CINTAI AKU SELAMANYA

CINTAI AKU SELAMANYA
BAB 38


__ADS_3

Sarah terus memperhatikan Reina yang sedari tadi hanya duduk tanpa bersuara, wajahnya terlihat murung dan tidak bersemangat, gadis itu beranggapan jika sahabatnya itu sedang bertengkar dengan Zen, sepupunya.


“Lo kenapa sih Rei, diem mulu dari tadi?” tanya Sarah yang tak tahan melihat sahabatnya lesu.


“Nggak apa-apa” jawab Reina.


“Lo nggak lagi berantem sama mas Zen kan” ujar Sarah yang asal menebak.


“Nggak, hubungan kita itu baik-baik aja” sahutnya.


\~\~\~


\~\~\~


DI kafe Zen pun terlihat tidak tenang, berkali-kali matanya melirik ke arah jam yang tergantung di dinding, padahal ia sendiri juga memakai jam di tangannya. Daniel dan Nadia yang melihat gelagat bosnya merasa heran.


“Mas Zen kenapa ya... kayak nggak tenang gitu, bentar-bentar nengok jam, dia kayak lagi nunggu sesuatu” ujar


Nadia yang sedang mengelap meja bar, di sampingnya ada Daniel yang sedang meracik kopi.


“Iya, aku juga penasaran dari tadi dia kelihatan mondar mandir nggak jelas, nggak biasanya mas Zen kayak gitu” sahut Daniel yang sependapat dengan Nadia.


“Apa jangan-jangan kafe lagi ada masalah mas” ujar Nadia yang overthingking.


“Nggak, kemarin aku habis ngasih laporan bulanan sama mas Zen, grafik laporannya bagus, laba kefe terus


meningkat” timpal Daniel, kemudian laki-laki itu memberikan segelas kopi yang baru saja di raciknya kepada Nadia agar gadis itu mencicipi varian kopi baru.


“Gimana Nad rasanya?” tanya Daniel yang tidak sabar menunggu komentar gadis itu setelah meminum kopi

__ADS_1


buatannya.


“Enak mas, nggak terlalu manis, ini cocok buat pelanggan yang ingin tetap minum kopi tapi nggak suka manis”


Mendengar komentar bagus dari Nadia membuat Daniel senang, ia juga membuatkan segelas untuk Zen. Daniel


berjalan menuju ruangan Zen, dengan membawa segelas es kopi di tangannya, karena pintu juga tak tertutup Daniel mengetuk pintu sambil mengintip ke dalam, melihat apa yang sedang di lakukan bosnya sekarang.


“Mas Zen” ucap Daniel yang berdiri di ambang pintu.


Zen memandang ke arah pintu dan melihat Daniel “masuk Niel” ucapnya.


Daniel melangkah perlahan menuju meja kerja atasannya, ia kemudian meletakkan segelas kopi yang ia buat tadi.


“Cobain mas, resep baru” tuturnya dengan senyuman.


Daniel berharap-harap cemas menantikan komentar yang terlontar dari mulut atasannya itu.


“Gimana mas?” tanyanya laki-laki ganteng itu dengan ekspresi wajah tegang.


Zen diam, ia hanya menatap wajah Daniel dengan tatapan mata elangnya yang tajam. Kemudian laki-laki itu menggelengkan kepalanya namun tetap dengan bibir yang terkatup rapat. Daniel tahu apa maksud dari gelengan kepala atasannya itu, ia menghela napas panjang lalu membalikkan tubuhnya hendak pergi keluar dari ruangan bosnya itu.


“Siapa yang nyuruh kamu pergi” ujar Zen, kemudian ia berdiri dari tempat duduknya.


“Aku juga belum komen apa-apa, kenapa kamu mau kabur” imbuhnya lagi lalu berjalan mendekati Daniel.


“Nggak usah mas Zen komen, aku juga tahu kok mas Zen mau komen apa” gerutunya.


“Kamu semenjak pacaran sama Sarah jadi sensitif ya Niel, sifatnya Sarah udah nular ke kamu” ledek Zen tertawa

__ADS_1


renyah.


“Kopinya enak, masukkin ke daftar menu” titah Zen, mendengar komen positif dari bosnya membuat Daniel senang.


“Beres mas Zen” ucapnya sambil keluar meninggalkan ruangan kerja bosnya.


Zen sendiri kembali mendudukkan tubuhnya di kursi sambil menatap layar laptop di depannya, namun pikirannya


terus tertuju pada Reina, membuatnya tak bisa konsentrasi penuh dalam  bekerja.


\~\~\~


 Siang hari setelah kuliah selesai, Reina bergegas menuju kafe dengan berjalan kaki bersama Sarah, mereka berjalan beriringan di trotoar di bawah terik matahari yang panas menyengat. Hanya butuh waktu 20 menit bagi mereka untuk berjalan hingga sampai di kafe. Reina langung masuk ke dalam menuju ruangan ganti. Sedangkan Sarah berdiri di meja bar dan memesan Ice Americano kesukaannya pada Nadia yang sedang bertugas.


Dari arah samping Zen membuka pintu dan keluar dari ruang kerjanya, ia melihat Sarah ada sedang duduk di


salah satu meja sambil menyeruput es kopi pesanannnya. Laki-laki itu menghampiri Sarah dan langsung menanyakan Reina.


“Reina mana?” tanya Zen, ia kemudian mengambil tempat duduk di samping sepupunya itu.


Sarah menunjuk ke arah belakang Zen karena melihat sahabatnya keluar dari ruang ganti, gadis itu sudah memakai


seragam kerja. Zen menengok dan melihat Reina berjalan ke arah meja bar. Laki-laki itu kemudian berdiri dan berjalan menghampiri Reina.


“Siang mas Zen” sapa gadis itu dengan tersenyum manis.


Nadia yang berdiri di samping Reina hanya mesem-mesem malihat tingkah sepasang kekasih itu yang terlihat malu-malu bila di depan orang lain. Zen menanggapi sapaan Reina membalasnya dengan senyuman juga, kemudian laki-laki itu memerintahkan Reina untuk mengikutinya ke ruang kerja. Zen berjalan lebih dulu diikuti Reina di belakang, mereka kemudian masuk ke dalam ruangan kerja Zen.


Selamat membaca teman-teman...

__ADS_1


__ADS_2