CINTAI AKU SELAMANYA

CINTAI AKU SELAMANYA
BAB 30


__ADS_3

Hari yang di tunggu-tunggu oleh mereka pun tiba, semua pegawai dari Coffee Story berlibur ke Pulau Batu. Pulau


yang terkenal dengan keindahan pantainya yang sudah tidak di ragukan lagi. Pesona keindahan pantainya terkenal hingga ke mancanegara, oleh karena itu bagi yang datang ke pulau itu harus memesan jauh-jauh hari karena ini termasuk pulau pribadi. Untung saja Zen mengenal baik orang yang mengelola pulau tersebut membuatnya tidak harus masuk daftar tunggu.


Menempuh perjalanan selama 3 jam akhirnya mereka pun sampai, Zen memesan villa yang letaknya tidak jauh dari


pantai. Mereka turun dari mobil lalu mengambil barang bawaan yang ada di bagasi. Mereka membawa pasangan masing-masing tentu saja Zen dan Reina, Daniel dan Sarah, Nadia dan kekasihnya yang bernama Rian.


“Wah Mas Zen keren, bukannya kalau ada orang yang ingin datang ke pulau ini harus pesan dulu yah, dan belum


tentu dapat biasanya masuk daftar tunggu, bahkan aku pernah dengar dari temen ada yang menunggu sampai 1 tahun baru mereka bisa datang kesini” tutur Sarah yang kagum dengan sepupunya itu.


“Siapa dulu dong” ucap Zen dengan gaya sombongnya.


“Zen!”


Panggil seorang laki-laki tampan dengan memakai pakaian jas lengkap berjalan menghampiri mereka, senyumnya yang indah membuat 3 gadis yang melihat terpesona.


“Ganteng banget” celetuk Reina tanpa sadar lolos dari bibirnya, membuat Zen yang mendengar tidak senang, laki-laki itu lalu menutup mata Reina dengan telapak tangannya.


“Apaan sih Mas Zen” Reina berusaha melepas tangan Zen yang menutup matanya.


“Selamat datang Zen” ucap laki-laki itu seraya mengulurkan tangannya, Zen pun membalas uuran tangan laki-laki itu yang bernama Daren, ia adalah teman Zen saat kuliah dulu.


“Udah lama yah kita nggak ketemu” tutur Daren.


“Gimana mau ketemu kamu sibuk terus, setiap reuni aja aku nggak pernah lihat kamu” balas Zen, kemudian laki-laki itu memperkenalkan satu per satu orang yang bersamanya pada Daren.

__ADS_1


“Oke ayuk aku anter kalian ke villa” Daren berjalan menuju villa diikuti rombongan Zen di belakangnya, decak kagum tak henti-hentinya keluar dari mulut mereka ketika masuk ke dalam villa, fasilitas yang lengkap membuat mereka kagum, ada kolam renang dengan viewnya langsung menghadap ke lautan luas di depan sana.


“Gimana?” tanya Daren kepada Zen ketika sudah mengantar mereka melihat satu per satu ruangan yang ada di villa.


Zen mengangkat kedua jempolnya tanda bahwa ia puas dengan fasilitas yang ada di villa, Daren kemudian berpamitan kepada mereka karena ada pekerjaan lain.


“Kalian bebas memilih kamar sendiri” tutur Zen, namun matanya melirik ke arah Reina.


“Ayok kita bertiga tidur bareng" teriak Sarah, ia kemudian mengajak Reina dan Nadia untuk memilih kamar yang akan mereka tempati.


Zen, Daniel dan Rian menghela napas kompak sembari menatap ketiga gadis yang berjalan ke salah satu kamar,


padahal mereka berharap bisa tidur sekamar dengan kekasih mereka masing-masing harapan mereka pupus sudah.


Zen kemudian berjalan dan memilih kamar yang berada paling depan, ia masuk ke dalam dan langsung membaringkan tubuhnya di atas ranjang yang berukuran besar.


\~\~\~


\~\~\~


Laki-laki bertugas memanggag sedangkan yang perempuan bertugas menuggu hasil panggangan.


Mereka menyantap sampai habis hasil panggangan yang tersedia di tas meja, terlihat Sarah dan Nadia memegang perutnya karena kekenyangan.


“Habis ini aku mau langsung tidur” kata Sarah.


“Iya aku juga mau langsung tidur” sahut Nadia yang berpikiran sama dengan Sarah.

__ADS_1


“Itu karena kalian kekenyangan makanya jadi ngantuk” timpal Reina yang tertawa melihat dua gadis yang memegangi perut mereka.


Akhirnya Sarah dan Nadia berjalan menuju kamar mereka karena tak kuat menahan kantuk, sedangkan Reina ia berjalan ke halaman depan dan duduk di bangku panjang yang ada di sana, ia memandangi langit menatap hamparan bintang-bintang yang berkelap-kelip di atas sana.


Zen yang melihat Reina pergi lalu mengikutinya dari belakang, ia kemudian mengambil tempat duduk di samping


Reina.


“Kamu nggak ngantuk?” tanya Zen menatap wajah kekaksihnya itu.


Reina menggeleng pelan “nggak” jawabnya.


“Ayok kita jalan-jalan ke pantai” ajak Zen, ia kemudian menarik tangan Reina dan menggandengnya untuk berjalan


beriringan menuju pantai yang letaknya hanya beberapa meter dari villa.


Udara dingin yang berhembus membuat tubuh  Reina menggigil, Zen yang melihat kekasihnya kedinginan melepas jaket yang dipakainya lalu menyematkan ke tubuh gadis yang di cintainya itu.


“Mas Zen nggak kedinginan, kalau jaketnya aku yang pakai?” tanya Reina yang tidak enak karena jaketnya di pakai


olehnya.


“Kalau aku kedinginan, aku tinggal peluk kamu” sahut Zen dengan senyuman nakal.


Mendengar hal itu, Reina melangkahkan kakinya lebar meninggalkan Zen yang berdiri memandangnya dari belakang ia takut jika Zen tiba-tiba memeluk dirinya hal yang masih belum terbiasa baginya. Zen tersenyum sebelum ia berjalan menyamakan langkahnya dengan Reina.


Zen meraih tangan Reina dan menggenggamnya dengan erat, mereka berjalan beriringan menyusuri pantai dengan

__ADS_1


deburan ombak menemani langkah mereka. Kemudian karena merasa lelah sudah berjalan cukup jauh mereka duduk di hamparan pasir putih yang luas itu sambil memandangi luasnya pantai yang ada di hadapan mereka.


__ADS_2