CINTAI AKU SELAMANYA

CINTAI AKU SELAMANYA
BAB 24


__ADS_3

Reina memeluk David dan kemudian memeluk Riana, sebelum berangkat David berpesan agar Reina selalu berhati-hati dengan om nya yang bernama Alex, bila terjadi sesuatu ia ingin Reina menghubungi dirinya. Agar kakak angkatnya tidak merasa khawatir dengan dirinya, Reina pun berjanji akan selalu berhati-hati.


Reina menatap kepergian David dan Riana dengan wajah sendu, setelah pesawat yang di tumpangi David lepas landas Reina berbalik untuk meninggalkan bandara, baru saja ia berjalan sampai di lobi ada notifikasi pesan masuk ke benda pipih miliknya, Reina menghentikan langkahnya dan mengambil ponsel yang ada di dalam tasnya.


Pesan itu ternyata dari Daniel yang isinya memberitahu jika Zen menyusul ke bandara, membaca pesan masuk dari


managernya, Reina membuka matanya lebar ia cukup terkejut banyak pertanyaan yang menggelayuti pikirannya, “kenapa Mas Zen ke bandara? Apa dia mau jemput aku?”.


Zen mengemudikan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata, ia bahkan menyalip satu per satu mobil yang ada di depannya, berharap agar ia cepat sampai di bandara.


“Rei, aku harap kamu belum berangkat” gumam Zen, matanya tetap fokus menatap jalanan di depannya.


Setelah menempuh perjalanan yang cukup menguras tenaganya karena ia harus mencari jalan alternatif lain agar tak terkena macet akhirnya Zen sampai di bandara, setalah memarkirkan mobilnya ia langsung turun dan berlari masuk ke dalam bandara. Zen berdiri menatap papan informasi keberangkatan dan pesawat yang di tumpangi kakaknya Reina sudah lepas landas.


Zen mundur beberapa langkah badannya seakan lemas, ia kemudian mendudukkan tubuhnya dikursi yang ada di


area tunggu, ia menundukkan kepalanya dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya, Zen menyesal karena ia terlambat datang ke bandara dan tidak sempat bertemu dengan Reina.


Reina yang baru saja keluar dari toilet melihat sosok yang tidak asing di matanya, kemudian ia berjalan mendekat dan berdiri di depan laki-laki yang sedang tertunduk lesu itu.


“Mas Zen” seru Reina seraya menepuk pundak bosnya.


Zen mendongakkan kepalanya melihat Reina berdiri di hadapanya, ia langsung berdiri dan memeluk gadis cantik itu


membuat Reina mengerutkan kening karena merasa heran dengan kelakuan bosnya.


“Mas Zen kenapa?” tanya gadis yang berada dalam pelukan bosnya.


Zen melepaskan pelukannya lalu menatap wajah Reina dengan seksama “aku kira kamu udah pergi ningalin aku”

__ADS_1


tutur Zen.


“Ninggalin Mas Zen, emang Mas kira aku pergi kemana?”


“Bukannya kamu ikut David ke luar negeri”


Reina tersenyum ketika mendengar perkataan Zen, kemudian gadis itu menjelaskan jika ia memutuskan untuk tinggal dan tak ikut kakaknya ke luar negeri.


“Mas Zen tahu dari mana kalau Mas David ngajak aku ke luar negeri?”


Zen menggaruk kepalanya walau tak gatal, tidak mungkin baginya mengatakan kalau ia menguping pembicaraan Reina dengan sepupunya itu, akhirnya Zen berbohong dan mengatakan bahwa Sarah yang memberitahunya.


“Oh iya hari ini aku cuti jadi aku mau langsung pulang” tutur Reina memberitahu Zen.


“Dari pada kamu pulang mendingan ikut aku aja”


“Udah ikut aja” Zen meraih tangan Reina dan menggandengnya sampai ke parkiran.


Saat sudah duduk di dalam mobil, Reina menatap heran ke arah Zen yang sedang memakai safetybelt, ia merasa aneh dengan kelakuan bosnya hari ini.


“Kenapa dia tiba-tiba datang ke bandara terus meluk aku, udah gitu pas ke parkiran tangan aku di gandeng sama dia, maksudnya apa coba?” begitu banyaknya pertanyaan yang menggelayuti pikiran gadis cantik bertubuh tinggi semampai itu.


\~\~\~


Zen melajukan mobilnya menuju tempat janjian untuk bertemu dengan seseorang yang di kenalnya, tak berselang lama setelah melewati jalanan yang cukup lengang siang hari ini laki-laki itu menghentikan mobilnya di depan sebuah restoran mewah.


“Mas Zen mau ngajakin aku makan nggak perlu ke restoran semewah ini Mas, makan di warung pinggir jalan juga aku udah seneng” celoteh Reina saat mereka turun dari mobil yang membuat Zen terkekeh.


“Aku ke sini mau ketemuan sama orang penting sekalian makan juga karena ini sudah jam makan siang” sahut Zen

__ADS_1


yang masih terlihat kedua sudut bibirnya terangkat karena celotehan Reina.


“Kalau gitu aku nunggu di mobil aja Mas, takut ngeganggu”


“Masa iya aku tega ninggalin kamu di mobil, udah ayo ikut masuk” lagi-lagi Zen menggandeng tangan Reina dan


membawanya masuk ke dalam restoran mewah tersebut.


Saat mereka masuk ke dalam pelayan restoran yang berdiri di depan pintu tersenyum ramah menyambut dua


pelanggannya yang datang, Zen kemudian berbicara pada pelayan itu bahwa ia sudah membooking tempat atas nama Marlon Dave. Pelayan itu lalu mengantarkan Zen dan Reina ke tempat yang di maksud dan ternyata itu adalah ruangan VIP.


Zen dan Reina masuk ke dalam dan terlihat pria paruh baya yang kalau dilihat berusia sekitar 60 tahun sudah


menempati ruangan tersebut.


“Udah lama nunggunya yah” tutur Zen saat berjalan menghampiri Marlon yang sudah duduk menunggu kedatangan


putranya itu.


“Udah, sampai jamuran ayah nungguin kamu” seloroh Marlon yang membuat Zen tersenyum.


“Ayah” timpal Reina yang terkejut ketika tahu orang penting yang dimaksud bosnya adalah ayahnya.


“Oh iya yah kenalin ini Reina putrinya Om Warren”


Marlon berdiri dan mengulurkan tangan ke arah Reina dan dibalas hal yang sama oleh Reina.


“Bapak kenal ayah saya?” tanya Reina dengan raut wajah penuh pertanyaan.

__ADS_1


__ADS_2