CINTAI AKU SELAMANYA

CINTAI AKU SELAMANYA
BAB 44


__ADS_3

Setelah kuliah selesai, Reina dan Sarah berjalan beriringan menuju kafe yang jaraknya tidak jauh dari kampus,


mereka berjalan di trotoar sambil mengobrol hingga tak terasa jika kedua gadis itu sudah tiba di depan kafe. Ada perasaan gelisah saat Reina melihat pintu kafe yang terbuat dari kaca itu, dia membayangkan saat kakinya melangkah masuk ke dalam dan bertemu dengan Zen, apa yang akan terjadi nanti karena tadi pagi saja mereka tidak bertemu.


Reina berdiri mematung cukup lama di depan pintu, posisi Sarah yang sudah berada di depan menghentikan langkahnya dan menengok ke belakang.


“Kamu kenapa Rei?” tanya gadis itu heran.


“Nggak apa-apa, ayo masuk” mereka melangkah masuk ke dalam, di sana hanya ada Nadia yang tengah melayani


pelanggan, sedangkan sang manager kafe dan ownernya tidak terlihat batang hidungnya, kafe terpantau sepi hanya ada beberapa pelanggan yang datang dan duduk di meja masing-masing.


“Kamu sendirian Nad, yang lain pada kemana?” tanya Sarah. Sedangkan Reina langsung ke ruang ganti untuk memakai seragam.


“Mas Daniel sama Mas Zen lagi ke gudang” sahut Nadia.


Setelah Reina selesai mengganti seragam, gadis itu berjalan menuju pintu dan membukanya, tak di sangka Reina


dan Zen berpapasan di luar pintu, gadis itu terlihat gugup dan hanya memandang laki-laki itu sambil menyunggingkan senyum, nanum Zen malah memperlihatkan wajah dingin, laki-laki itu berlalu pergi meninggalkan Reina yang masih berdiri di ambang pintu.  Daniel yang keluar belakangan dari gudang melihat dua sejoli yang tidak saling bertegur sapa dari kejauhan.


“Ada apa dengan mereka” gumamnya dengan kening berkerut.


Reina menghela napas panjang, ini baru pertama kalinya semenjak mereka menjalin hubungan Zen dingin padanya, gadis itu kemudian keluar setelah menutup pintu dan berjalan menuju meja bar untuk berganti tugas dengan Nadia.


Sarah dan Nadia yang ada di depan memandang aneh ketika melihat Reina datang dengan wajah lesu. Reina menyungging kan seulas senyum tipis menyapa mereka, kemudian ia mengambil apron miliknya yang tergantung di dinding dan memakainya.

__ADS_1


Reina kenapa ya?” tanya Nadia kepada Sarah.


“Aku juga nggak tahu, tadi waktu datang ke sini dia masih baik-baik aja” sahut Sarah.


Reina terlihat sedang membersihkan meja, setelah pengunjung pergi meninggalkan kafe, kemudian dari arah pintu masuk, datang Vira dan juga temannya berjalan melewati Reina, Vira bahkan tak menyapa sepupunya itu. Reina pun diam saja seolah tak peduli, ia tetap sibuk dengan pekerjaannya.


“Selamat siang mba mau pesan apa?” sapa Nadia dengan sopan.


“Ice Americano 1, Ice Vanilla Latte 1 ya...” ucap Vira, gadis itu celingak-celinguk seperti mencari seseorang.


Setelah meracik pesanan Vira, Nadia kemudian memberikan dua cup es kopi kepada perempuan yang ada di


depannya.


“Ngapain dia nyariin mas Zen” batin Nadia.


“Ngapain lo nanyain mas Zen” sergah Sarah yang duduk tidak jauh dari tempat Vira berdiri. Gadis itu kemudian


beranjak dari duduknya dan menghampiri Vira.


“Suka-suka gue dong, lagian lo tuh siapa sih ikut campur aja” ucap Vira dengan nada kesal.


“Gue sepupunya, mau apa lo” sahut Sarah dengan gaya terkesan menantang gadis yang berdiri di depannya.


Zen kemudian keluar bersama Daniel dari ruang kerjanya lalu melihat Sarah dan Vira yang sedang bersitegang

__ADS_1


di depan meja bar.


“Ada apa ini?” Zen bertanya pada Sarah dan Nadia, ia mengindahkan gadis yang tersenyum mani smencari perhatian padanya.


“Hai mas Zen” sapa Vira tersenyum sambil melambaikan tangan.


Laki-laki itu bahkan tak memperdulikan sapaan Vira, ia malah memandang Reina yang sedang membersihkan meja, gadis itu tampak tak peduli dengan yang terjadi di sekitarnya. Kemudian dari luar datang lelaki tampan yang pernah berkunjung ke kafe, laki-laki itu masuk ke dalam dengan cara jalannya yang gagah membuat pengunjung terutama perempuan tak berkedip melihatnya.


“Itu kan laki-laki yang pernah ketemu Reina di toko buku” tutur Sarah, ia yakin pernah melihatnya saat Reina


mengobrol dengannya. Zen terus memandangi laki-laki yang berjalan mendekat ke arah kekasihnya.


Laki-laki itu berjalan menghampiri Reina “Hai Reina” sapanya sambil menyunggingkan seulas senyum di bibirnya.


Reina yang tengah sibuk mengusap meja dengan lap mendongakkan kepalanya dan menatap laki-laki yang menyapa dirinya.


“Anda” sahut Reina yang heran.


Zen yang tak suka ada laki-laki mendekati kekasihnya langsung melangkahkan kakinya menghampiri Reina dengan


tatapan mata yang tajam.


“Rei” panggil Zen. Reina menoleh mendengar kekasihnya memanggil namanya, kini gadis itu berdiri di antara dua


laki-laki tampan. Sarah dan yang lainnya hanya memandangi mereka dari jauh.

__ADS_1


__ADS_2