CINTAI AKU SELAMANYA

CINTAI AKU SELAMANYA
BAB 66


__ADS_3

Malam harinya seusai pulang kerja Reina berjalan sendiri menuju halte bus yang jaraknya tidak jauh dari kafe.


Saat ia sedang menunggu bus, sebuah mobil berwarna silver berhenti  di depannya.


Reina tak memperdulikan mobil tersebut, gadis itu mengarahkan pandangannya menatap bus yang sedang berjalan


ke arahnya. Setelah bus berhenti di depannya, gadis itu melangkahkan kakinya naik ke atas dan mencari kursi yang kosong untuk mendudukinya.


Saat bus berjalan, mobil itu pun ikut berjalan, Reina mengernyitkan dahi merasa heran, apa mobil itu sengaja


mengikutinya atau hanya sekadar kebetulan saja. Ia berusaha melihat orang yang duduk di belakang kemudi namun karena kaca mobilnya gelap, Reina hanya melihat bayangannya saja.


“Dia sudah naik bus” suara laki-laki yang sedang menghubungi seseorang lewat panggilan telepon lalu langsung mengakhirinya.


Setelah sampai di depan halte dekat dengan apartemen, Reina turun dari bus, matanya mengarah ke sekeliling


mencari keberadaan mobil berwarna silver itu namun tidak terlihat, perasaan lega menyelimuti hatinya.


Menaiki lift, Reina naik ke lantai 20 di mana apertemen Zen berada, ia berjalan perlahan hingga sampai di depan pintu apartemen, Reina masuk ke dalam ruangan yang masih tampak gelap hanya ada kilatan cahaya lampu dari luar yang masuk lewat balkon.


“Kenapa pintu balkon terbuka, bukannya mas Zen belum pulang” gumam Reina sambil perlahan melangkah ke arah


balkon.


“Jangan-jangan ada pencuri” Reina mengambil sebilah sapu yang ada di sudut ruangan, dengan langkah mengendap-endap, gadis itu berjalan ke balkon, sekelebat bayangan terlihat dari kaca jendela membuat tangan Reina yang memegang sapu gemetar, jantungnya berdegup sangat kencang, ini pertama kali dalam hidupnya ia akan menghadapi seorang pencuri.


“Tunggu! tingkat keamanan apartemen ini sangat tinggi, bagaimana mungkin ada pencuri masuk”


Namun Reina tetap berjalan menuju balkon, ia melihat bagian punggung lebar laki-laki yang berdiri di depannya,


langsung saja gadis itu mengayunkan sapu yang di pegangnya dan langsung memukul pencuri itu tanpa ampun.


“Aduh” pekik laki-laki itu. ia kemudian menoleh dan merasakan sakit di bagian punggungnya.


“Rasain kamu, dasar pencuri” Reina terus memukul orang itu tanpa henti.


“Rei, sakit” pekik orang itu lagi. Akhirnya Reina menghentikan pukulannya, karena mendengar suara orang itu yang tak asing di telinganya.


“Mas Zen” serunya terkejut, gadis itu lalu menyalakan lampu balkon.

__ADS_1


“Ngapain kamu gelap-gelapan kayak gini” ucap gadis itu heran, ia memapah Zen duduk di kursi.


“Aku cuma lagi nggak pengen nyalain lampu, pulang tadi aku langsung ke balkon, duduk terus ketiduran, sampai aku denger ada pintu di buka, aku yakin itu pasti kamu, makanya aku berdiri mau nyalain lampu, ehhh...keburu kena pukul sapu sama kamu” keluh Zen sembari memegang punggungnya yang sakit karena di pukul dengan sapu oleh Reina.


"Maaf ya mas" bujuk Reina yang meraa bersalah.


“Rei, ada sesuatu yang mau aku omongin sama kamu” tutur Zen serius.


“Apa itu mas?” Reina mengernyitkan dahi, ia tak pernah melihat wajah Zen seperti itu wajah datar tanpa ekspresi.


“Kamu masih punya beberapa saham di Warren Holding” Zen menjeda perkataanya, karena melihat wajah Reina yang biasa saja, ia tidak terkejut sama sekali.


“Sudah aku duga, itu lah kenapa om Alex ngotot banget agar aku tanda tangani dokumen” balas Reina.


“Tanda tangani saja dokumen itu Rei, karena Alex akan menjual saham itu pada perusahaan ku” tutur Zen menjelaskan.


“Aku akan mengambil alih Warren Holding saat Alex menjual sebagian sahamnya pada perusahaanku, jadi jika Alex


ingin kamu tanda tangani, lakukan saja perintahnya” sambung Zen lagi.


Reina menganggukan kepalanya tanda mengerti, Zen sudah melakukan banyak hal untuknya, ia benar-benar beruntung bisa mendapatkan laki-laki yang begitu mencintanya. Tuhan memang mengambil ayahnya namun Tuhan juga menggantinya dengan mendatangkan Zen dalam hidupnya.


terbersit di pikirannya, bukannya sangat jelas, Zen yang tiba-tiba merubah keputusannya.


Zen tersenyum, laki-laki itu beranjak dari duduknya dan berjongkok di hadapan Reina sambil menggenggam tangan gadis itu.


“Aku akan melakukan apa pun untuk membantu kamu mendapatkan warisan yang di kuasai Alex”


“Kamu tahu nggak, setiap Sarah menceritakan tentang masalah yang kamu hadapi, walaupun saat itu aku belum


pernah ketemu sama kamu, tapi entah kenapa hatiku tergerak, seolah-olah pikiran ku mengatakan, aku harus membantu gadis itu” ungkap Zen.


\~\~\~


Reina mengulurkan tangannya memegang pipi Zen yang masih berjongkok di depannya. Gadis itu mencondongkan


kepalanya dan mendaratkan ciuman di bibir kekasihnya itu.


“Terima kasih mas” ucapnya setelah mengecup lembut bibir Zen.

__ADS_1


“Yang kamu lakukan sama saja memancingku untuk berbuat sesuatu yang lebih lagi” tutur Zen menyeringai, laki-laki itu berdiri lalu menggendong Reina dan membawanya ke kamar.


Zen merebahkan tubuh Reina di atas ranjangnya yang luas, perlahan tapi pasti Zen langsung melu.mat bibir Reina dengan lembut, Laki-laki itu merubah posisi kakinya yang awalnya menjuntai di lantai, kini seluruh tubuh Zen sudah berada di atas tubuh Reina.


“Kali ini aku harap tidak ada yang mengganggu” tutur Zen sesaat setelah melepaskan ciumannya, Reina hanya


menatap Zen pasrah tak di pungkiri ia pun menginginkannya juga.


Zen kembali mencium bibir Reina, membuat gadis itu memejamkan mata menikmati setiap permainan bibir kekasihnya itu. Kini Reina dan Zen sudah di kuasai naf.su memburu, mereka saling membalas ciuman dengan rakus. Tangan Zen mulai menggerayangi tubuh Reina ia bahkan dengan terampil membuka satu per satu kancing baju yang di pakai Reina sedangkan bibirnya masih asyik mencium bibir kenyal kekasihnya itu.


“Akkhhh” desa.han keluar dari mulut Reina saat Zen tiba-tiba melepaskan ciumannya dan berpindah menghi.sap


bukit kembar milik Reina setelah sebelumnya menyingkap bra warna hitam yang membungkus dada kekasihnya itu.


Cukup lama Zen bermain di sana, dengan dua gundukan yang pas di tangannya, merasa sekarang sudah saat nya berpindah ke adegan yang lebih menantang Zen melepas seluruh pakaiannya dan membuangnya ke sembarang arah.


Reina terkejut untuk pertama kalinya ia melihat senjata milik Zen yang sudah mene.gang dan siap di masukkan


ke lubang inti miliknya.


Zen menyeringai “kamu akan merasakan surga dunia” bisik nya tepat di telinga Reina, ia kemudian melepaskan


semua pakaian yang membalut tubuh kekasihnya, kini terpampang jelas di hadapannya tubuh Reina yang polos.


“Aku nggak nyangka, tubuh kamu seseksi ini” ucapnya, Reina dengan reflek menutupi bagian dadanya dengan


tangan. Melihat itu Zen hanya tersenyum.


Zen lagi-lagi bermain dengan benda kenyal nan padat milik kekasihnya membuat tubuh Reina menggelinjang di


buatnya. Zen membuka kaki Reina mengarahkan benda pusaka miliknya yang siap masuk ke tempatnya.


“Mas pelan-pelan” tutur Reina yang takut saat Zen akan memasukkan miliknya ke lubang milik Reina. Zen


mengangguk pelan.


Badan Reina membusung, saat Zen berusaha memasukan pusakanya, rasanya sakit sekali hingga membuat gadis itu menitikkan air mata.


“Nggak apa-apa” bujuk Zen, laki-laki itu mencium bibir Reina agar gadis itu merasa tenang. Dia harus memastikan jika Reina rileks, barulah ia akan melanjutkan aksinya.

__ADS_1


__ADS_2