
Sepanjang perjalanan menuju rumah utama, Reina hanya diam sambil menatap keluar jendela memandangi lampu jalanan yang berdiri tegak di sepanjang jalan serta gedung-gedung pencakar langit yang berdiri kokoh di luar sana. Zen yang sedang fokus mengemudi sesekali matanya melirik ke arah Reina mamastikan kekasihnya baik-baik saja. Dia tahu Reina pasti merasa gugup karena akan bertemu dengan ayahnya Zen.
Setelah menempuh perjalanan selama 1 jam, akhirnya mereka sampai di depan rumah mewah bergaya klasik eropa bercat putih dengan halaman yang luas dan di tumbuhi tanaman hijau yang menyejukan sepanjang mata memandang.
Reina turun dari mobil dan memandang kagum rumah megah yang ada di depannya. Zen dan Reina berjalan menuju pintu sambil bergandengan tangan. Genggaman tangan Zen terasa basah karena tangan Reina yang berkeringat. Sebelum laki-laki itu membuka pintu, Zen menghentikkan langkahnya kemudian beralih memandang Reina yang berdiri di sampingnya.
“Jangan gugup, kita hadapi ayah bersama” ucapnya meyakinkan Reina agar kekasihnya bersikap santai, gadis itu menganggukkan kepalanya sambil tersenyum lalu ia menghirup udara dan menghembuskannya secara perlahan. Reina mengangguk memberi tanda pada Zen bahwa dirinya sudah siap masuk ke dalam rumah.
Zen membuka pintu rumahnya perlahan dan dia terkejut ketika melihat ayahnya sudah berdiri di balik pintu dengan tatapan mata yang tajam ke arahnya. Zen menelan salivanya pelan sambil menyunggingkan seulas senyum dengan memperlihatkan deretan giginya yang putih dan tersusun rapih.
“Ayah” ucap laki-laki tampan itu sambil menggaruk tengkuk lehernya.
Marlon berdiri tegak dengan satu tangan yang ia sembunyikan di belakang tubuhnya, kemudian ia berjalan menghampiri Zen, ketika ia sudah berada di depan Zen, laki-laki paruh baya itu mengayunkan tangan yang ia sembunyikan dan ternyata tangan itu memegang kemoceng.
“Dasar anak kurang ajar, berani-beraninya kamu bawa anak orang tinggal bareng sama kamu” teriaknya sambil memukul tubuh Zen dengan kemoceng di genggaman tangannya.
“Ampun yah, ampun” Zen berlari menghindari pukulan yang bertubi-tubi di layangkan ayahnya ke tubuh kekar laki-laki itu tanpa ampun.
Reina terdiam dengan mulut terbuka lebar menyaksikan adegan penyiksaan yang di lakukan seorang ayah kepada
anak laki-lakinya yang umurnya sudah tidak muda lagi itu.
__ADS_1
Asisten rumah tangga Marlon yang bernama bik Dinah berjalan keluar dari dapur dengan membawa nampan yang berisi 3 cangkir teh dengan asap yang masih mengepul ke udara.
“Duduk dulu mba” ucapnya mempersilahkan Reina duduk di sofa yang sejak tadi berdiri di depan pintu sambil meletakkan dua cangkir teh ke atas meja.
Wanita tua itu menoleh ke arah Zen yang masih di pukuli ayahnya dengan kemoceng “tuan memang biasa seperti itu mba, kalau mas Zen nakal” tuturnya sambil tersenyum lucu melihat majikan dan anaknya yang masih bergulat tak berhenti, kemudian ia berbalik dan berjalan kembali ke arah dapur.
Reina yang sudah duduk di sofa tersenyum sambil terus memandang ke arah dua orang itu, tak terasa buliran
bening perlahan jatuh membasahi pipi mulusnya kala dirinya teringat kembaliakan sosok mendiang ayahnya yang sudah lama meninggal.
“Udah yah udah, malu dilihat sama Reina” gerurtu Zen sambil menghentikkan tangan ayahnya yang masih terus memukul dirinya. Marlon kemudian menoleh ke arah Reina yang tengah duduk di sofa, ia kemudian membuang kemoceng ke sembarang tempat dan merapikan jas nya yang berantakan, setelah itu barulah ia berjalan menghampiri Reina diikuti Zen di belakangnya.
“Maaf ya Rei, pertama kali kamu menginjakkan kaki di rumah om malah di suguhi adegan yang tidak pantas untuk
“Iya om, nggak apa-apa” ucap Reina sambil tersenyum, karena adegan penyiksaan tadi membuat Reina melihat
sisi lain dari Marlon dan juga Zen, yang ternyata punya sifat kekanak-kanakan.
Zen yang masih berdiri lalu mengambil tempat duduk di samping Reina, dengan wajah kesakitan laki-laki itu merengek minta di kasihani kekasihnya itu.
“Badan aku sakit semua Rei” pungkasnya dengan kepala menyender di bahu Reina.
__ADS_1
“Baru juga di pukul pakai kemoceng udah kesakitan kayak gitu, tadinya ayah malah mau mukul kamu pakai stick golf tapi nggak jadi, soalnya kalau kamu masuk rumah sakit pasti ayah juga yang harus bayar biaya pengobatannya” terang Marlon yang di tanggapi Zen dengan dengusan. Reina yang mendengar perkataan Marlon menahan tawa dengan satu tangan ia gunakan untuk menutup mulutnya.
\~\~\~
Kemudian Marlon berubah mode serius, ia menanyakan pada Zen kenapa Reina bisa tinggal di apartemennya. Zen
pun menceritakan dengan detail kepada Marlon awal mula Reina tinggal bersama dengannya, apalagi semenjak kejadian dimana Reina dan Sarah di buntuti mobil saat itu membuat Zen tidak membiarkan kekasihnya tinggal sendirian.
Akhirnya Marlon pun mengerti, ia kemudian meminta pada anak laki-lakinya untuk menjaga Reina dan ia juga
memperingati Zen agar tak melakukan hal macam-macam pada anak gadis orang apalagi mereka tinggal satu atap.
Terbersit dalam pikiran Marlon untuk menyuruh anaknya menikah dengan Reina, namun bibirnya tak sanggup berucap, mungkin belum saatnya untuk membicarakan masalah ini sekarang, pikir laki-laki paruh baya itu.
"Zen, ayah ingin kamu memikirkan untuk bergabung dengan perusahaan" tutur ayahnya yang tiba-tiba melontakan kata-kata yang cukup mengejutkan bagi Zen.
"Dulu aku pernah bilang sama ayah, nggak tertarik..."
"Tolong pikirkan lagi Zen" sambar Marlon.
Zen pun terdiam, Reina yang duduk di samping laki-laki itu hanya memandang wajah Zen yang sedang menatap ayahnya. Setelah cukup lama berada di kediaman ayahnya, Zen dan Reina pamit pulang karena malam sudah semakin larut, mereka berjalan masuk ke dalam mobil meninggalkan Marlon yang masih berdiri mematung di teras memandang dua anak muda yang baru saja pergi keluar dari gerbang rumahnya.
__ADS_1
"Ayah ingin kamu pikirkan lagi Zen" gumamnya sambil berjalan masuk ke dalam rumah.