran.
“Pelanggan kafe” jawab Reina.
Setelah membayar ke kasir mereka berdua keluar dari toko lalu berjalan ke parkiran untuk mengambil mobil.
“Rei lo yang nyetir ya” pinta Sarah sembari memberikan kunci mobil pada Reina.
“Beres” ucap gadis itu, kemudian Reina melajukan mobilnya menuju kafe.
Di tengah perjalanan saat Reina mengemudikan mobil, ia merasa di belakang ada mobil yang membuntutinya, Reina melirik ke kaca spion dan menatap mobil berwarna putih yang sedari tadi ada di belakangnya.
“Sar kayaknya ada yang ngebuntutin kita deh” tutur Reina sambil matanya terus menatap ke kaca spion.
“Serius lo” ujar Sarah terkejut, gadis itu kemudian menengok ke belakang, ia memang melihat mobil putih ada di
belakang mobil yang mereka tumpangi.
“Tambah kecepatan Rei, kita lihat mobil itu beneran ngikutin kita atau nggak” tutur sarah, Reina pun mulai menambah kecepatan mobil yang tadinya hanya 50 km/jam kini naik menjadi 70 km/jam.
Selamat membaca teman-teman...
Jangan lupa like dan komennya ya,..
Terima kasih.
__ADS_1