CINTAI AKU SELAMANYA

CINTAI AKU SELAMANYA
BAB 68


__ADS_3

Zen duduk di kursi kerjanya sambil memainkan ponsel ditangannya, di bolak-balik ke kanan ke kiri, sesekali ia menghentak-hentakkan kakinya ke lantai seperti tidak sabar menunggu sesuatu.


“Ting...”


Notifikasi pesan masuk ke dalam ponselnya ia segera menyalakan benda pipih di tangannya dan membuka isi pesen tersebut.


[ 17mm, jangan lupa hadiahnya (emoji tertawa)].


Zen tersenyum lalu mengambil pensil di depannya dan juga kertas, tangannya mulai mencoret-coret kertas itu,


ia bener-benar fokus saat mengerjakan sesuatu. Seseorang masuk setelah mengetuk pintu, Yongki perlahan berjalan menuju meja kerja atasannya, entah kenapa laki-laki itu merasa ada yang berbeda dengan wajah bosnya, terlihat bersinar dan berseri-seri, bibirnya selalu mengulum senyum.


“Ini laporan yang mas Zen minta” Yongki menaruh beberapa tumpuk kertas di atas meja, yang di tanggapi Zen hanya dengan anggukan kepala tanpa melihat ke arah Yongki yang berdiri di depannya.


“Kalau begitu saya permisi” ucap Yongki seraya membalikkan badan dan berjalan keluar.


Saat akan menutup pintu Yongki melihat sebentar ke arah bosnya yang masih sibuk dengan pensil dan juga kertas,


barulah Yongki menutup pintu dan pergi melanjutakan pekerjaanya.


Setelah lama berkutat dengan pensil dan juga kertas, Zen tersenyum lebar seraya mengepalkan tanganya di udara


karena telah menyelesaikan sesuatu yang di gambarnya. Di pandanginya dengan lekat gambar tersebut sambil membayangkan wajah Reina. Ia yakin kekasihnya pasti akan suka dengan sesuatu yang telah di gambarnya.


Zen kemudian beranjak dari kursi dan melangkah keluar ruang kerjanya, ia berjalan menuju lift, disana ia berpapasan dengan Yongki.


“Mas Zen mau kemana?” tanya laki-laki bertubuh kekar itu.


“Aku mau ke suatu tempat” jawab Zen dengan mengulum senyum. “oh iya mas Yongki nggak perlu ikut” sambungnya lagi sebelum akhirnya pintu lift tertutup.


“Mas Zen kenapa sih?” Yongki merasa aneh dengan kelakuan atasannya, ia hanya menggelengken kepalanya lalu berjalan menuju ruangan kerjanya sendiri.


Zen keluar dari lift menuju mobil berwarna hitam yang berada di sudut parkiran, laki-laki itu masuk ke dalam


mobil dan duduk di belakang kemudi, sebelum menjalankan mobilnya, laki-laki itu mengecek kembali apa ada barang yang tertinggal. Zen meraba saku jas dan saku celananya seperti yang ia cemaskan ternyata kertas yang harusnya di bawa malah tertinggal.


“Ahhh sial, kenapa kertasnya malah ketinggalan” gerutu Zen kesal.


Laki-laki itu kemudian menghubungi Yongki untuk meminta bantuan mengambilkan kertas yang tergeletak di atas meja. Yongki keluar dari ruang kerjanya berjalan menuju ruangan Zen yang berada di sampingnya. Seperti yang di katakan Zen, kertas itu berada di atas meja.

__ADS_1


Yongki mengambil kertasnya dan tersenyum ketika melihat coretan di atasnya, “Ohh dari tadi dia sibuk membuat


ini” gumam Yongki sambil berjalan keluar ruangan dan melanjutkan menaiki lift menuju tempat parkir.


Setelah turun dari lift, Yongki menuju mobil dimana Zen menunggunya, laki-laki itu mengetuk kaca mobil yang


di naiki Zen.


“Ini mas” Yongki menyerahkan kertas tersebut pada Zen dengan mengulum senyum.


“Terima kasih” ucap laki-laki itu, lalu ia segera menjalankan mobilnya.


DI kampus...


“Rei, sini balikin cincin gue” rengek Sarah, gadis itu mengikuti Reina yang sudah berjalan di depannya.


“Kalau udah melingkar di jari gue, berarti ini buat gue” Reina pun kekeh tak ingin mengembalikan pada Sarah.


“Entar juga lo dapet dari mas...” Sarah menutup mulutnya hampir saja ia keceplosan.


Reina menghentikkan langkahnya dan berbalik ke arah Sarah “lo tadi ngomong apa?’ tanya Reina penasaran.


“Itu...cincin itu dari mas Daniel, kalau dia nanyain gimana coba, gue kan niatnya cuma mau pamer doang” kilah Sarah, ia tak ingin Reina mengajukan banyak pertanyaan karena yang jelas gadis itu pasti bingung mau jawab apa. Dan kalau sampai Zen tahu hampir saja ia keceplosan pasti sepupunya itu nggak jadi membelikan tas untuknya.


mengerucutkan bibir.


“Terima kasih Rei, yuk gue traktir lo jajan, kebetulan di dekat kampus ada toko kue baru buka, kita nyoba ke sana” rayu Sarah agar sahabatnya tak marah.


“Gue nggak bakalan nolak kalau di traktir” ucap Reina, kemudian mereka berdua berjalan menuju kelas karena


sebentar lagi mata kuliahnya akan di mulai.


\~\~\~


Sementara di tempat lain, Zen baru saja tiba di pusat perbelanjaan di tengah kota. Setelah memarkirkan mobilnya


Zen pun turun dan berjalan masuk ke dalam Mall yang terkenal dengan semua toko nya menjual barang-barang branded.


Zen berjalan mengelilingi Mall dari satu toko ke toko yang lain, kemudian langkahnya terhenti di depan sebuah toko

__ADS_1


mewah dengan banyaknya perhiasan yang berjejer cantik di etalase.


Zen melangkah ke dalam dan di sambut ramah oleh pegawai toko tersebut “ada yang bisa saya bantu?” tanya salah satu pegawai toko dengan tersenyum manis, pandanganya terus tertuju pada Zen.


Zen mengeluarkan secarik kertas dari saku jasnya, kemudian memberikanya pada pegawai toko tersebut, sebuah desain cincin cantik tergambar di kertas tersebut.


“Wah gambarnya cantik banget pak” puji pegawai toko itu yang membuat Zen tersenyum malu.


“Orang yang akan menerima cincin ini pasti sangat spesial hingga anda membuat desain gambarnya sendiri” sambung pegawai itu lagi.


“Iya, dia memang sangat spesial” sahut Zen.


\~\~\~


Setelah lama berkonsultasi, Zen akhirnya keluar dari toko tersebut dan kembali ke kantor. Saat di kantor ia terkejut dengan kedatangan ayahnya yang sudah duduk di ruang kerjanya.


“Kapan ayah datang?” tanya Zen, ia lalu mendudukkan tubuhnya di samping Marlon.


“Tiga puluh menit yang lalu” sahut ayahnya. “kata Yongki kamu sedang keluar” sambungnya lagi.


“Iya yah tadi Zen ada perlu sebentar” pungkas Zen, ia mengambil segelas air di atas meja dan meminumnya.


“Ke toko perhiasan” ujar Marlon yang membuat Zen tersentak dan menyemburkan minuman dari mulutnya.


“Dari mana ayah tahu?” Kening Zen berkerut. Laki-laki itu mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan kerjanya,


mencari tahu apa ayahnya menaruh CCTV tersembunyi hingga beliau tahu apa yang Zen lakukan.


“Mata ayah ada di mana-mana makanya kamu harus hati-hati sama ayah” ujar Marlon, namun Zen tak percaya


begitu saja dengan apa yang di katakan Marlon padanya. Mungkin mata-mata ayahnya adalah Yongki, karena hanya dia yang berinteraksi dekat dengan Zen, dan dia orang yang mengambilkan kertas dari atas mejanya.


Zen hanya memiringkan bibirnya mendengarkan perkataan Marlon. “Jadi ada perlu apa ayah ke kantor?”


“Bagiamana kerja sama dengan Warren Holding?”


“Ayah tenang saja, semuanya sudah beres. Dan Zen juga sudah memberitahu Reina tentang kepemilikan sahamnya di Warren Holding” tutur Zen.


“Jadi Reina sudah tahu. Bagaimana reaksinya?” tanya Marlon.

__ADS_1


“Reaksinya biasa saja” Zen menghela napas pelan. “Karena sebenarnya dia sudah lama curiga, kenapa Alex terus


saja memintanya menandatangani dokumen” pungkas Zen.


__ADS_2