CINTAI AKU SELAMANYA

CINTAI AKU SELAMANYA
BAB 60


__ADS_3

Setelah mengantar Reina, Zen tak langsung menuju ke perusahaan, di tengah jalan ia di telepon ayahnya untuk


berangkat bersama, akhirnya Zen putar balik ke rumah ayahnya. Hanya  butuh waktu setengah jam bagi Zen untuk


sampai di rumah ayahnya. Laki-laki itu memarkirkan mobilnya terlebih dulu di garasi baru lah ia turun dan langsung masuk ke dalam rumah.


Di dalam Marlon dan Yongki sudah menunggunya di ruang tamu, saat anaknya masuk ke dalam pria paruh baya itu


terkesima dengan penampilan anaknya yang mamakai jas lengkap dengan tatanan rambut klimisnya.


“Ternyata anak ayah ganteng juga” puji Marlon sambil memandang Zen dari ujung kaki sampai ujung rambut.


“Dari dulu ayah kemana aja, kalau anak ayah nggak ganteng Reina nggak akan sebucin itu sama Zen” timpalnya dengan nada sombong.


“Bukannya kebalikannya ya, kamu yang bucin sama Reina” Zen tersenyum saat ayahnya mengatakan itu, selama ini memang dia yang tergila-gila pada Reina.


Marlon, Zen dan Yongki kemudian berjalan keluar  dan masuk ke dalam mobil yang sudah terparkir d depan.


“Udah siap Zen?” tanya Marlon dengan matanya memandang lurus menatap anaknya yang duduk di sampingnya.


“Siap nggak siap ya harus siap yah” ujarnya dengan menghela napas dalam.


Marlon tersenyum, lalu menyuruh Yongki untuk menjalankan mobilnya. Selama perjalanan Zen hanya diam dengan pandangan ia arahkan keluar jendela, sedangkan Marlon sibuk dengan ponselnya.


Tak butuh waktu lama, akhirnya mereka pun sampai di perusahaan. Saat tiba mereka di sambut oleh para karyawan yang berdiri berjejeran di lobi perusahaan. Zen dan Marlon keluar dari mobil, para karyawan menyambut kedatangan presdir baru, mereka terkesima dengan penampilan Zen yang mengeluarkan aura kharismatik saat ia melangkahkan kakinya ke dalam.


“Ternyata anak pak Marlon ganteng banget” bisik salah satu karyawan kepada teman kerja yang berdiri di sampingnya.


“Iya, aku nggak akan nolak kalau tiap hari di suruh lembur, biar tiap hari bisa melihat wajah gantengnya” ujar


temannya yang lain.


"Bakalan tambah semangat nih kerjanya" sahut yang lainnya lagi.


Zen berjalan melewati para karyawan seraya melempar senyum tipis dengan kepala sedikit menunduk, para


karyawan membalas senyuman Zen dan menunduk hormat saat laki-laki tampan itu berjalan di depan mereka.

__ADS_1


“Ini ruangan kamu” Marlon membuka pintu berwarna cokelat lalu melangkah ke dalam diikuti Zen d belakangnya.


Zen mengedarkan pandangannya menatap sekeliling ruangan yang di dominasi warna abu-abu. Sepertinya pria tua


itu sudah mempersiapkan ruangan ini dengan sempurna seperti ruangan kerja Zen di kafe. Ia ingin putranya nyaman di tempat kerjanya yang baru.


Zen tersenyum “ayah memang tahu seleraku” tuturnya memberi pujian.


Zen memulai pekerjaannya dengan berkeliling di perusahaan di temani Yongki, agar lebih mengenal mengenai seluk beluk perusahaan. Dan tempat terakhir yang Zen datangi adalah kantin, ruangan luas dengan tatanan meja dan kursi yang tersusun rapih mengingatkannya pada Coffee Story.


“Ayo kembali ke atas, aku nggak bisa lama-lama di sini” ucap Zen yang langsung pergi menuju ruangannya yang


berada di lantai paling atas.


Yongki tahu maksud dari kata-kata Zen, ia pun kemudian mengikuti atasan barunya menuju ruang kerjanya.


\~\~\~


Sementara di tempat lain, Reina duduk di kantin seorang diri, ia sedang menunggu kedatangan sahabatnya yang tak kunjung datang.


“Sarah kemana sih, kenapa lama banget’” gerutunya sambil melirik ke arah jam yang melingkar di tangan kirinya.


“Emang lo habis makan apa sih?”


“Semalem gue di ajak makan pecel lele di tempat yang biasa mas Daniel makan, sambalnya enak banget, gue sampai lupa kalau habis makan pedes, gue pasti langsung diare” ungkapnya dengan memegang perut yang masih terasa tak nyaman. Reina memandangi Sarah sambil geleng-geleng kepala.


“Ya udah yuk, kita jalan sekarang” ajak Reina, mereka berdua keluar dari kampus dan berjalan menuju kafe.


Dengan langkah berat Reina masuk ke dalam menuju ruang ganti dan saat melewati ruangan kerja Zen, gadis itu menghentikan langkahnya, ia menatap ke dalam ruangan yang sepi. Helaan napasnya terasa berat, biasanya ia melihat kekasihnnya duduk di belakang meja sambil menatap laptop di depannya, sekarang ruangan itu kosong.


Sebenarnya Zen sudah menyuruh Daniel untuk pindah ke ruang kerjanya, namun laki-laki itu menolak dengan


alasan ia sudah nyaman di ruangannya yang sekarang. Maka dari itu ruangan yang di dominasi dengan cat warna abu-abu tersebut di biarkan kosong.


Daniel yang sedang berjalan melihat Reina diam mematung di tempatnya berpijak sambil menatap ke arah ruangan Zen. Laki-laki itu kemudian menghampiri anak buahnya.


“Kamu lagi ngapain Rei?” suara Daniel mengagetkan Reina.

__ADS_1


“Mas Daniel” ucapnya sambil memegang dadanya karena terkejut.


“Kangen sama mas Zen” seloroh Daniel yang membuat Reina malu. Ia hanya tersenyum lalu meninggalkan Daniel


begitu saja.


Setelah Reina pergi ke ruang ganti, Daniel masih berdiri di depan ruang kerja bosnya itu, biasanya ia melihat bosnya duduk di dalam sana, tapi sekarang tempat itu kosong. Lalu Daniel membalikkan badan menuju ruang kerjanya sendiri.


\~\~\~


Pukul 22.00 malam Reina yang pulang dari kafe berjalan seorang diri menuju halte bus. Ia duduk di bangku


panjang menunggu bus datang. Saat Reina sedang asyik memainkan ponselnya suara laki-laki yang tak asing di telinganya memanggil namanya dari dalam mobil yang ternyata sudah terparkir di halte.


Reina mendongakkan kepalanya dan tersenyum sumringah saat melihat Zen di dalam mobil tersebut. Gadis itu


langsung bergegas masuk ke dalam mobil dan duduk di samping Zen. Kemudian Laki-laki itu langsung menjalankan mobilnya pulang ke apartemen.


Sesampainya di apartemen Reina yang baru saja melangkahkan kakinya ke dalam, terkejut saat Zen menarik tangannya hingga membuatnya terjatuh dalam dekapan laki-laki tampan itu.


“Aku kangen banget sama kamu” ucapnya sambil mengelus rambut panjang Reina yang teruarai.


Reina membalas pelukan Zen, melingkarkan tangannya ke punggung laki-laki itu dan memeluknya erat.


“Aku juga kangen sama mas Zen, biasanya aku lihat kamu di kafe, tapi sekarang nggak” ungkapnya jujur, tak


memungkiri mungkin karena kebiasaan bertemu di tempat kerja membuat mereka merasa kehilangan satu sama lain.


Zen melepaskan pelukannya, fokusnya beralih melihat bibir Reina yang selalu membuatnya candu. Tanpa basa


basi Zen langsung mencium  bibir Reina dengan lembut, bibir yang selalu ia rindukan untuk melahapnya. Reina


melingkarkan tangannya ke leher Zen, menikmati setiap ciuman yang dilakukan kekasihnya.


Makin lama ciuman Zen semakin dalam dan terkesan menuntut, peralahan Zen mangarahkan tubuh Reina ke atas sofa di ruang tamu tanpa melepaskan pagutannya. Reina pasrah saja dengan apa yang di lakukan Zen karena ia pun menikmatinya.


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian di bawah 👇👇👇

__ADS_1


Terima kasih...


__ADS_2