
Zen yang tengah duduk bersandar di kursi, di kejutkan dengan kedatangan Alex secara tiba-tiba ke kantornya, dengan tatapan mata yang tajam, dan tangan mengepal kuat Alex datang penuh amarah.
“Zen Marlon” teriak Alex.
Zen masih bersikap biasa saja, ia tak terlalu memperdulikan sikap Alex yang menerobos masuk ke kantornya. Karena laki-laki itu tahu kenapa om dari calon istrinya itu datang. Dengan sikap tenangnya Zen menanyakan kedatangan Alex yang langsung menerobos masuk bahkan tanpa permisi terlebih dulu.
“Kau membuat ku kehilangan semuanya” gemuruh perasaan Alex memuncak, saat perusahaannya harus mengalami krisis keuangan.
“Bukannya itu salah anda sendiri, uang perusahaan malah di buat untuk foya-foya, bahkan proyek kerja sama kita
tak bisa di lanjutkan juga karena anda, tapi sekarang anda malah menyalahkan saya” balas Zen yang membuat Alex terdiam.
Namun Alex tetap saja tidak terima, karena semua yang terjadi terasa janggal baginya, seperti sudah di rencanakan dengan matang, pria tua itu yakin Zen ada hubungannya dengan semua ini.
“Kalau tidak ada urusan lagi sebaiknya anda pergi, karena saya masih banyak pekerjaan” dengan halus Zen
mengusir Alex dari kantornya.
Alex menatap tajam ke arah Zen, dengan tangan mengepal kuat rasanya ia ingin sekali menghajar laki-laki yang
berdiri di depannya, karena sekarang ia berada di kantor Zen, pria tua itu urungkan niatnya, ia berbalik dan pergi keluar dengan membanting pintu.
Yongki yang berada di luar segera masuk ke dalam “mas Zen” panggilnya dengan wajah penuh kekhawatiran.
“Aku nggak apa-apa” balas Zen dengan senyuman tipis.
“Tapi sekarang kita harus lebih waspada, dia pasti merencanakan sesuatu untuk membalas kita” imbuh Zen lagi.
Laki-laki itu berdiri berjalan melewati Yongki sambil menepuk pundaknya.
Di kampus...
Reina ingin memamerkan cincin yang di berikan Zen pada Sarah, selangkah lagi hubungannya dengan Zen akan di resmikan, tapi kalau dia menikah dengan Zen siapa yang akan menjadi wali nikahnya nanti, sedangkan sekarang ayahnya sudah tidak ada, dan satu-satunya yang bisa menjadi wali nikahnya adalah Alex, adik kandung ayahnya, tapi hubungan mereka saja bermasalah.
“Hei! Ngapain lo bengong kayak gitu” Sarah yang baru saja datang mengagetkan Reina yang tenggelam dalam
lamunannya, gadis itu menatap Sarah lalu tersenyum. Tangannya mengudara sambil memamerkan cincin yang melingkar di jari manisnya itu.
“Sebentar lagi, gue punya sepupu baru nih” pungkasnya, Sarah mengambil tempat duduk di sebelah sahabatnya.
__ADS_1
Reina memandang tas yang di pakai Sarah, tas edisi terbaru yang masih sulit di dapatkan, tapi sahabatnya malah
sudah punya tas tersebut, hanya orang-orang tertentu yang bisa mendapatkannya.
Sarah yang sadar Reina memperhatikan tasnya, akhirnya gadis itu pun memberitahu jika Zen yang
memberikannya sebagai hadiah karena membantunya.
“Jadi karena cincin ini” Reina terhenyak ketika Sarah memberitahu alasan Zen memberikan tas mahal itu.
Reina sedang mengeluarkan satu per satu belanjaan dari kantong plastik yang baru saja di belinya di supermaket
ketika Zen baru saja pulang, laki-laki itu langsung menghampiri kekasihnya dan tak lupa meninggalkan jejak di bibir ranum kekasihnya. Wajah lelahnya nampak jelas terlihat saat Zen mendudukkan tubuhnya di kursi yang ada di dapur.
Melihat kekasihnya yang kelelahan, Reina mengambil segelas air dan memberikanya pada Zen “Minum dulu mas” ucapnya sambil menyerahan gelas tersebut, ia kemudian duduk di samping Zen.
“Makasih ya Rei” tutur Zen ketika telah menghabiskan air di dalam gelas dan meletakkanya di atas meja.
“Alex datang ke kantor dan langsung marah saat tahu kontrak kerja samanya di batalkan, itu juga akibat ulahnya sendiri, dia menyuap pejabat setempat, agar mendapat izin membangun di tempat itu” tutur Zen memberitahu Reina, gadis itu menatap ke arah Zen dengan menyunggingkan seulas senyum.
“Kenapa kamu ngelihatin aku kayak gitu?” tanya laki-laki itu heran.
“Udah sana, kamu mandi dulu, aku mau nyiapin makan malam buat mas” Reina beranjak dari duduknya menuju dapur.
Lima belas menit kemudian, Zen keluar dari kamar setelah selesai membersihkan diri, laki-laki itu berjalan menuju balkon dan berdiri di sana. Pandangannya menatap jauh ke depan melihat sekeliling apartemennya yang tampak lampu-lampu berkelap-kelip menambah keindahan malam.
“Mas Zen, ayo kita makan” ajak Reina dari ambang pintu, Zen mengangguk kemudian menyusul gadis itu yang
berjalan lebih dulu di depannya.
Tak ada obrolan yang terjadi selama mereka makan, hanya suara dentingan sendok dan garpu yang saling
bartautan, setelah selesai makan gadis itu membereskan meja dan membawa piring kotor untuk di bersihkan di tempat pencucian piring, sedangkan Zen kembali ke dalam kamar.
Selesai mencuci piring, Reina berjalan menuju kamarnya, tapi saat akan menutup pintu Zen menghalanginya.
__ADS_1
“Mas Zen” seru Reina, ia pikir kekasihnya sudah tidur di kamarnya sendiri.
Zen melangkah masuk dan langsung menuju ranjang yang ada di depan sana, laki-laki itu lalu duduk di tepian ranjang, seperti biasa sebelum tidur Reina melakukan ritual malamnya menggunakkan skincare agar wajahnya tetap terjaga. Dari atas ranjang, Zen memperhatikan apa yang dilakukan kekasihnya itu sampai Reina menyelesaikan ritualnya.
Reina menyibakkan selimut dan membaringkan tubuhnya di atas kasur dengan posisi membelakangi Zen yang duduk di sampingnya. Reina tersentak saat merasakan tangan kekar melingkar di perutnya, Reina bahkan bisa merasakan hembusan napas Zen mengenai tengkuk lehernya membuat tubuhnya merinding.
“Kamu harus hati-hati ya Rei, aku takut Alex akan berbuat sesuatu sama kamu” bisik Zen dengan suara lirih, entah kenapa Zen merasakan ada sesuatu yang buruk akan terjadi, apalagi setelah membuat Alex hampir bangkrut, Zen memang sengaja membuat Warren Holding kehilangan segalanya agar ia bisa mengakuisisi perusahaan tersebut.
Akan mudah baginya untuk mengambil alih Warren Holding dari tangan Alex, tapi Zen khawatir apa yang di
lakukannya akan membahayakan Reina. Ia tahu Alex pria tua yang licik, ia bahkan tega mengambil warisan yang seharusnya menjadi milik Reina.
Itulah mengapa sedari tadi Zen lebih banyak diam, Yongki pun sudah mengingatkan Zen agar dirinya berhati-hati
pada Alex, bahkan laki-laki itu mengusulkan menyewa pengawal untuk melindungi Reina.
“Jadi dari tadi mas diam, sedang memikirkan hal ini” pungkas Reina seraya membalikkan tubuhnya menghadap
kekasihnya itu.
Zen mengangguk pelan, lalu mendaratkan kecupan lembut di kening Reina “mas hanya khawatir, bukannya kamu
pernah bilang, dia bisa melakukan apa saja yang bisa membahayakan orang lain”
“Mas Zen jangan khawatir, aku bisa melindungi diri ku sendiri” tandasnya, Reina menempelkan tubuhnya pada Zen
hingga tak ada sekat yang menghalangi mereka, bahkan Zen bisa merasakan dua bukit kembar kekasihnya itu menempel padanya membuat jiwa kelelakiannya terbangun.
“Kamu sengaja ya godain aku” Zen tersenyum smirik, ia lantas mengubah posisi tubuhnya kini sudah berada di atas
tubuh Reina.
“Mas Zen mau ngapain?” tanya Reina dengan wajah memerah, ia tahu apa yang selanjutnya akan di lakukan oleh
kekasihnya itu.
Zen mendekatkan wajahnya ke wajah Reina lalu mengecup mesra bibir kenyal kekasihnya itu, “tunggu-tunggu” ucap gadis itu saat bibir Zen mulai menjalar ke bagian leher dan dada.
“Ada apa?” tanya Zen yang kesal, karena Reina menghentikkan kesenangannya.
__ADS_1
“Aku lagi datang bulan” tutur Reina memberitahu dengan senyuman canggung, mendengar hal itu Zen menghela napasnya dalam dengan wajah kecewa laki-laki itu turun dari atas tubuh Reina dan menjatuhkan tubunya di samping, lalu menutup seluruh tubuhnya dengan selimut. Melihat kelakuan kekasihnya membuat Reina terkekeh dengan tingkah lucu Zen yang sedang ngambek.