CINTAI AKU SELAMANYA

CINTAI AKU SELAMANYA
BAB 67


__ADS_3

Perlahan Reina membuka mata dan merasakan sakit di sekujur tubuhnya, wajahnya memerah ketika teringat


pergulatan dirinya dan Zen semalam, ia tak menyangka akan menyerahkan keperawanannya yang selama ini ia jaga pada Zen. Apakah Reina bodoh? Sepertinya memang dia bodoh memberikan sesuatu miliknya yang berharga pada laki-laki yang bukan suaminya.


Reina tersentak ketika menoleh ke samping ternyata Zen sedang memandanginya dari tadi dengan posisi  badannya miring dengan tangan menopang kepala.


“Selamat pagi sayang” sapa Zen dengan senyum lebar, entah kenapa wajahnya terlihat bersinar, laki-laki itu


mengecup lembut kening gadis yang masih berbaring di sampingnya.


Reina yang malu langsung menutupi kepalanya dengan selimut, membuat Zen tersenyum melihat tingkah kekasihnya yang menggemaskan. Laki-laki itu meyibakkan selimut yang menutupi sekujur tubuh Reina, ia masih belum puas menatap wajah kekasihnya di belainya lembut puncak kepala Reina.


“Terima kasih” ucap Zen lirih.


“Terima kasih untuk apa?” dengan menautkan kedua alis gadis itu bertanya maksud dari ucapan terima kasih yang di tujukan padanya.


“Karena kamu perempuan yang udah ngambil keperjakaan ku, dan sekarang aku minta pertanggung jawaban kamu” bisik Zen di telinga Reina membuat gadis itu merinding ketika hembusan napas Zen  terasa di telinganya.


“Kenapa kamu yang minta pertanggung jawaban, harusnya aku yang bilang seperti itu” terang Reina, ia langsung memosisikan tubuhnya duduk dengan selimut masih menutupi tubuhya, karena sekarang ia tak memakai sehelai benangpun.


“Ha...Ha...Ha...” Zen terkekeh melihat ekspresi wajah kekasihnya yang tak terima karena dimintai pertanggung jawaban.


\~\~\~


\~\~\~


Reina kemudian turun dari ranjang, ia merasakan pinggganya sakit sekali di tambah bagian bawah tubuhnya


yang terasa perih, saat baru saja akan melangkah kakinya gemetar seakan tak kuat menopang beban tubuhnya.


“Aku nggak nyangka mas Zen sekuat ini” batinnya seraya menoleh ke arah Zen yang masih berbaring manja di atas


ranjang.


“Sepertinya kamu nggak bisa jalan” pungkas Zen terkekeh. “Mau aku bantu” sambungnya lagi menawarkan diri.


“Nggak perlu” tegas Reina, dengan susah payah akhirnya gadis itu sampai di kamar mandi. Di dalam sana, Reina


melihat pantulan dirinya di cermin banyak sekali jejak merah yang Zen tinggalkan di sekujur tubuhnya. Apalagi di bagian leher dan dada.


“Aaakhh, aku harus menutupi ini dengan foundation” gumamnya.


Reina berdiri di bawah guyuran air shower yang membasahi tubuhnya, gadis itu menundukkan kepalanya, “ternyata

__ADS_1


begini rasanya” gadis itu bermonolog sendiri. Tak di pungkiri ada rasa kesakitan dan kenikmatan bercampur jadi satu yang ia rasakan.


Setelah 15 menit berada di dalam, Reina keluar dari kamar mandi dan mendapati kekasihnya sudah tidak ada di dalam ruangan kamar, gadis itu kemudian berjalan keluar dan melihat Zen tengah memasak di dapur. Laki-laki itu sepertinya sudah membersihkan tubuhnya karena terlihat dari rambutnya yang basah mungkin ia mandi di kamar sebelah.


Zen menoleh saat mendengar langkah kaki menuju ke arahnya, ia tersenyum melihat kekasihnya yang datang


menghampirinya.


“Duduk Rei” tuturnya sambil menggeser kursi agar Reina duduk di atasnya. Hari ini ia akan melayani Reina


karena merasa bersalah dengan apa yang ia lakukan semalam membuat tubuh kekasihnya lemah tak berdaya.


Zen memasak makanan khusus penambah stamina untuk mengembalikan energi kekasihnya yang ia kuras habis


semalam.


“Makan sayang” Zen meletakkan piring berisi makanan di atas meja.


“Terima kasih mas” ucap gadis itu lalu ia mengayunkan sendok berisi makanan dan memasukkannya ke dalam mulutnya.


“Bagaimana rasanya?” tanya Zen, ia berharap rasa makanannya sesuai dengan selera lidah kekasihnya.


“Hemmm, enak mas” pungkasnya, gadis itu melahap habis makanan di dalam piring hingga tak tersisa.


Setelah selesai makan Reina membersihkan meja dan membawa piring kotor ke tempat pencucian. Gadis itu hampir saja menjatuhkan piring yang di cucinya karena melamun.


“Ahh, ini semua gara-gara mas Zen, aku jadi nggak bisa konsentrasi” gerutunya seorang diri.


“Klekk...”


Suara pintu kamar terbuka, Zen keluar dari sana dengan dandanan rapih memakasi setelan jas berwarna hitam


dengan tatanan rambut klimis serta sepatu yang terlihat mengkilap, ia berjalan menuju sofa dan duduk di atasnya.


Sambil menunggu Reina, Zen tengah sibuk mengetik sesuatu di layar ponselnya, sampai akhirnya Reina keluar dari


kamar, ia segera memasukkan ponselnya ke dalam saku celana dan beranjak dari tempatnya duduk kemudian keluar apartemen bersama Reina.


\~\~\~


Sampai di kampus, Reina turun dari mobil setelah berpamitan kepada Zen, melihat kekasihnya sudah masuk ke


dalam Zen belum beranjak dari sana, ia seperti tengah menunggu seseorang. Tak berselang lama ada seseorang mengetuk kaca mobilnya. Zen pun menurunkan kaca mobil dan melihat Sarah berdiri dengan tangan bersilang di dada.

__ADS_1


Zen yang masih duduk di dalam mobil mengibaskan tangannya menyuruh Sarah mendekat, entah apa yang dibisikan Zen pada sepupunya itu membuat wajah Sarah berseri-seri dan tersenyum lebar.


“Siap mas Zen, Sarah laksanakan” pungkasnya dengan mengayunkan tangan memberi hormat pada Zen.


“Mas tunggu ya, kalau misi kamu gagal, tas yang kamu pengen nggak bakalan mas kasih” ancam Zen yang di tanggapi Sarah dengan senyuman.


“Tenang mas Zen, urusan beres kalau sama aku” Sarah kemudian pergi meninggalkan sepupunya masuk ke dalam


kampus.


Reina duduk di kantin seorang diri sambil menyeruput minuman yang di pesannya, bayangan kejadian semalam


selalu mengusik pikirannya. Ia tak pernah membayangkan akan menyerahkan dirinya begitu saja pada Zen.


Dering ponsel miliknya membuyarkan Reina dalam lamunan, ia mengambil ponsel yang tergeletak di atas


meja dan menerima panggilan telepon dari Sarah.


“Lo di mana Rei?” tanya gadis itu dari seberang telepon.


“Kantin” jawabnya singkat.


Sarah segera ke kantin setelah memutuskan sambungan telepon, ia berjalan dengan senyum mengembang di bibirnya, menjadi pusat perhatian mahasiswa lain yang melihat dirinya, gadis itu tak peduli ia tetap berjalan melewati lorong-lorong kelas menuju kantin.


“Reina” teriak Sarah dari pintu masuk kantin membuatnya menjadi pusat perhatian mahasiswa yang sedang duduk di sana. Reina menoleh dan melihat sahabatnya sedang berjalan ke arahnya dengan wajah senang.


“Udah lama lo di sini?” tanya Sarah.


“Sekitar 15 menit yang lalu” tutur gadis itu.


Dari dalam tasnya, Sarah mengeluarkan cincin dan menunjukannya pada Reina, gadis itu berkata jika ia baru saja membeli cincin hanya saja ukurannya terlalu besar.


“Cobain cincin gue” pintanya, tanpa permisi terlebih dulu gadis itu menarik tangan Reina dan memasukkan


cincin ke jari manis sahabatnya itu.


“Iih pas banget Rei” ucapnya senang.


"Ini buat gue?" tanya Reina berharap.


""Enak aja, gue cuma pengen lo nyobain doang, ha..ha..ha..." tuturnya puas saat melihat wajah sahabatnya yang kesal.


Selamat membaca teman-teman...

__ADS_1


__ADS_2