
Melihat kekasihnya di dekati oleh laki-laki lain membuat Zen tidak senang, laki-laki itu menarik tangan Reina lalu membawanya pergi dari situ. Laki-laki yang menyapa Reina tadi hanya memandangi saja saat gadis yang di temuinya di bawa pergi.
“Mas kamu apa-apaan sih, jangan kayak gini, malu di lihatin banyak orang” ujar Reina saat Zen menggengggam tanganya dan membawa gadis itu masuk ke dalam ruang kerjanya.
“Drama rumah tangga segera di mulai” celetuk Sarah.
“Sebenarnya Reina ada hubungan apa sih sama Mas Zen” batin Vira yang melihat sepupunya di bawa pergi oleh
laki-laki yang sedang diincarnya.
“Tuh lihat, kamu nggak perlu nyariin mas Zen lagi soalnya dia udah ada pawangnya” kata Sarah menyindir Vira sambil tersenyum miring, membuat Vira yang mendengarnya langsung angkat kaki dari kafe bersama temanya. Melihat bagaimana ekspresi wajah Vira membuat Sarah tersenyum puas. Daniel yang berada di samping kekasihnya hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan Sarah.
“Duduk!” perintah Zen dengan nada dingin saat mereka berdua sudah berada di dalam ruangan. Dengan patuh Reina pun menurutinya.
“Siapa laki-laki itu?” Zen memandang Reina dengan tatapan tajam membuat gadis itu menelan ludah berkali-kali karena baru pertama kali melihat Zen seperti itu.
“Aku juga nggak tahu mas laki-laki itu siapa” sahut gadis itu jujur sambil menundukkan kepala.
Zen yang tengah berdiri lalu berjalan menghampiri Reina yang terduduk di sofa, ia kemudian mengambil tempat
duduk di samping kekasihnya itu. Mereka berdua saling beradu pandang tanpa mengeluarkan sepatah kata.
“Mas tadi kenapa pergi duluan nggak ngasih tahu aku” ucap gadis itu dengan mata sayu, terlihat jelas di matanya rasa sedih saat kekasihnya bersikap dingin padanya. Ia merasa kata-katanya saat malam itu telah meniyinggung Zen.
“Aku minta maaf kalau kata-kata ku malam itu menyinggung mas, aku benar-benar nggak bermaksud...” Zen menempelkan satu jarinya pada bibir Reina, membuat gadis itu tak melanjutkan perkataanya.
Zen kemudian menarik tubuh Reina dan mendekapnya erat “mas juga minta maaf karena terlalu posesif sama kamu, kekhawatiran mas terlalu berlebihan” Zen mengusap lenbut rambut panjang Reina.
__ADS_1
“Inget ya, mas nggak suka kamu dekat-dekat sama laki-laki lain, apalagi mas nggak kenal orangnya” sambung Zen
lagi sedikit mengancam membuat Reina tersenyum, ia merasa menjadi perempuan beruntung yang di cintai laki-laki seperti Zen, di luar sana pasti banyak perempuan yang ingin dekat dengan laki-laki tampan ini, namun dia malah memilih dirinya, seorang anak yatim piatu yang tidak punya apa-apa.
“Udah mas, aku mau balik ke depan lagi kasian Nadia, udah waktunya dia pulang”
Zen melepaskan pelukannya dan membiarkan gadis yang di cintainya keluar ruangan untuk menunaikan tugas
melayani pelanggan kafe. Zen menatap Reina sampai gadis itu tak terlihat lagi dari balik pintu.
Saat laki-laki itu bangkit dari duduknya, ponsel yang ia letakkan dia atas meja berdering, Zen berjalan perlahan menuju meja kerjanya lalu mengambil ponselnya.
“Ayah” gumamnya.
Zen mengangkat telepon dari ayahnya, terdengar suara pria paruh baya itu berteriak dari sambungan telepon
“Ada apa yah? Kenapa teriak-teriak!” gerutu Zen telinganya berdenging setelah mendengar teriakan ayahnya dari
seberang telepon.
“Kamu ini ya...,siapa perempuan yang kamu ajak tinggal bareng sama kamu?” cecar Marlon saat ia sedang
bertandang ke apartemen Zen, pria paruh baya itu berdiri mematung saat melihat beberapa pakaian dalam wanita yang bergelantungan di jemuran.
Zen tersentak, dari mana ayahnya tahu kalau ada perempuan yang tinggal bareng dengannya, Zen terdiam beberapa saat membuat ayahnya kembali berteriak karena tak mendapat jawaban atas pertanyaan yang diajukan pada anak tunggalnya itu.
“Jawab Zen, kenapa diam!” teriak ayahnya lagi.
__ADS_1
“Reina yah” jawabnya dengan suara lirih.
“Tunggu! Dari mana ayah tahu kalau aku tinggal sama perempuan?” tanya Zen heran.
“Sekarang ayah lagi di apartemen kamu, sudah berapa lama kamu tinggal bareng sama Reina?”
“Sekitar sebulan” tuturnya terkekeh.
“Anak ini benar-benar ya...” Marlon memijat pelan pelipis matanya.
“Sepulang dari kafe ayah tunggu kamu sama Reina di rumah utama, kamu harus datang! Awas saja kalau nggak datang, ayah coret kamu dari daftar kartu keluarga” ancam Marlon, pria itu lalu mematikan sambungan teleponnya.
Zen terduduk lemas di kursi kerjanya setelah mendengar ancaman dari ayahnya, laki-laki itu mengacak rambutnya frustasi, entah apa yang akan Marlon katakan kepadanya dan juga Reina.
\~\~\~
Waktu begitu cepat berlalu, matahari sudah kembali ke peraduannya, Reina yang sudah mengganti seragamnya
keluar dari ruang ganti, ia berjalan selangkah demi selangkah keluar dari kafe saat melewati ruangan kerja bosnya, Zen yang melihat Reina memanggil gadis cantik itu. Reina menghentikan langkahnya dan berbalik masuk ke ruangan Zen.
“Ada apa mas?” tanya Reina dari ambang pintu.
“Tunggu aku” Reina tetap berdiri di ambang pintu menunggu Zen yang sedang membereskan dokumen yang berserakan di atas meja, setelah selesai mereka berdua berjalan menuju parkiran.
Sebelum Zen melajukan mobilnya, laki-laki itu memberitahu Reina jika ayahnya menyuruh mereka untuk datang ke
rumah utama, karena pria paruh baya itu tahu jika sudah sebulan ini mereka tinggal bersama. Reina tersentak mendengarnya, kebiasaan yang gadis itu lakukan ketika merasa gelisah dia pasti memainkan jari jemarinya sendiri.
__ADS_1