CINTAI AKU SELAMANYA

CINTAI AKU SELAMANYA
BAB 61


__ADS_3

Sebulan telah berlalu semenjak Zen di dapuk menggantikan ayahnya menjadi presdir di Dave Corporation, hari-harinya sungguh melelahkan, setiap hari dirinya hanya berkutat dengan banyaknya dokumen di atas meja. Itulah kenapa Zen selalu menolak untuk menggantikan posisi ayahnya.


“Jadi ini pekerjaan ayah sehari-hari” gumamnya, ia kemudian menutup dokumen yang telah selesai di tanda tangani, hingga suara ketukan pintu mengalihkan perhatiannya, Zen menatap ke arah pintu dan melihat seorang gadis datang membawa kopi.


“Selamat siang tuan, ini kopi pesanan anda” ucap gadis itu seraya tersenyum manis.


Senyum sumringah terlihat di bibir seksi laki-laki itu, Zen segera beranjak dari duduknya dan menghampiri gadis yang masih berdiri di ambang pintu.


“Kok kamu bisa naik ke sini?” tanya Zen, tangannya langsung menarik tubuh gadis itu agar masuk ke dalam,


gadis itu tidak lain adalah Reina.


“Awalnya aku nunggu mas Yongki di lobi, tapi dia malah nyuruh aku naik ke atas ngikutin dia” sahut Reina, gadis


itu kemudian meletakkan kopi yang di bawanya di atas meja.


“Tapi aku nggak pesan kopi” dengan dahi berkerut, laki-laki itu heran karena tak merasa memesan kopi.


“Mas Yongki yang pesan, dan dia minta kalau aku yang harus nganterin kopinya”


Zen tersenyum, sepertinya ia harus berterima kasih pada asistennya itu, karena apa yang di lakukannya membuat laki-laki itu merasa lebih baik setelah melihat kekasihnya datang.


Reina melirik jam di tangannya “aku harus kembali ke kafe, jam segini kafe pasti ramai, kasian Nadia dan mas


Daniel” ucap Reina.


“Tunggu!, aku butuh asupan energi dari kamu” Zen meraih pinggul Reina agar tubuh gadis itu menempel padanya,


kemudian ia langsung mencium bibir Reina dengan lembut.


“Terima kasih” ucap Zen setelah mendapatkan apa yang diinginkannya.


Reina tersenyum, gadis itu kemudian menangkup pipi Zen dengan kedua tanganya lalu mencium balik bibir Zen.


“Aku pergi ya” Reina berbalik dan keluar dari ruangan kerja Zen, saat ia tengah berjalan di lobi, ada beberapa


karyawan yang terus memperhatikan langkah gadis itu hingga keluar dari perusahaan.

__ADS_1


“Dia siapa? Kenapa pak Yongki menyuruhnya untuk naik ke ruangan presdir, padahal dia kan cuma mengantar kopi


pesanan pak yongki” ucap karyawan yang berdiri di belakang meja resepsionis.


“Sepertinya dia bukan gadis biasa” ujar karyawan yang lain.


“Jangan-jangan...” ucap mereka kompak sambil menutup mulutnya.


\~\~\~


Reina kemudian kembali ke kafe, benar saja saat ia membuka pintu seluruh kursi yang ada di dalam penuh dengan


pengunjung yang datang, Reina segera bergegas menghampiri Nadia yang kewalahan.


“Kamu udah pulang Rei, oh iya ini ada pesanan yang harus di antar lagi” ucap Daniel sambil memberikan 6 cup


kopi dengan berbagai varian rasa.


“Siap” Reina mengambil kopi yang di pegang Daniel, kemudian ia bergegas pergi ke alamat yang Daniel berikan.


Gadis itu sampai di tempat tujuan, saat ia sedang memberikan kopi pesanan pada resepsionis, dari dalam lift keluar seorang pria paruh baya yang di kenalnya yaitu Alex. Pria tua itu menghentikan langkahnya dan menatap ke arah Reina.


Gadis itu menghentikkan langkahnya dan membalikkan badan, Reina terkejut melihat Alex. Ia mengingat kembali kejadian saat anak buahnya membawanya ke villa yang berada di tengah hutan.


Perlahan Reina melangkah mundur dan langsung berlari menghindari Alex, ia bergegas untuk segera kembali ke kafe dan berharap Alex tak mengejarnya. Setelah sampai di kafe gadis itu buru-buru masuk ke dalam. Terlihat kafe tak seramai saat dia pergi hanya ada beberapa pengunjung yang masih duduk di kursi.


“Kamu kenapa Rei?” tanya Daniel yang melihat Reina datang seperti di kejar-kejar sesuatu napasnya tersengal-sengal, Nadia yang sedang memegang gelas berisi minuman langsung memberikan pada Reina.


“Ini minum dulu” Reina mengambil gelas dari tangan Nadia dan langsung meneguknya sampai habis tak tersisa.


“Aku tadi lihat om Alex, makanya aku buru-buru balik ke sini” kata Reina, matanya terus melihat ke arah luar, ia takut Alex datang ke tempat kerjanya.


\~\~\~


Malam pun tiba, Daniel, Reina dan Nadia pulang setelah kafe tutup. Nadia di jemput kekasihnya sedangkan Reina


pulang dengan naik bus, ia mendapat pesan dari Zen, tidak dapat menjemput gadis  itu pulang karena masih ada kerjaan yang harus ia selesaikan di kantor.

__ADS_1


Satu jam kemudian, Reina sampai di apartemen, benar kata Zen, laki-laki itu belum pulang karena saat Reina


masuk lampu masih padam. Reina bergegas ke dalam kamar, berganti pakaian lalu merebahkan tubuh lelahnya di atas ranjang.


Tengah malam Gadis itu terbangun, namun ia merasakan ada sesuatu yang melingkar di perutnya, gadis itu menoleh ke belakang dan melihat Zen tertidur di sampingnya.


“Mas Zen” seru Reina, membuat Zen perlahan membuka matanya.


“Malam Rei” sapanya.


Reina membalikkan tubuhnya kini mereka saling berhadapan. Di tatapnya wajah kekasihnya yang kelelahan, Reina


mengusap lembut pipi Zen yang membuat laki-laki itu tersenyum senang.


“Kapan mas Zen pulang?”


“Setengah jam yang lalu, tadinya aku cuma mau mastiin kalau kamu udah tidur, tapi ternyata aku juga ngantuk


karena malas kalau harus berjalan lagi ke kamar, makanya aku tidur di kamar kamu” ungkapnya, entah benar atau tidak apa yang di katakannya tapi wajahnya terlihat serius.


“Sebaiknya mas Zen ganti baju dulu” pinta Reina yang melihat Zen ternyata masih memakai setelan jas lengkap. Laki-laki itu bangun dan memosisikan tubuhnya duduk. Ia kemudian turun dari ranjang.


“Tapi nanti aku balik ke sini lagi ya” Kata Zen sambil berjalan keluar kamar menuju kamarnya sendiri.


Lima menit berlalu setelah Zen meninggalkn kamar Reina, dan ternyata laki-laki itu benar-benar kembali lagi ke


kamar kekasihnya dengan mengenakan setelan piyama, Zen menyibakkan selimut yang menutupi tubuh Reina lalu naik ke ranjang dan merebahkan tubuhnya di samping tubuh Reina.


Zen menyadari intensitas dirinya bertemu dengan Reina mulai berkurang, mereka kadang-kadang hanya bertemu saat pagi hari saja karena Zen lebih sering pulang tengah malam, dan ketika ia sampai di apartemen kekasihnya sudah tidur terlelap, yang hanya bisa ia lakukan berbaring di samping Reina sambil memeluk tubuh gadis itu.


Keesokan paginya tepat pukul 06.00, Zen membuka matanya perlahan, matanya melirik ke samping. Kosong tidak


ada orang karena Reina pagi-lagi sudah bangun untuk membuatkan sarapan untuknya.


Zen duduk dan menyender ke sandaran ranjang, ia termenung dengan pandangan mengarah keluar jendela kamar. Ponselnya berdering membuatnya mengalihkan pandangan ke arah ponsel yang di letakannya di atas nakas.


Ia mendapatkan sebuah pesan yang isinya “ada seseorang yang sedang mengumpulkan informasi tentang dirinya”.

__ADS_1


Zen mengerutkan kening sambil berpikir siapa orang yang nggak ada kerjaan menginginkan infomasi pribadinya.


__ADS_2