
“Niel” panggil Zen karena ia melihat wajah anak buahnya datar dengan tatapan mata kosong.
Nadia yang duduk di samping Daniel mecoba membuat Daniel tersadar dari lamunannya dengan menyenggol tangan laki-laki itu.
“Ada apa Nad?” tanya Daniel bingung.
“Itu di panggil mas Zen” sahut Nadia sambil memajukan kepalanya.
“Kamu kenapa Niel?” Zen menatap lekat wajah laki-laki itu sembari menyunggingkan senyum.
“Nggak apa-apa mas, aku cuma kaget aja, tiba-tiba mas Zen ngomong kayak gitu, mas yakin dengan keputusan yang udah mas buat” Daniel mencoba membuat Zen untuk berpikir lagi, soalnya ia sangat tahu itu merupakan keputusan yang penting jika akhirnya ia memilih bergabung dengan perusahaan ayahnya.
“Aku udah pikirin matang-matang, dan ini lah keputusan aku” tutur Zen dengan penuh keyakinan. Karena dengan cara ia bergabung dengan perusahaan ayahnya, dirinya bisa membantu Reina mendapatkan hak nya kembali.
\~\~\~
Setelah Zen memberitahu semuanya, laki-laki itu kemudian kembali menyuruh anak buahnya untuk membuka kafe. Daniel dan Nadia lebih dulu keluar dari ruang kerja bosnya, di susul Reina di belakangnya, namun saat gadis itu membuka pintu, dari belakang Zen malah menutup pintu itu kembali.
Reina menoleh “ada apa mas?” tanya gadis itu bingung.
Zen menarik tubuh kekasihnya dan mendekapnya dalam pelukan laki-laki itu “kamu masih punya hutang sama aku”
bisik Zen di telinga Reina.
“Hutang apa” kata gadis itu dengan menautkan kedua alisnya. Ia terlihat sedang memikirkan hutang yang dimaksud Zen.
“Yang di dapur” bisik Zen lagi seraya menarik kedua sudut bibirnya.
Dengan reflek yang cepat setelah mendengar bisikan Zen, gadis itu mendorong tubuh kekasihnya hingga mundur
beberapa langkah.
“Iiih mas Zen” dengan pipi memerah, gadis itu keluar dari ruangan kerja kekasihnya. Zen yang masih berdiri di dalam tersenyum puas melihat kekasihnya tersipu malu.
\~\~\~
Setelah Reina dan Nadia berganti seragam, mereka berjalan ke depan guna membersihkan ruangan kafe sebelum di buka. Reina menyapu lantai, dan Nadia mengelap setiap meja yang ada di sana.
Setelah semua beres, mereka berdua melanjutkan pekerjaan yang lain, sekarang giliran dinding kaca yang berada
__ADS_1
di depan. Reina mengelap di bagian kiri sedangkan Nadia mengelap di bagian kanan, terlihat mereka berdua fokus dengan pekerjaan masing-masing.
Reina yang berdiri di atas kursi untuk membersihkan kaca di bagian atas, hampir saja jatuh saat Sarah datang
mengagetkan dirinya, untung saja ia masih bisa menjaga keseimbangan tubuhnya.
“Sarah ngagetin aja” gerutu Reina cemberut.
Bukannya minta maaf, Sarah malah tersenyum ketika melihat wajah sahabatnya itu, kemudian Sarah masuk ke dalam bersama Reina, di susul Nadia di belakangnya.
“Tumben masih pagi udah ke sini” ujar Reina.
“Iya, soalnya aku mau ketemu mas Zen”
“Oh niatnya cuma ketemu mas Zen, nggak pengen ketemu sama yang lain” timpal Nadia.
“Ya...sekalian dong” selorohnya sambil berjalan menuju ruangan Zen.
Awalnya gadis itu mengintip dari sela pintu yang terbuka sedikit, melihat sepupunya yang ada di dalam, lalu ia
mengayunkan tangannya mengetuk pelan pintu ruangan itu.
Zen yang sedang menatap layar laptopnya mengalihkan pandangannya ke arah pintu, dilihatnya Sarah tengah berdiri di ambang pintu sambil menyunggingkan senyum.
“Sibuk” jawab Zen singkat. “Memangnya kenapa?” Zen balik bertanya.
“Aku pengen ngobrol sama mas Zen” sahut Sarah, tanpa di persilahkan masuk, gadis itu langsung nyelonong masuk dan duduk di atas sofa.
Zen kemudian bangkit dari duduknya dan berjalan menghampiri Sarah, lalu ia duduk di hadapan gadis cantik itu, sepertinya ia tahu apa yang akan di bicarakan gadis itu dengannya. Mungkin ayahnya sudah memberitahu kepada keluarga besar perihal bergabungnya ia dengan perusahaan ayahnya.
“Aku denger papah bicara lewat telepon sama om Marlon, kenapa iba-tiba mas Ze mau bergabung di perusahaan?”
“Karena udah waktunya Sar” jawabnya tanpa harus menjelaskan apa pun, dia juga yakin ayahnya tidak akan
mengatakan pada siapa pun alasannya sekarang ia mau menerima permintaan Marlon..
Sarah terdiam sambil terus memandang ke arah Zen, dia menyadari banyak perubahan yang terjadi pada sepupunya itu, mungkin karena ia juga sudah dewasa, pemikirannya jauh ke depan, bukan lagi memikirkan dirinya sendiri seperti dulu.
Sarah menyunggingkan seulas senyum tanpa berkata apa-apa, membuat Zen mengerutkan dahi, ia dan Sarah memang dekat dari dulu, karena sama-sama anak tunggal. Dalam diri Zen, Sarah selalu mendapat perlindungan layaknya seorang kakak, bila dia di tindas oleh saudara yang lain, Zen lah yang selalu menjadi garda terdepan untuk melindungi Sarah.
__ADS_1
Makanya gadis cantik itu sangat senang setelah tahu Zen menyukai sahabat dekatnya, yaitu Reina. Dua orang itu orang-orang yang penting dalam hidupnya , tentu saja selain orang tuanya dan juga Daniel kekasihnya.
Setelah mendapat jawaban dari sepupunya, Sarah bangkit dari duduknya dan keluar dari ruang kerja Zen,
kemudian gadis itu mencari keberadaan Daniel, yang tidak nampak batang hidungnya di depan maupun di ruang kerjanya.
“Ice Americano satu” ucap Sarah pada Reina yang sedang bertugas melayani pengunjung.
“Kenapa itu muka di tekuk gitu?” tanya Reina yang sedang sibuk meracik kopi pesanan Sarah. Tidak ada tanggapan dari sahabatnya itu. Barulah ia menanyakan keberadaan Daniel pada Reina.
“Tadi mas Daniel di suruh mas Zen, buat ngecek pesanan kopi yang baru aja sampai di gudang” sahut Reina
menjelaskan.
Setelah mendapatkan ice kopi yang di pesannya, Sarah pun mencari tempat duduk yang kosong, ia memilih tempat yang berada di sudut ruangan, pandanganya menatap keluar mengamati mobil berlalu lalang melintasi jalanan yang padat.
Dari arah luar Nadia masuk ke kafe setelah sebelumnya ia mengantar pesanan ke gedung sebelah yang jaraknya
dua blok dari kafe, wajahnya terlihat di tekuk seperti lap yang sudah kering, Reina yang sedang sibuk mengelap meja bar mengalihkan pandanganya melihat Nadia.
“Kamu kenapa Nad?” tanya gadis itu, tangannya masih sibuk mengusap-ngusap meja.
Gadis itu menghembuskan napas pelan, kemudian ia mengambil air dari dispenser yang ada di sudut meja, dengan
sekali teguk Nadia menghabiskan air tersebut.
“Gimana aku nggak kesel coba, tadi pelanggan yang ada di gedung sebelah main cancel-cancel aja pesanan,
padahal aku udah nganterin ke sana, untung aja ada orang baik yang mau gantiin pesanan tadi” ungkap gadis itu dengan menggebu-gebu.
“Tetep ya...masih ada untungnya” seloroh Reina yang di tanggapi kekehan oleh Nadia.
Dari arah belakang, Daniel datang setelah beberapa jam berada di gudang, ia melihat kekasihnya duduk seorang diri sembari memainkan ponsel. Laki-laki itu perlahan menghampiri Sarah yang tidak menyadari kedatangn laki-laki tampan itu, kepalanya menunduk fokus dengan layar benda pipih miliknya.
Saat Daniel menggeser kursi baru lah Sarah mendongakkan kepalanya, dan menyunggingkan senyum manis ke arah Daniel.
“Udah lama kamu di sini?” tanya laki-laki itu lembut.
“Hemmm kira-kira kalau aku nunggunya sambil nyabutin rumput di halaman depan, pasti udah bersih tuh halaman” seloroh Sarah yang di tanggapi senyuman oleh Daniel.
__ADS_1
“Kamu udah tahu tentang mas Zen?” tanya Daniel lagi.
selamat membaca teman-teman semuanya...