CINTAI AKU SELAMANYA

CINTAI AKU SELAMANYA
BAB 74


__ADS_3

Seperti biasa sebelum Zen pergi ke kantornya, ia mengantar Reina terlebih dulu ke kampus. Saat akan turun dari mobil ritual nya gadis itu selalu meninggalkan jejak kecupan di bibir seksi kekasihnya,. jika tak di lakukan Zen pasti tak akan memperbolehkannya turun.


Zen memang semaunya sendiri, setelah sampai di kantornya laki-laki itu turun dan berjalan menuju ruangan kerjanya yang berada di lantai paling atas.


Saat baru saja ia duduk, Yongki masuk ke dalam dengan setumpuk pekerjaan yang sudah menunggunya.


"Baru juga datang" ujar Zen dengan tatapan tertuju pada tumpukan berkas yang ada di tangan Yongki.


"Selamat menikmati mas Zen" ucap laki-laki itu sebelum keluar dari ruangan bosnya dengan seulas senyum tipis.


Zen menghela napas dalam sambil menyenderkan punggungnya di sandaran kursi.


Mengingat kembali saat ia masih menjadi owner di Coffee Story, tak ada tumpukan berkas sebanyak ini, tapi lagi-lagi bayangan itu buyar menghilang begitu saja jika memikirkan Reina, gadis yang menjadi prioritas utamanya sekarang.


*


Di kampus...


Reina tengah duduk di sudut ruangan perpustakaan seorang diri, di temani banyaknya tumpukan buku yang berserakan di depannya, ia masih mengerjakan tugas kuliah yang masih belum selesai. Tangannya bergerak ke sana ke sini menulis sesuatu di bukunya, sesekali ia meregangkan otot tangannya yang pegal.


Sarah yang baru saja keluar dari toilet segera menyusul sahabatnya di perpustakaan, ia juga belum menyelesaikan tugasnya.


"Rei" panggil Sarah dengan suara pelan saat gadis itu baru saja menginjakkan kakinya di dalam perpus, tentu saja Reina tak mendengar suara sahabatnya itu karena ternyata telinganya di sumpal dengan aipod, sambil menulis agar tak bosan gadis itu mendengarkan musik yang di sambungkan dengan ponselnya.


Sarah duduk di samping sahabatnya tapi Reina masih belum sadar, ia tetap fokus menulis, hingga akhirnya karena gemas Sarah mengambil aipod yang menempel di telinga Reina lalu memanggil nama gadis itu barulah Reina menoleh dan tersenyum saat menatap wajah sahabatnya itu.


"Dari kapan Lo duduk di sini?" ujar gadis itu heran, karena ia tak merasakan kedatangan Sarah.


"Udah dari kemarin" jawab Sarah asal yang di tanggapi Reina dengan senyuman tipis terukir di bibirnya.

__ADS_1


"Tugas lo udah selesai belum?" tanya Sarah, ia berharap bisa mengkopi tulisan Reina.


"Belum" jawabnya cepat. "Udah buruan Lo ngerjain tugasnya, entar siang kan mau di kumpulin" imbuhnya lagi. Sarah pun bergegas mengerjakan tugasnya yang masih banyak.


Cukup lama keduanya berada di perpus hingga mereka lupa waktu, saat Reina mengecek jam yang melingkar di tangannya ternyata waktu sudah menunjukkan pukul 12 siang.


Untung saja tugasnya sudah selesai, Reina dan Sarah bergegas mencari pak Roy untuk menyerahkan pada dosennya itu.


Setelah itu mereka berjalan beriringan menuju gerbang kampus dan melanjutkannya ke kafe.


Daniel berada di depan pintu masuk saat Sarah dan Reina baru tiba di kafe, laki-laki itu tampak seperti sedang menunggu seseorang.


"Mas Daniel ngapain berdiri di situ?" tanya Sarah heran.


"Lagi nunggu Nadia, tadi dia nganter pesanan kopi tapi belum pulang-pulang" jawab Daniel. kelihatan dari raut wajahnya jika laki-laki itu khawatir dengan anak buahnya.


"Udah di telepon belum mas?" timpal Reina melanjutkan.


Reina mengambil ponsel dari dalam tasnya, mencoba menghubungi nomor Nadia, tepat seperti yang di katakan Daniel nomornya masih tak tersambung. Mereka bertiga sama-sama khawatir.


Dari arah depan suara motor datang, Nadia yang memakai helm tersenyum saat motornya melewati ketiga orang yang berdiri di depan kafe menuju parkiran. Gadis itu turun dari motornya dan berjalan menghampiri ketiganya.


"Pada ngapain ngumpul di sini?" tanya Nadia polos.


"Kamu dari mana aja Nad, kenapa baru datang" cecar Daniel dengan suara tinggi, bukan karena laki-laki itu marah tapi karena khawatir.


"Di telepon juga nggak di angkat" imbuhnya lagi.


"Maaf mas, tadi pas pulang ban motornya bocor, jadi aku bawa dulu bengkel, pas aku mau nelepon mas Daniel ngasih tahu, baterai aku malah habis" urainya panjang lebar, Nadia menundukkan kepalanya merasa takut saat menatap Daniel, ia mengira atasannya marah.

__ADS_1


Sarah mencoba memecah keadaan yang di rasa kurang enak, ia merangkul pundak Nadia dan mengajaknya masuk ke dalam.


"Mas Daniel nggak marah sama kamu, dia itu khawatir, takut terjadi sesuatu sama kamu" ucap Sarah mencoba menenangkan perasaan Nadia.


"Karena dia udah anggap kamu kayak adiknya sendiri jadi dia khawatir" lanjutnya lagi.


Nadia pun akhirnya mengerti, ia kemudian berbalik dan melangkah menuju ruangan kerja Daniel yang pintunya terbuka.


Gadis itu mengetuk pintu perlahan, dan langsung masuk ke dalam bahkan sebelum Daniel mempersilahkannya masuk.


Nadia berdiri tegak di depan meja bosnya seperti seorang murid yang sedang menerima hukuman.


Perlahan ia membuka mulutnya "mas aku minta maaf kalau udah buat mas Daniel khawatir" ucapnya seraya menatap lurus ke arah bosnya itu.


"Iya Nad, aku juga minta maaf, aku nggak marah sama kamu, semenjak Reina di bawa pergi sama orang waktu itu, aku jadi khawatir kalau ada anak buah ku yang tak kunjung kembali ke kafe" papar Daniel, kejadian Reina saat itu membuat laki-laki bertubuh kekar itu selalu berpikiran buruk.


Dua orang yang berada di dalam ruangan itu tak sadar bahwa ada dua gadis cantik yang sedang mendengarkan obrolan mereka dari balik pintu sembari senyum- senyum sendiri.


*


Sementara di tempat lain, Zen yang baru saja mengadakan rapat keluar dari ruangan itu, dengan langkah berat Zen melangkah kembali ke dalam ruangan kerjanya. Ia duduk di kursi kebesarannya sambil memainkan pulpen yang yang di ketuk- ketukkan di atas meja untuk memecah kebosanannya. Dari arah luar Yongki masuk ke dalam dan berjalan menuju meja kerja atasannya yang ada di depan sana.


"Mas, nanti malam ada acara makan malam yang diadakan IDOL Grup, ini undangannya" Yongki memberikan undangan berwarna biru itu kepada Zen.


"Boleh nggak kalau aku nggak usah datang" tawar Zen, dari dulu laki- laki itu memang tidak menyukai acara seperti ini.


Yongki menggeleng "mas bisa ngajak Reina" tuturnya memberi tahu.


Dalam sekejap raut wajah Zen langsung berubah, ia seperti baru mendapat lotre, senyum lebar terukir jelas dari sudut bibirnya. Kalau dia datang sendiri ia pasti akan merasa bosan.

__ADS_1


Zen mengambil undangan tersebut, lalu meminta Yongki menyiapkan pakaian untuknya dan juga Reina.


Yongki langsung keluar dari ruangan Zen untuk melaksanakan perintah laki-laki itu. Ia menghubungi salah satu butik langganan ayahnya Zen, dengan seorang desainernya yang mumpuni di bidangnya.


__ADS_2