CINTAI AKU SELAMANYA

CINTAI AKU SELAMANYA
BAB 25


__ADS_3

“Panggil om aja Rei, biar enak di dengarnya” seloroh Marlon, matanya melirik sekilas ke arah Zen.


“Warren itu rekan kerja om kita sudah lama saling kenal, om kaget saat dengar kalau Warren mengalami kecelakaan padahal sehari sebelumnya kami bertemu, dan om nggak nyangka jika itu adalah hari terakhir om ketemu sama dia, Warren itu orang yang baik” ungkap Marlon.


Reina tersenyum mendengar Marlon berbicara tentang ayahnya, setidaknya masih ada orang yang ingat dengan


ayahnya, pikir Reina.


Tak berselang lama pelayan datang mengantarkan makanan sebelum Zen dan Reina datang, Marlon sudah memesan banyak makanan, karena bukan hanya dia dan Zen saja yang akan makan, ia juga tidak tahu makanan apa yang di sukai gadis incaran putranya itu.


“Wah banyak banget pesannya om” tutur Reina saat melihat meja makan penuh dengan berbagai macam hidangan yang membuat matanya terbelalak.


“Tadi Zen ngasih tahu om kalau dia nggak datang sendiri, dia bawa cewek cantik yang mau di kenalain sama om,


ternyata cewek yang di bawa anaknya Warren, kamu beda banget sekarang dulu om pernah lihat foto kamu di atas meja kerjanya Warren waktu masih kecil” ujar Marlon sembari menyantap makanan yang ada di atas meja.


“Ayah” seru Zen dengan wajah tersipu malu.


Reina melirik ke arah Zen yang duduk di samping ayahnya, terlihat jika anak dan ayah ini dekat satu sama lain


membuat Reina teringat kembali dengan ayahnya.


“Om sama Mas Zen kayaknya dekat sudah kayak temen” ujar Reina yang mengamati dua orang di depannya.


“Kamu orang yang kesekian kali berkata seperti itu” balas Zen.


Setelah mereka selesai makan dan berbincang Zen mengantar Reina pulang ke kontrakannya, dalam perjalanan pulang Zen sesekali menatap Reina yang diam tak bersuara, pandangannya menatap keluar jendela.

__ADS_1


“Kamu kenapa?” tanya Zen.


“Nggak apa-apa mas, ngelihat kamu dan Om Marlon dekat satu sama lain aku jadi keingat sama ayah” mata Reina mulai berkaca-kaca namun ia tetap berusaha menahan air matanya agar tak sampai jatuh membasahi pipinya itu.


Mendengar perkataan Reina membuat hatinya trenyuh, tanpa sadar Zen mengudarakan tangannya mengusap lembut puncak kepala Reina membuat gadis itu terhenyak seraya menatap Zen yang masih fokus mengemudi.


Tepat pukul 20.00 malam, Reina sampai di depan kontrakannya, gadis itu kemudian turun dari mobil Zen dan tak


lupa ia berterima kasih karena sudah mengajaknya makan dan mengantarnya pulang. Saat Reina membuka pintu gerbang, bosnya itu memanggil namanya.


“Tunggu Rei!" seru Zen seraya berjalan manghampiri Reina.


Reina membalikkan badannya dan menatap ke arah Zen yang berjalan semakin lama semakin mendekat, Zen menghentikan langkahnya ketika sudah berdiri di hadapan karyawannya itu. Cukup lama Zen menatap nanar mata Reina tanpa bersuara membuat gadis itu bingung.


“Ada apa? kok diem aja mas?” Tanya Reina.


Reina membelalakan matanya dengan mulut terbuka lebar, seakan tak percaya dengan apa yang di dengarnya.


“Mas Zen nembak aku?” tanya Reina dengan wajah polosnya.


Zen tersenyum seraya menganggukkan kepalanya “aku butuh jawaban kamu” ucap Zen.


“Aku nggak bisa jawab sekarang” kata Reina, gadis itu kemudian membalikkan badannya untuk masuk ke dalam, namun Zen meraih tangan Reina membuat gadis itu kembali membalikkan bandannya.


“Aku tunggu jawaban kamu besok” tegas Zen, kemudian ia melepaskan tangan Reina dan membalikkan badan berjalan ke arah mobil yang terparkir di depan.


Reina menatap kepergian Zen dengan jantung yang berdetak kencang, ia tak menyangka bosnya menembak dirinya, sejujurnya dalam hati Reina ada perasaan senang yang tak bisa di ungkapkan, diam-diam gadis itu juga menyukai bosnya hanya saja ia sadar diri, baginya Zen seperti langit yang tak mudah di gapai, perbedaan dirinya dan bosnya itu terlalu tinggi.

__ADS_1


\~\~\~


Pagi menjelang setelah bangun dari tidurnya, Reina bersiap-siap untuk berangkat kuliah, ia mengenakan celana


jeans dan kaos lengan panjang yang membalut tubuhnya. Saat ia keluar dari kontrakan dan berjalan ke pintu gerbang, ia melihat mobil Sarah yang baru saja tiba.


Sarah menurunkan kaca mobilnya dan melambaikan tangan ke arah Reina “masuk Rei” serunya.


Reina tersenyum dan berjalan menghampiri sahabatnya itu, gadis itu langsung masuk ke dalam mobil.


“Lo sengaja jemput gue?” tanya Reina menatap sahabatnya itu.


“Nggak, gue tuh nyasar” celetuk Sarah dengan mengerucutkan bibirnya membuat Reina terkekeh melihatnya.


Saat di dalam kelas Reina sama sekali tak mendengarkan ketika dosen sedang menjelaskan mata kuliah di depan, pikirannya di penuhi dengan kejadian semalam ketika Zen menembaknya, apalagi hari ini Zen meminta jawaban atas pengakuannya semalam.


“Rei, Rei, Reina!” panggil Sarah beberapa kali namun gadis cantik yang sedang melamun itu tak merespon panggilan sahabatnya, ia tetap berada di dunianya sendiri.


“Reina!” panggil Sarah lagi, kali ini Sarah memanggil seraya menepuk bahu gadis itu.


Reina menoleh ke arah Sarah dengan wajah tanpa ekspresi “apa Sar” sahutnya.


“Dari tadi gue panggil-panggil lo nggak denger, lagi ngelamunin apa sih?” tanya Sarah dengan nada kesal.


Reina merespon pertanyaan sahabatnya dengan gelengan, kemudian ia beranjak dari duduknya dan berjalan keluar kelas, Sarah yang melihat kelakuan sahabatnnya hanya geleng-geleng kepala.


“Itu anak lagi kenapa sih?” gumam Sarah sendiri, ia pun mengikuti Reina berjalan keluar kelas.

__ADS_1


__ADS_2