CINTAI AKU SELAMANYA

CINTAI AKU SELAMANYA
BAB 50


__ADS_3

Zen berusaha tetap berpikiran jernih untuk menemukan keberadaan Reina, walaupun sebenarnya hatinya tidak


tenang. Dengan bantuan Daniel akhirnya Zen mendapat rekaman CCTV dimana Reina terakhir terlihat.


Zen memutar rekaman CCTV di ruang kerjanya, saat CCTV di putar, Zen melihat Reina yang sedang berjalan seorang diri, namun tiba-tiba datang dua orang bertubuh kekar menghadang jalannya.


Terlihat di rekaman CCTV, Reina terlihat tenang, gadis itu tak menunjukkan ketakutan sama sekali ketika mengobrol dengan dua orang yang menghadangnya.


“Lihat mas sepertinya Reina di ancam” Daniel menunjuk ke salah satu laki-laki yang berdiri di belakang Reina, sekilas ia melihat laki-laki itu memegang sesuatu di tangannya. Zen pun memperbesar gambar untuk memastikan apa yang di pegang laki-laki itu.


“Pisau” ucap Zen membelalakan mata.


Mereka juga melihat Reina dan kedua lelaki itu berjalan menuju mobil berwarna putih yang terparkir tidak jauh dari mereka berdiri, gadis itu masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi belakang.


“Mobil itu berwarna putih, apa ini mobil yang sama saat Reina dan Sarah pulang dari toko buku, bukannya mereka


mengatakan diikuti mobil berwarna putih” terang Danile yang di respon amggukan oleh Zen.


“Ini agak sulit karena mobil yang mereka bawa tidak ada plat nomornya” Zen mengusap wajahnya kasar dan menghela napas panjang, ia tidak tahu lagi harus bagaimana.


“Kita pasti akan menemukan Reina mas” Daniel berusaha menguatkan Zen agar bosnya tak putus asa.


Zen mengangguk pelan, ia kemudian teringat dengan ayahnya, mungkin ayahnya bisa membantunya untuk menemukan keberadaan Reina.


“Niel, aku keluar dulu” ucap Zen seraya menepuk pelan pundak anak buahnya kemudian ia keluar meninggalkan Daniel yang masih menatap rekaman CCTV.


\~\~\~

__ADS_1


Di dalam mobil, Reina yang duduk di kursi belakang berusaha bersikap tenang. Pandangannya menatap keluar jendela mengamati keadaan di luar sana, “kemana ia akan di bawa pergi” batinnya.


Gadis itu kemudian teringat jika ponselnya masih ada di tangannya, mengamati situasi di dalam mobil diam-diam


gadis itu menghubungi nomor Zen.


Dering ponsel berdering saat Zen baru saja duduk di belakang kemudi, laki-laki itu kemudian mengambil ponselnya


dari saku jaket yang di kenakannya, matanya membulat sempurna saat nama Reina tertera di layar ponsel miliknya.


“Rei kamu dimana?” tanya laki-laki itu panik saat dirinya mengangkat telepon dari kekasihnya, namun tak ada orang


yang menjawab, hening hanya terdengar klakson mobil di telinga laki-laki berparas tampan itu.


Zen terus mendengarkan membiarkan ponselnya tetap terhubung dengan ponsel milik Reina, selang beberapa menit terdengar suara Reina mengajak ngobrol seseorang.


“Kalian mau bawa aku kemana?” tanya Reina.


Tak berhenti di situ, Reina yang kembali mengedarkan pandangannya keluar mencoba untuk mengatakan apa pun yang di lihatnya untuk memberi petunjuk pada Zen.


“Sebenarnya kalian mau ajak aku kemana? kenapa kanan kiri jalan semuanya hutan” ucap Reina heran.


“Hutan” gumam Zen dari seberang telepon dengan suara lirih.


“Udah mba Reina diam dulu” sahut laki-laki kekar berbaju hitam.


“Kalau mba Reina bersikap baik, kita juga nggak akan menyakiti mba Reina” timpal laki-laki yang lain.

__ADS_1


“Wah bangunan apa itu tinggi banget?” Reina berdecak kagum saat melihat sebuah bangunan tinggi menjulang di


tengah hutan.


“Itu namanya menara pandang mba, dan cuma ada satu-satunya di tempat ini, namanya menara pandang bayangan” tutur laki-laki yang sedang mengemudikan mobil.


\~\~\~


Setelah mendengar semuanya Zen lalu mencari letak dimana menara pandang bayangan di mesin pencarian, dan tempatnya berada di pinggiran kota. Sebelum pergi Zen memberitahu Daniel jika ia sudah tahu keberadaan Reina, kemudian laki-laki itu bergegas keluar menemui  bosnya, karena ia tak ingin bosnya pergi sendirian. Setelah Daniel datang, Zen langsung menyalakan mesin mobil dan melajukannya dengan kecepatan di atas rata-rata.


“Menara pandang bayangan?” ucap Daniel dengan mengerutkan dahi, saat Zen memberitahu tentang menara pandang bayangan pada Daniel, laki-laki itu terdiam saperti sedang memikirkan sesuatu.


“Kenapa Niel, kamu tahu tempat itu?” tanya Zen sambil menoleh ke arah Daniel.


“Menara pandang bayangan berada di tengah hutan mas, dan di sekitar daerah itu terdapat beberapa villa yang


menjadi tempat orang-orang kaya berkumpul untuk membicarakan bisnis atau sekedar bersenang-senang” sahut Daniel memberitahu Zen.


“Kamu tahu banyak tentang tempat itu Niel?” Zen yang penasaran tak berhenti untuk bertanya.


“Aku pernah bekerja di salah satu villa tersebut mas, sebelum akhirnya aku melamar di Coffee Story”


\~\~\~


Di tempat lain, Reina dan kedua laki-laki itu telah sampai di sebuah villa mewah bergaya eropa, kedua laki-laki


itu mengajak Reina masuk ke dalam. Kemudian dua laki-laki itu menghentikan langkah mereka tepat di depan sebuah pintu berwarna coklat keemasan.

__ADS_1


“Silahkan mba Reina masuk ke dalam” ucap laki-laki berbaju putih.


Reina menghela napas dalam sebelum memegang kenop pintu di depannya, banyak pertanyaan di benaknya, siapa orang yang menyuruh dua laki-laki itu untuk membawanya ke tempat ini?


__ADS_2