
Akhirnya Reina dan Sarah sampai di kafe, setelah memarkirkan mobil, mereka langsung turun dan buru-buru masuk ke dalam kafe, Reina yang masih berdiri di depan pintu menengok keluar mengawasi mobil putih yang membuntuti mereka, mobil itu terlihat berhenti sebentar lalu melaju kembali.
“Tuh bener kan Sar, mobil itu ngikutin kita” Sarah mengangguk menanggapi perkataan sahabatnya itu.
“Gue takut Rei” ucapnya, tangan gadis itu terlihat gemetar.
Zen dan Daniel yang sedang mengobrol memperhatikan kedua gadis itu lalu mereka menghampiri keduanya yang
masih berdiri di dekat pintu.
“Kalian kenapa?” tanya Zen yang melihat wajah kedua gadis itu ketakutan.
“Ada yang ngikutin kita mas” jawab Reina.
Zen dan Daniel terkejut mendengarnya, kemudian Zen menyuruh Reina dan Sarah masuk ke ruang kerjanya, karena ingin tahu lebih detail lagi mengenai mobil yang mengikuti mereka.
Reina dan Sarah duduk di sofa, dari luar Daniel datang membawakan minuman untuk mereka “ minum dulu” tuturnya, lak-laki itu meletakkan dua gelas air di atas meja. Reina dan Sarah langsung mengambil gelas itu dan meminum airnya sampai habis.
“Coba ceritain sama mas, dari mana kalian tahu kalau ada mobil yang ngikutin kalian”
“Kita keluar dari toko buku, aku minta Reina yang nyetir mobilnya, di tengah jalan Reina bilang kalau ada mobil warna putih ngikutin kita, awalnya aku nggak percaya, nah setelah Reina tambah kecepatan baru kita yakin kalau mobil di belakang emang ngikutin kita, karena saat Reina menambah kecepatan mobil itu juga sama, nambah kecepatan juga, aku ngiranya itu mobil pasti udah buntutin kita dari toko buku” urai Sarah panjang lebar.
“Kalian ingat nomor polisinya nggak?” tanya Zen
Reina dan Sarah kompak menggeleng, mereka bahkan tak memperhatikan karena sudah ketakutan.
Zen menatap Daniel yang berdiri di dekat pintu, hanya dari tatapan bosnya ia langsung tahu apa yang harus laki-laki itu lakukan, melindungi Sarah dan tentu saja Zen yang akan melindungi Reina.
“Untuk sementara kalian tidak boleh kemana-mana sendiri, kalau kalian mau keluar harus ada yang nemenin,
ngerti!” perintah Zen, laki-laki itu terlihat sangat serius karena khawatir akan keselamatan Reina. Terbersit dalam pikiran Zen tentang Alex om nya Reina, ia takut pria paruh baya itu menyuruh orang untuk mengikuti kekasihnya, apalagi semenjak kejadian di rumah Alex, gadis itu tidak mau menandatangani dokumen yang Alex perintahkan.
__ADS_1
“Rei, untuk sementara mendingan lo nginep dulu di tempat gue” usul Sarah yang membuat Zen tiba-tiba batuk.
Mereka tidak tahu kalau sekarang Reina telah tinggal bersama Zen.
Daniel dan Sarah menoleh ke arah Zen yang tiba-tiba batuk. Sedangkan Reina, bila gadis itu sedang gugup ia akan
meremas tangannya. Sarah yang sudah hapal dengan kebiasaan sahabatnya itu langsung menyipitkan mata memandang bergantian wajah sepupunya dan sahabatnya.
“Ada apa sama kalian berdua?” tanya Sarah.
“Nggak ada apa-apa” sahut Zen.
“Rei jujur sama gue, kenapa waktu gue ngusulin lo tinggal di rumah gue, lo tuh langsung gugup” cecar Sarah.
“Sebenarnya...”
“Reina udah pindah ke apartemen aku, jadi dia nggak perlu lagi nginep di tempat kamu” sambar Zen sebelum Reina
Sarah dan Daniel tersentak mulut mereka membulat sempurna setelah mendengar pengumuman dari Zen, Sarah kemudian menatap Reina, gadis itu menundukkan kepalanya agar Sarah tak melihat wajahnya yang merah karena malu.
\~\~\~
\~\~\~
Hari ini Zen menutup kafenya lebih cepat, laki-laki itu kemudian pulang bersama Reina ke apartemen. Setelah
sampai, Reina langsung masuk ke dalam kamar, kemudian gadis itu mengambil buku resep masakan yang di belinya di toko buku, Reina membaca lembar tiap lembar buku masakan tersebut.
“Malam ini aku mau nyoba masak ini aja” gumamya seraya tersenyum.
Reina keluar dari kamar dan berjalan ke dapur, ia membuka kulkas mengambil bahan makanan yang akan
__ADS_1
dimasaknya, tak lupa gadis itu memakai apron sebelum berkutat dengan kompor dan teman-temannya.
Zen keluar dari kamar, laki-laki itu langsung berjalan ke dapur karena mencium aroma harum dari dapur.
“Kamu lagi masak apa?” tanya Zen sembari mencondongkan kepalanya ke arah kompor.
Reina tak menjawab, ia hanya tersenyum lalu menyuruh Zen pergi dengan menggoyangkan tangannya, Zen kemudian duduk di meja makan sambil menunggu Reina selesai memasak. Tak butuh waktu lama masakan pun jadi Reina membawa dua piring dan di letakkan di atas meja.
“Cicipi mas, aku nyoba resep baru” ungkap gadis itu.
Zen menelan ludah ketika menatap masakan yang baru saja di masak oleh kekasihnya itu, laki-laki itu sedikit ragu-ragu memakannya.
“Kenapa? Kamu nggak yakin sama masakan aku” gerutu Reina kesal saat melihat ekspresi wajah Zen.
Laki-laki itu tersenyum canggung, lalu ia mulai mengangkat sendok dan mulai memasukkan makanan ke mulutnya, Reina menatap Zen dengan tatapan seperti orang ingin membunuh, membuat Zen susah menelan makanan yang di kunyahnya.
“Gimana rasanya?” tanya Reina dengan melebarkan matanya.
“Enak” jawab Zen dengan tersenyum.
“Beneran?” Reina menuntut Zen untuk mengatakan dengan jujur tentang rasa masakannya.
“Beneran sayang” kata Zen lagi.
Reina lalu mulai mencoba masakannya sendiri, ia mencoba merasakan rasa apa yang kurang dalam makanan
yang di buatnya.
“Kurang asin sedikit” celetuk Reina sambil mengunyah.
“Asinnya udah pas kok” timpal Zen.
__ADS_1