
Semenjak ada yang membuntuti kekasihnya, Zen menjadi posesif. Dia tak pernah mengizinkan Reina kemana-mana sendiri, mau itu ke kampus atau pun ke kafe, Zen selalu siap siaga. Namun itu juga yang membuat Reina merasa tidak nyaman.
Sudah lama dia hidup sendiri sepeninggal ayahnya, membuat Reina berubah menjadi pribadi yang mandiri, saat
ada orang yang melindunginya berlebihan gadis itu merasa tak berdaya dan merasa menjadi beban orang lain.
Malam hari di apartemen ketika Reina keluar kamar, ia mendapati Zen tengah duduk santai di sofa dengan kaki
bersilang di atas kaki yang lain sambil menatap layar laptop di depannya. Reina kemudian berjalan perlahan mendekat ke Zen, gadis itu mengambil tempat duduk di samping kekasihnya.
“Mas bisa bicara sebentar” terang gadis itu menatap kekasihnya yang fokus dengan apa yang di kerjakannya.
“Kamu mau bicara apa” Zen menghentikan pekerjaannya dan menutup laptopnya, dia kemudian menoleh ke arah
Reina memandangi wajah cantik kekasihnya yang terlihat serius.
“Mas” Reina terdiam menjeda omongannya sambil memandang wajah Zen, ada perasaan tak enak untuk
mengatakannya, gadis itu takut kekasihnya akan salah paham dan merasa apa yang dia lakukan selama ini tidak di hargai.
“Ada apa Rei, ngomong aja” ucap Zen yang tak melepas pandanganya kepada Reina.
“Sebelumnya aku minta maaf kalau ada kata-kata aku yang mungkin akan menyinggung kamu tapi bagaimana pun aku pengen kamu tahu perasaan aku sebenarnya. Aku minta mas nggak usah antar jemput aku lagi, bukan karena kau nggak senang, aku senang sekali ada yang perhatian sama aku, tapi aku malah nggak nyaman mas, aku terlihat seperti perempuan lemah yang harus di lindungi” ungkap Reina mengatakan semua isi hatinya dengan bibir
bergetar.
__ADS_1
“Tapi Rei, ini buat kebaikan kamu, mas takut diam-diam ada orang yang punya rencana jahat sama kamu, mas cuma pengen ngelindungin kamu,tapi kalau itu buat kamu jadi nggak nyaman mas minta maaf” Zen beranjak dari duduknya dan berjalan masuk ke dalam kamarnya.
Zen merebahkan tubuhnya terlentang di ranjang, tanganya dia jadikan tumpuan kepala, matanya menatap langit-langit ruang kamarnya seraya berbicara pada dirinya sendiri “apa cara ku melindungi Reina itu berlebihan ya, tapi aku senang dia berkata jujur dari pada dia berpura-pura senang tapi ternyata dia malah nggak nyaman.
Sementara Reina, dia masih duduk di sofa seraya matanya menatap ke arah pintu kamar Zen, gadis itu takut
perkataannya menyinggung laki-laki tampan itu. Apalagi melihat ekspresi Zen ketika masuk ke dalam kamar membuatnya merasa bersalah.
Tak beda dengan Zen ternyata apa yang dilakukan bosnya juga dilakukan oleh Daniel, manager kafe itu juga posesif terhadap Sarah, namun Sarah berbeda dengan Reina gadis itu sangat menikmati cara Daniel melinduginya, antar jemput ke kampus.
\~\~\~
\~\~\~
Pagi itu sebelum Reina berangkat ke kampus, dia sudah menyiapkan sarapan untuk Zen berupa nasi goreng. Reina
Dia mengetuk beberapa kali namun tak ada respon dari dalam, kemudian gadis itu mencoba membuka pintu kamarnya yang ternyata tidak di kunci, dan saat di lihat Zen tidak ada di dalam kamarnya. Reina kembali menutup pintu, kemudian kembali ke kamarnya untuk mengambil tas yang di letakkan di atas nakas.
“Mungkin mas Zen udah berangkat, tapi kenapa dia nggak ngasih tahu aku, apa dia marah karena perkataan aku tadi malam” gumamnya lirih dengan ekspresi sedih, Dia lalu keluar apartemen dan berangkat ke kampus.
Saat Reina sedang menunggu angkutan umum di halte, ada laki-laki di dalam mobil yang memperhatikan gadis
itu dari kejauhan dan dia adalah Zen, laki-laki itu sengaja keluar lebih dulu untuk memastikan kekasihnya berangkat ke kampus dengan selamat.
Setelah Reina menaiki bus untuk berangkat ke kampus, Zen mengikuti bus itu dari belakang, dia ingin tetap
__ADS_1
melindungi Reina secara diam-diam.
Hanya ada beberapa orang yang ada di dalam bus, Reina mengambil tempat duduk di bangku paling belakang, dalam perjalanan menuju kampus gadis itu selalu memandang keluar jendela, hatinya sedih ketika Zen pergi lebih dulu tanpa memberitahunya, padahal dia sudah menyiapkan sarapan untuk kekasihnya itu.
Tak terasa buliran bening keluar dari sudut matanya, Reina mengusap pelan pipinya, ia malu jika ada orang yang
melihatnya menangis. Setelah berkutat dengan padatnya jalanan di pagi hari akhirnya gadis itu sampai di kampus, ia turun dari bus dan langsung masuk ke area kampus. Sedangkan Zen yang mengikuti Reina langsung kembali lagi ke apartemen setelah memastikan kekasihnya itu sampai dengan selamat ke kampus.
Zen masuk ke dalam apartemen dan langsung menuju ke dapur, karena dia tahu sebelum Reina berangkat kuliah, dia pasti sudah menyiapkan sarapan untuknya. Zen membuka tudung saji yang menutupi makanan, ia tersenyum ketika melihat satu piring nasi goreng ada di dalamnya.
Laki-laki itu makan dengan lahap nasi goreng buatan Reina karena rasanya benar-benar enak, keahlian memasak
gadis itu sudah meningkat pesat, setelah selesai makan ia langsung membersihkan piring bekasnya makan. Kemudian laki-laki itu berjalan ke kamar untuk membersihkan diri.
\~\~\~
Di kampus, Reina duduk menyendiri di hamparan rumput hijau nan luas yang ada di area kampus. Matanya menatap jauh ke depan melihat bunga-bunga yang bermekaran dengan warnanya yang indah sambil menikmati angin sejuk yang berhembus kencang menerpa tubuhnya.
Tiba-tiba dari belakang ada seseorang yang menepuk pundaknya hingga membuatnya terkejut, dan dia adalah Sarah, sahabatnya.
“Pagi-pagi udah ngelamun, entar kalau ada yang lewat kesambet loh” seloroh Sarah, gadis itu kemudian mendudukkan tubuhnya di samping Reina.
Reina menanggapinya dengan senyuman, karena keasyikan mengobrol membuat mereka hampir saja telat masuk kelas, mereka lalu mnagmbil langkah seribu mengejar waktu agar tak di hukum oleh dosen karena terlambat masuk ke kelas.
Selamat membaca teman-teman...
__ADS_1
Jangan lupa like dan komennya ya...