CINTAI AKU SELAMANYA

CINTAI AKU SELAMANYA
BAB 58


__ADS_3

Jiwa kelelakian Zen mulai menguasai akal sehatnya saat memandang kekasihnya sudah berada di bawah


kungkungan tubuh kekarnya, tangannya menyibakkan helaian rambut yang menutupi sebagian wajahnya ke belakang telinga.


Mereka saling memandang satu sama lain hingga terdengar deru napas masing-masing, Tarikan napas Reina mulai naik turun tidak karuan saat Zen mendekatkan wajahnya ke wajah gadis cantik itu.


Perlahan tapi pasti Zen langsung menyambar bibir Reina dengan penuh naf.su ia berharap tidak ada halangan yang membuat dirinya berhenti di tengah jalan seperti saat mereka melakukannya di dapur.


Setelah dari bibir, kini laki-laki itu mulai menyusuri leher jenjang Reina dengan bibirnya, ia terus menjelajahi setiap inchi bagian dari leher jenjangnya sampai ke dada. Reina pun mulai menikmati setiap sentuhan lembut yang Zen lakukan padanya hingga suara lenguhan lolos begitu saja dari mulutya.


Zen yang sudah tidak sabar lagi ingin melanjutkan ke tahap selanjutnya, perlahan tanganya mulai menelusuri sela-sela baju kekasihnya dan masuk ke dalam lalu di pegangnya dua bukit kembar milik kekasihnya. Namun sayang saat laki-laki itu sedang menikmati aktivitas liarnya bersama Reina terdengar bunyi bel dari luar.


Zen tidak menghiraukan suara bel tersebut ia tetap melakukan pergulatannya denga Reina, namun suara bel terus berbunyi membuatnya merasa terganggu, akhirnya dengan wajah kesal Zen turun dari ranjang dan berjalan menuju pintu untuk melihat siapa yang datang ke apartemennya.


Saat ia membuka pintu di lihatnya ayahnya tengah berdiri di depan bersama asistennya, Marlon menatap Zen dari


ujung kaki sampai ujung rambut dengan kening berkerut, karena melihat Zen hanya memakai celana dan bertelanjang dada.


Saat Marlon melangkahkan kakinya ke dalam, pria itu melihat Reina keluar dari kamar Zen sambil merapikan baju


yang di pakainya. Reina tercengang saat Marlon menatap dirinya, ia terdiam membatu seperti seseorang yang ketahuan mencuri, tubuhnya kaku mau melangkah saja susah seperti ada yang menahannya.


Zen yang berdiri di samping Marlon melirik sekilas ke arah ayahnya, tiba-tiba Marlon mengalihkan pandangannya menatap Zen dan berkata “kamu habis ngapain sama Reina?”


Laki-laki itu menghela napas dalam sambil mengerucutkan bibirnya “belum sempet ngapa-ngapain ayah keburu


datang” ucapnya jujur.


“Jadi kamu nyalahin ayah” Marlon memukul pelan kepala Zen dengan tangan hingga laki-laki itu memekik kesakitan


“Aduh sakit yah” desis  Zen seraya berjalan menjauh agar tidak kena pukul ayahnya lagi.


Yongki asisten Marlon menahan tawa dengan menutup mulutnya melihat kelakuan ayah dan anak itu, mereka berdua memang selalu terlihat bukan seperti ayah dan anak.


Marlon kemudian berjalan ke arah sofa dan mendudukkan tubuhnya di atasnya, di susul Yongki dan juga Zen,


sedangkan Reina, gadis itu berjalan menuju dapur untuk membuat minuman.

__ADS_1


“Kenapa ayah nggak bilang kalau mau datang” tutur Zen yang masih kesal karena ayahnya yang tiba-tiba datang


tanpa memberitahunya terlebih dahulu.


“Kelihatannya kamu masih kesal sama ayah? Denger ya Zen jangan ngerusak anak gadis orang, kalau kamu serius


sama Reina kenapa nggak nikah aja, toh kalian juga udah tinggal serumah, jangan sampai tahu-tahu ayah udah punya cucu”


Zen terdiam seperti sedang memikirkan sesuatu, ia merasa apa yang di katakan ayahnya ada benarnya, mereka sudah sama-sama dewasa, sekarang sudah waktunya ia dan Reina menjajaki hubungan yang lebih serius.


“Halo” seru Marlon sambil menggoyangkan tangannya di depan wajah Zen  yang terlihat sedang melamun.


Zen tersadar “ aku akan pikirkan nanti yah untuk masalah itu, aku akan mendiskusikan dulu sama Reina.


“Oh iya, sepertinya ada hal penting yang membuat ayah sampai datang ke sini?


Marlon menengok ke arah Yongki  dan meminta asistennya untuk memberikan dokumen penting pada anaknya, Yongki membuka tasnya dan mengambil sesuatu dari dalam sebuah map berwarna merah, lalu Yongki memberikan map itu pada Zen.


Zen kemudian mengambil map yang di berikan Yongki kepadanya lalu membukanya, matanya terbelalak sempurna saat melihat isi dari dokumen itu.


“Ini benar yah” kata Zen, ia masih tidak percaya dengan dokumen yang baru saja di bacanya dan bertanya pada


Marlon mengangguk pelan “ayah dapat informasi dari sumber yang terpercaya” tuturnya.


“Pantas saja Alex begitu menginginkan tanda tangan Reina” ujar Zen, Reina ternyata memiliki segalanya, sebelum Warren meninggal ternyata ia sudah menyiapkan semuanya, pria paruh baya itu seperti tahu jika hidupnya tidak lama lagi.


“Menurut ayah, apa kematian om Warren ada hubungannya dengan Alex” ujar Zen sambil menatap lurus ke arah


Marlon.


“Mungkin” jawab laki-laki itu.


Reina yang baru saja dari dapur tidak sengaja mendengar percakapan ayah dan anak itu, tangannya gemetar saat ia membawa nampan yang berisi 3 cangkir teh.


“Apa benar yang di katakan mas Zen, jika omnya ada hubungannya dengan kecelakaan yang di alami ayahnya” batin Reina menjerit.


Gadis itu menenangkan dirinya sebelum ia keluar untuk menyuguhkan teh kepada ketiga laki-laki yang duduk di

__ADS_1


sana. Ia berusaha menyembunyikan perasaannya agar ketiganya tidak curiga jika gadis itu mendengar pembicaraan mereka.


\~\~\~


Saat Reina muncul ketiga orang itu langsung terdiam, Reina pun mengerti mungkin mereka tidak mau gadis itu


mendengar kenyataan pahit yang menimpa ayahnya. Sebenarnya sudah lama ia memikirkan masalah itu, kecelakaan yang menimpa ayahnya sangat janggal. Ayahnya orang yang sangat teliti setiap akan mengendarai mobil ia selalu mengecek kendaraanya terlebih dahulu.


“Silakan diminum” tutur Reina sambil meletakkan cangkir teh di atas meja.


“Terima kasih Rei” ucap Marlon, pria tua itu lalu mengambil cangkir yang ada di depannya dan meminum teh buatan


Reina.


Gadis itu kemudian kembali ke dalam, setelah meletakkan nampan di dapur, Reina berjalan menuju kamarnya. Ia


mengambil album foto dari dalam nakas kemudian Reina menghempaskan pan.tatnya di tepi ranjang.


Dibukanya lembar demi lembar album foto itu, tangannya mengusap lembut foto bergambar ayahnya, setetes buliran bening tiba-tiba mengalir dari kedua sudut matanya. Reina tidak bisa lagi menahan kesedihan saat teringat dengan mendiang ayahya.


“Kenapa ayah dan ibu  ninggalin aku begitu cepat, apa kalian nggak sayang sama aku, sekarang aku hidup sendiri di dunia ini”


Isak tangis Reina terdengar di telinga ketiga orang yang duduk di luar, Zen kemudian buru-buru masuk ke dalam


kamar kekasihnya, ia menerobos masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu,


“Kamu kenapa Rei” Zen menghampiri Reina yang duduk di tepi ranjang.


“Nggak apa-apa mas, aku cuma keingat ayah, kalau lihat om Marlon pasti aku jadi ingat sama ayah” tuturnya.


Zen mendekap tubuh gadisnya  dalam pelukannya “kamu bisa anggap ayah aku, ayah kamu juga, kita juga nantinya akan jadi satu keluarga” selorohnya agar Reina terhibur


“Maksud mas apa?” Reina mengerutkan kening yang di tanggapi Zen dengan senyuman.


Selamat membaca...


Jangan lupa like dan komennya ya...

__ADS_1


Teima kasih.


__ADS_2