CINTAI AKU SELAMANYA

CINTAI AKU SELAMANYA
BAB 63


__ADS_3

Reina berjalan lurus tanpa tengok ke kanan maupun ke kiri, padaahal dari luar ia sudah tahu di mana Alex duduk


tapi ia pura-pura tidak melihatnya. Reina menghampiri Daniel dan juga Nadia yang berdiri di belakang meja kafe.


“Kenapa kamu balik Rei” Daniel menatap Reina dengan sorot mata tajam, ia tak habis pikir dengan apa yang ada


di benak anak buahnya itu.


“Aku penasaran untuk apa om Alex nyari aku lagi” tutur Reina, ia berjalan ke sudut meja untuk mengambil minum.


Saat Reina tengah meneguk minuman, asisten Alex datang menemui dirinya dan memintanya untuk ikut


dengannya ke meja Alex. Reina menganggguk menyetujui permintaan asisten Alex, saat Reina memperhatikan wajah asisten Alex dengan seksama ia baru menyadari jika pernah bertemu dengan laki-laki itu beberapa kali.


Reina berjalan di belakang Damian menghampiri Alex yang tengah terduduk sambil menikmati kopi pesanannya.


“Duduk Rei” titah Alex pada keponakannya, dengan wajah dingin Reina menuruti Alex duduk dihadapan omnya.


“Ada apa om nyari Reina, om masih belum menyerah membuat Reina untuk menandatangani dokumen” ucap gadis itu dengan penekanan langsung ke intinya, ia tak suka basa basi bila berbicara dengan Alex.


“Itu udah nggak penting lagi, sudah lama om duduk di sini, kenapa nggak lihat bos kamu”


Reina mengerutkan keningnya “kenapa tiba-tiba om alex nanyain mas Zen” batinnya. Entah mengapa Reina punya firasat tidak enak mengenai ini, apalagi Zen pernah memukul Alex saat laki-laki itu menyelamatkan dirinya. Alex orang yang licik, ia bisa melakukan apa pun yang diinginkannya.


“Dia udah nggak di sini” tutur gadis itu.


“Maaf om Reina masih banyak kerjaan” gadis itu beranjak dari duduknya dan pergi meninggalkan Alex begitu saja, ia tak ingin berlama-lama berbicara dengan omnya itu. Sebisa mungkin jangan lagi berurusan dengannya.


Alex hanya menatap Reina yang berjalan menjauh darinya dengan memiringkan sudut bibirnya, entah apa yang di


pikirkannya sekarang. Setelah itu ia bangun dan berjalan keluar kafe bersama Damian asistennya.


Daniel menatap Reina dengan raut wajah penuh tanda tanya, semenjak bosnya menyerahkan tanggung jawab kafe


padanya, tidak hanya kafe saja yang harus ia perhatikan, para pegawainya pun juga, apalagi Reina mungkin suatu saat gadis bertubuh ramping itu akan menjadi istri bosnya.


“Nggak ada masalah kan Rei?”


“Nggak ada kok mas, om Alex datang bukan karena pengen ketemu aku, tapi dia malah nanyain mas Zen” terang

__ADS_1


Reina, ia juga bingung untuk apa omnya itu menanyakan Zen.


Di perusahaan...


Zen duduk di kursi kerjanya dengan kaki bertumpu di atas kaki yang satunya, jarinya yang tak mau diam terus


mengetuk-ngetuk meja. Dengan tatapan matanya menatap lurus ke arah layar laptop di depannya.


Dari luar Yongki masuk setelah sebelumnya ia mengetuk pintu terlebih dahulu, laki-laki berlesung pipi itu


menyerahkan dokumen yang berisi kontrak kerja sama dengan perusahaan Warren Holding, perusahaan yang dulu milik ayah Reina namun sekarang berada di bawah kendali Alex  adik kandung Davindra Warren.


“Ini mas Zen, dokumen yang anda minta” Yongki menyerahkan dokumen tersebut pada Zen, sebagai informasi, Zen


tidak mau di panggil pak oleh Yongki saat mereka hanya berdua saja, ia lebih suka jika di panggil mas, (ada-ada ja ya si Zen ini).


Zen membuka lembar tiap lembar dokumen tersebut “atur pertemuan dengan presdir Warren Holding” perintahnya


kemudian ia menutup dokumen tersebut.


“Baik mas Zen” yongki membalikkan badannya dan berjalan keluar meninggalkan ruangan bosnya.


Laki-laki itu beranjak dari duduknya dan berjalan perlahan menuju dinding kaca yang ada di belakangnya, ia berdiri dengan tangan bersilang di dada dan matanya menerawang jauh keluar menatap gedung pencakar langit yang ada di sekitar perusahaannya.


“jam segini, Reina pasti sedang sibuk” Zen melirik jam yang melingkar di tangan kirinya, merasa matanya berat,


ia membalikkan badan dan berjalan keluar. Zen menuruni lift menuju kantin.


“Lihat itu presdir ganteng kita, wah mimpi aku semalam sehingga hari ini bisa bertemu dengan pak Zen” celetuk


salah satu karyawan yang sedang duduk di kantin.


“Nggak usah ngarep pak Zen mau memperhatikan kita, aku dengar dari karyawan yang bertugas di bagian resepsionis setiap hari ada perempuan yang selalu mengantarkan kopi, dan dia selalu naik ke ruangan kerja pak Zen” tuturnya memberitahu temannya jika lebih baik jangan terlalu berharap untuk bisa dekat dengan atasannya itu, kalau hanya sekedar mengagumi tidak masalah, tapi jangan pernah mengharapkan untuk bisa dekat dengannya.


“Masa pak Zen pacaran sama perempuan pengantar kopi” kata temannya yang tidak percaya. Ia beranggapan jika


bosnya itu harusnya pacaran denagn perempuan cantik yang sepadan dan berkelas, bagaimana mungkin pacarnya malah tukang antar kopi.


“Husss diam! Entar pak Zen denger bisa bahaya kita”

__ADS_1


Zen duduk di kursi yang berada di tengah, kemudian seorang petugas kantin datang menghampirinya. Ada perasaan was-was yang di rasakan oleh pegawai kantin itu, karena semenjak Zen menggantikan ayahnya menjadi presdir, baru kali ini ia datang ke kantin.


“Pak Zen ada yang bisa saya bantu” ucap pelayan itu dengan hati-hati.


“Tolong buatkan saya secangkir kopi” sahut Zen dengan tersenyum, membuat pelayan itu langsung terperanjak


karena terpesona ketampanan bosnya itu.


“Ba...Baik pak Zen” pelayan itu bahkan berbicara dengan terbata.


Yongki yang baru saja masuk ke ruangan Zen mengedarkan pandangan mencari keberdaan bosnya, karena laki-laki itu tidak ada di tempatnya, ia kemudian kembali keluar. Saat Yongki menutup pintu, dari arah belakang terdengar suara laki-laki yang memberitahu Yongki jika bosnya tengah duduk di kantin seorang  diri.


Mendengar hal itu, Yongki buru-buru berjalan untuk menyusul bosnya ke kantin, biasanya Zen selalu memintanya


untuk membuatkan kopi, tapi sekarang laki-laki itu malah pergi sendiri ke kantin.


“ini pak Zen kopinya” ucap pegawai kantin tersebut, seulas senyum terukir di bibirnya, ia berharap pemilik


perusahaan tempatnya bekerja mau meliriknya walaupun hanya sekilas.


“Terima kasih” ucap Zen , tak lupa laki-laki itu melempar senyum ke arah pegawai kantin itu.


Hanya dengan mendapat senyuman dari Zen membuat pegawai itu klepek-klepek tidak karuan, ia tidak menyangka


mendapat senyuman manis dari atasannya yang terkenal tampan itu.


Tak lama, Yongki pun datang dengan wajah cemas. Laki-laki itu berjalan menghampiri Zen yang menjadi pusat


perhatian para pegawainya yang berada di kantin.


“Mas Zen kenapa nggak ngomong saya, kalau anda mau kopi” tutur Yongki yang merasa tidak enak.


Zen menanggapi Yongki hanya dengan tersenyum, ia kemudian meminta asisten ayahnya itu untuk menemaninya


duduk.


Selamat membaca teman-teman


jangan lupa like dan komennya ya...

__ADS_1


__ADS_2