CINTAI AKU SELAMANYA

CINTAI AKU SELAMANYA
BAB 53


__ADS_3

Zen menghela napas pelan sambil mengusap lembut puncak kepala kekasihnya, laki-laki itu kemudian berjalan


menuju lemari yang ada di sudut kamar Reina, ia mengambil baju dan celana untuk di pakai kekasihnya.


“Apa aku harus ngambil pakaian dalam juga” batin Zen sambil menoleh ke arah kekasihnya yang berbaring di atas


ranjang.


Reina yang menyadari kekasihnya sedang menatap dirinya ikut menatap balik, kini kedua mata mereka saling


bertemu.


“E...pakaian dalamnya mau sekalian aku ambilin juga nggak?” terlihat senyum canggung menghiasi wajah tampan laki-laki itu.


Reina tersenyum “ada di laci bagian bawah” kata Reina sambil menunjuk ke arah lemari kecil di samping Zen.


Zen menatap lekat pintu laci yang terbuat dari kayu, ia tidak bisa membayangkan sesuatu yang ada di dalamnya,


kemudian perlahan tangan laki-laki itu terjulur membuka pintu laci tersebut. Matanya terbelalak sempurna saat laki-laki itu melihat pakaian dalam berwarna-warni tertata rapih di dalamnya.


Tangannya mengambil secara acak pakaian dalam tersebut, lalu ia membalikkan badan berjalan menuju tempat tidur Reina dan menyerahkan baju yang baru saja diambilnya pada gadis itu.


“Mas Zen keluar dulu ya” pinta Reina, ia tidak mungkin memakai baju di hadapan kekasihnya itu.


“Kamu bisa pakai baju sendiri? mau aku bantuin nggak?” dengan senyum seringai Zen mencoba menawarkan bantuan pada kekasihnya itu.


“Nggak” tolaknya tegas, gadis itu lantas mengibaskan tangannya menyuruh Zen keluar dari kamarnya.


Zen berjalan keluar sambil cemberut, saat berada di ambang pintu, laki-laki itu membalikkan badan “yakin nggak mau di bantuin” Zen masih berusaha menawarkan bantuan.


Reina berdesis menatap Zen yang tersenyum puas menggoda dirinya, kemudian laki-laki itu keluar setelah membuat Reina kesal. Dengan susah payah Reina akhirnya berhasil memakai baju walaupun dengan menahan sakit di punggungnya yang terasa nyeri.


\~\~\~


Zen kembali masuk ke kamar Reina dengan membawa nampan yang berisi makanan dan air di tangannya, ia melihat gadis itu tengah terduduk sambil menyenderkan punggungnya di sandaran ranjang. Laki-laki itu kemudian meletakkan nampan yang berisi makanan di atas nakas.

__ADS_1


“Makan dulu Rei” Zen lalu duduk di tepi ranjang mengambil piring dan menyuapi Reina makan.


“Aku bisa makan sendiri mas” tukas gadis itu malu.


Zen menanggapinya dengan senyuman namun ia tetap menyuapi Reina walau gadis itu kelihatan benar-benar malu, Zen hanya berusaha semampunya menjadi laki-laki yang selalu ada saat gadis itu membutuhkannya.


Setelah Reina menghabiskan makanannya, Zen membawa nampan itu keluar dan menaruhnya di tempat cucian


piring, kemudian laki-laki itu mengambil minyak urut yang tersimpan di rak dinding yang tergantung di dekat pintu kamarnya, baru lah laki-laki itu kembali masuk ke dalam kamar Reina.


Zen berjalan perlahan menuju ranjang dan mendudukkan tubuhnya di tepian ranjang tersebut, kemudian ia meminta Reina menyibakkan baju bagian belakangnya untuk mengoleskan obat urut di punggungnya.


Awalnya Reina menolak, gadis itu merasa malu jika Zen melihat punggung mulusnya terpampang jelas dan nyata


terlihat oleh kekasihnya, namun Zen terus memaksa ia mengatakan jika obat urut ini bisa mengurangi rasa nyeri pada punggung kekasihnya.


Dengan wajah memerah, pelan-pelan gadis itu menyingkap baju bagian belakangnya sampai ke atas, melihat punggung mulus kekasihnya membuat Zen berkali-kali menelan salivanya, napasnya mulai tidak beraturan, apalagi melihat pengait pakaian dalam kekasihnya yang merasa sedang memanggil-manggil dirinya untuk minta di lepaskan walaupun itu hanya ada dalam imajinasi Zen sendiri.


Zen mengusap wajahnya kasar untuk membangunkan kesadaran dirinya agar tidak melakukan hal seno.noh pada kekasihnya, tangannya mulai menjulur ke punggung Reina setelah sebelumnya di oles minyak terlebih dahulu, barulah dengan perlahan Zen mengusap punggung mulus kekasihnya.


“Mau yang lebih geli lagi nggak” goda Zen, laki-laki itu berbicara tepat di telinga Reina membuat gadis itu begidik kegelian.


Reina menolehkan kepalanya ke arah Zen, wajah keduanya begitu dekat hingga mereka merasakan deru napas


masing-masing dan mata mereka saling bertautan. Merasa ada sesuatu yang berdesir di hatinya, Reina dengan cepat menarik kepalanya kembali ke posisi semula.


Namun Zen yang sudah tidak bisa menahan hasratnya lagi, menarik dagu Reina dan langsung menyambar bibir ranum gadis itu. Zen terus menye.sap dan melu.mat bibir gadis itu tanpa ampun hingga membuat Reina sulit  bernapas. Dengan mata terpejam perlahan Zen merubah posisinya merebahkan tubuh gadis itu di ranjang tanpa melepas pagu.tan bibirnya.


Merasa punggungnya sakit karena terhimpit tubuh kekasihya, Reina melenguh hingga membuat Zen tersadar, laki-laki itu membuka matanya dan langsung bangun dari atas tubuh Reina.


Zen duduk di samping tubuh Reina yang masih berrbaring di ranjang, laki-laki itu menatap lekat wajah kekasihnya


yang menahan nyeri di punggungnya.


“Maaf Rei” tuturnya yang merasa bersalah, ia lupa jika punggung kekasihnya sedang terluka.

__ADS_1


Reina tersenyum, kemudian gadis itu memposisikan tubuhnya duduk, ia mengulurkan tangannya memegang pipi Zen seraya berkata “nggak apa-apa mas” ucapnya. Karena dalam hal ini dirinya juga salah, ia juga lupa jika punggungnya sedang tidak baik-baik saja.


Reina kemudian mendekatkan wajahnya ke wajah Zen lalu mendaratkan kecupan lembut di bibir kekasihnya itu.


Zen terperanjak ia terdiam mematung dengan seraya mengerjap-ngerjapkan matanya. Baru kali ini Reina berinisiatif menciumnya lebih dulu.


Zen keluar dari kamar Reina dengan wajah bersei-seri, apa yang baru saja Reina lakukan padanya membuat laki-laki itu seperti orang bodoh, senyum bahagia terukir jelas di wajah tampannya hingga ia masuk ke dalam kamarnya.


Kemudian laki-laki itu mendudukkan tubuhnya di tepi ranjang sambil memegang bibirnya “nggak akan aku cuci sampai besok” gumamnya terkekeh.


Lalu laki-laki itu berdiri dan perlahan melangkahkan kakinya menuju lemari, ia mengambil kaos dan celana pendek lalu memakainya. Kemudian Zen kembali ke ranjang dan duduk di atasnya. Di ambilnya ponsel yang ia letakkan di atas nakas.


Zen tampak memainkan ponselnya dengan jari lentiknya menscroll layar ponsel mencari nomor ayahnya, setelah


nomor ayahnya terpampang di layar, Zen langsung menekan tombol hijau menghubungi ayahnya.


Ponsel Marlon berdering saat ia sedang mengadakan rapat di kantornya, untung saja saat itu rapat telah selesai,


sambil berjalan menuju ruang kerjanya Marlon mengangkat telepon dari putra semata wayangnya.


“Halo Zen” sapa Marlon yang sudah sampai di ruang kerjanya.


“Ayah lagi sibuk?” tanya Zen.


“Nggak kebetulan ayah baru saja selesai rapat” jawabnya. “Memang ada apa?” giliran Marlon yang bertanya.


“Ada hal penting yang ingin Zen bicarakan, nanti malam sepulang ayah kerja Zen akan datang ke  rumah” tutur laki-laki berusia 23 tahun itu.


Marlon menautkan alisnya, kira-kira hal penting apa yang ingin putranya bicarakan, pikirnya.


 Selamat membaca...


Jangan lupa like dan komennya, kasif gift juga boleh 😉


Terima kasih

__ADS_1


__ADS_2