CINTAI AKU SELAMANYA

CINTAI AKU SELAMANYA
BAB 77


__ADS_3

"Mas Zen kenal sama dia?" tanya Reina sambil menunjuk ke arah Damian, yang gadis itu heran, soalnya mereka memang pernah bertemu di kafe dan pada saat itu Zen terlihat tidak mengenal laki-laki itu.


Zen mengangguk pelan "kenal" jawabnya sambil menyunggingkan senyum.


"Aku nggak nyangka ternyata kamu mata-mata mereka, dari awal memang aku nggak bisa percaya sama kamu, karena dulunya kamu adalah asisten Davindra, tapi apa yang kamu lakukan selama ini membuat ku mempercayai mu Damian, kamu selalu melakukan apapun yang aku perintahkan" ucap Alex yang masih tak menyangka Damian ada di pihak mereka.


"Maaf pak Alex" tutur Damian. "aku selalu setia pada pak Davindra" imbuhnya lagi, sebelum Alex di masukkan ke dalam penjara.


"ini sebenarnya ada apa? aku sama sekali nggak ngerti" Reina yang mencoba meminta klarifikasi dari kekasihnya.


*


Flashback


Damian mendapat berita kematian atasannya melalui sambungan telepon, pada saat itu ia di perintahkan oleh Alex untuk dinas keluar kota, awalnya ia ragu menjalankan tugas yang diberikan Alex padanya karena saat itu atasannya adalah Davindra bukan Alex, tapi karena ia hanya seorang bawahan, ia menurut saja apa yang di perintahkan Alex karena ia adalah adik dari atasannya. Damian pergi keluar kota, tepat satu hari ia berada di sana, malam harinya Damian mendapat kabar jika Davindra Warren mengalami kecelakaan dan meninggal di tempat. Tentu saja Damian sangat terkejut karena ini terlalu mendadak. Seminggu setelah kematian Warren, Alex mengambil alih perusahaan, Damian terkejut karena yang ia tahu, harusnya Reina yang menggantikan ayahnya, tapi karena saat itu Reina masih remaja, akhirnya untuk sementara Alex yang mengelola perusahaan.


Namun lama-kelamaan Alex malah semakin berkuasa, ia bahkan merubah surat wasiat Warren dan melimpahkan harta warisan yang seharusnya milik Reina dilimpahkan atas namanya.


Dari situ lah Damian mulai mencari tahu penyebab kematian Warren, tak di sangka ia bertemu dengan Marlon. Dan akhirnya mereka bekerja sama.


*


Setelah Reina tahu semuanya, ia berterima kasih pada Damian karena melindungi perusahaan dan masih setia pada ayahnya.


Reina dan Zen kembali ke apartemen setelah sebulan meninggalkan tempat itu.


"Akhirnya kita kembali lagi ke sini" tutur Reina ketika menginjakkan kakinya ke dalam.


Baru saja Reina dan Zen akan mengistirahatkan tubuhnya, bunyi bel yang di tekan terus-menerus membuat keduanya bangkit dari atas ranjang dan keluar bersamaan untuk mengetahui siapa yang bertandang ke apartemen Zen.


Ketika pintu di buka Sarah langsung menerobos masuk dan memeluk Reina.


"Kirain gue nggak bakalan ketemu sama lo lagi" ucapnya sambil terisak.

__ADS_1


Reina mengulurkan tangan membalas pelukan sahabatnya itu, "maaf yah, udah bikin lo khawatir".


Daniel yang masih berdiri di luar segera masuk ke dalam setelah Zen menyuruhnya.


Mereka kemudian duduk bersama di ruang tamu.


"Gimana kafe Niel?" Zen memulai obrolannya.


"Baik mas, bulan ini pendapatannya meningkat" tutur Daniel.


Mereka berempat menghabiskan malam bersama, semalaman Zen dan Daniel mengobrol bahkan sampai pagi.


*


Satu minggu setelahnya Zen kembali beraktivitas seperti biasa, ia kembali duduk di kursi kebesarannya, tapi berbeda dengan Reina, di bantu oleh Damian gadis itu mulai belajar tentang bisnis. karena ia nantinya yang akan memimpin Warren Holding.


Kesibukan keduanya membuat Reina dan Zen hanya bertemu sebentar saat pagi hari saja, karena ketika malam, Reina selalu tidur duluan, yang Zen lakukan hanya memeluk tubuh kekasihnya ketika tidur.


Namun setiap pagi sebelum berangkat kebiasaan Reina tak pernah berubah membuatkan sarapan untuk kekasihnya.


"Pagi sayang" sapa Zen sambil memeluk tubuh kekasihnya dari belakang.


"Semalam kamu pulang jam berapa mas? aku nggak di tahu kalau kamu pulang" pungkas gadis itu.


"Hampir jam 2 Rei" timpal Zen, ia semakin erat memeluk tubuh Reina hingga membuat gadis itu sulit bergerak bebas.


"Mas lepasin dulu, aku kan lagi masak" Reina berusaha melepaskan tangan Zen tapi laki-laki itu malah semakin menjadi. Ia mematikan kompor lalu menggendong Reina dan membawanya masuk ke kamar.


Zen merebahkan tubuh kekasihnya di atas ranjang, napas memburu dan mata berkabut naf.su sudah menguasai akal pikiran laki-laki itu.


Tanpa aba-aba Zen langsung menundukkan kepalanya dan meraup bibir ranum Reina. Zen mengu.lum bibir Reina dengan lembut dan penuh kehati-hatian, ia terus memangut


bibir kekasihnya menikmati setiap tekstur dan rasanya. Reina pun menikmati setiap gerakan bibir Zen dengan mengulurkan tangan ke leher laki-laki itu membenamkan kepala kekasihnya agar semakin memperdalam ciumannya.

__ADS_1


Setelah mereka saling bertukar Saliva, Zen melepaskan pangu.tannya, keduanya saling melempar pandangan dan kemudian mengulas senyum bersama.


"Sudah cukup mas, kita harus ke kantor" tutur Reina sedikit mendorong tubuh Zen agar berpindah posisi.


"Gimana kalau hari ini kita nggak usah ke kantor, masa kamu tega Rei, junior ku udah mengeras" gerutunya sambil menatap bagian bawah tubuhnya. Reina terkekeh saat kekasihnya berkata seperti itu.


"Kita lakukan dengan cepat yah" rengek laki-laki itu dengan raut wajah memelas.


Tak butuh jawaban dari Reina, laki-laki itu langsung melakukan aksinya.


*


Duduk di kursi kerja wajah Zen terlihat berseri-seri, bahkan Yongki saja sampai silau melihatnya, senyum tak pernah lepas dari bibirnya.


"Ini dokumen yang anda minta mas Zen" Yongki menyerahkan dokumen tersebut, yang langsung di terima oleh Zen.


"Terima kasih" balas Zen.


Setelah menyerahkan dokumen, Yongki langsung keluar dari ruangan kerja bosnya.


"Mas Zen kenapa ya, kelihatannya lagi seneng" gumamnya sambil menutup pintu.


Tiga bulan telah berlalu, hubungan Reina dan Zen memasuki tahap yang lebih serius, Zen sudah ingin menjadikan Reina sebagai istrinya.


Hingga akhirnya hari yang paling bersejarah dalam hidupnya pun datang, dengan kebaya putih Reina keluar dari ruangan di apit oleh David Kakak angkatnya dan istrinya berjalan menuju pelaminan. Sedangkan Zen duduk di sana menuggu kedatangan calon istrinya. Semua mata tertuju pada calon pengantin wanita yang terlihat sangat cantik.


Reina duduk di samping Zen, laki-laki itu bahkan tak berkedip saat menatap calon istrinya.


"Kamu cantik banget, aku sampai pangling" bisik Zen pada Reina.


"Bagaimana mana saksi, sah"


"Sah" ucap para tamu kompak.

__ADS_1


Dua sepasang kekasih itu akhirnya menikah dan memulai kehidupan baru sebagai suami istri, tapi mereka tetap sibuk dengan pekerjaan masing-masing sebagai Presdir, Reina di bantu Damian memperbesar Warren Holding, sedangkan Zen dengan Dave Corporation memperluas lagi bisnisnya di bantu Yongki.


__ADS_2