CINTAI AKU SELAMANYA

CINTAI AKU SELAMANYA
BAB 51


__ADS_3

Reina membuka pintu dan melangkah masuk ke dalam ruangan yang luas, pandangannya menatap sekeliling ruangan yang dindingnya di dominasi warna coklat keemasan, di sudut ruangan terdapat lukisan seorang anak perempun yang hampir memenuhi tembok karena saking besarnya.


Reina menatap lekat lukisan itu, ia menyadari bahwa gadis yang berada di dalam lukisan itu tidak asing baginya.


“Mirip banget waktu aku masih kecil” batin Reina.


Dengan perlahan Reina melangkahkan kakinya mendekat ke arah meja yang ada di depan sana, gadis itu mengitari meja tersebut, langkahnya terhenti saat ai melihat sebuah bingkai foto yang terpajang di atas meja.


Matanya terbelalak sempurna saat melihat di dalam bingkai foto tersebut terpampang dirinya dan Warren ayahnya yang tersenyum, tak terasa buliran bening menetes di pipi mulusnya. Reina teringat kembali akan kenagan saat mengambil foto tersebut, kala itu dirinya sedang berada di taman bersama ayahnya.


Karena kesibukan Warren mengurus perusahaan membuatnya tak bisa meluangkan waktu untuk bermain dengan Reina. Namun saat itu tiba-tiba ayahnya menyusulnya ke taman dan menghabiskan seharian waktunya menemani Reina kecil bermain di taman. Kebahagiaan terpancar di raut wajah Reina, untuk mengenang momen langka tersebut, Warren menyuruh asistennya mengambil gambar mereka berdua.


Reina kemudian kembali menatap lukisan seorang gadis kecil itu, ia meyakini jika lukisan itu adalah dirinya.


Suara pintu terbuka membuyarkan lamunan Reina saat mengenang mendiang ayahnya, gadis itu mengalihkan


pandangannya menatap ke arah pintu yang baru setengah di buka. Reina meletakkan kembali bingkai foto di atas meja, kemudian gadis itu perlahan mengayunkan kakinya berjalan ke arah pintu.


 Orang yang berada di balik pintu tersebut melangkahkan kakinya masuk ke dalam Reina terhenyak saat orang itu berada di depannya.


“Om Alex” ucapnya heran sambil manautkan kedua alisnya.


“Buat apa om bawa Reina ke tempat ini?” sambung gadis itu lagi, ia tak menyangka bahwa om nya dalang di balik ini semua.

__ADS_1


“Tentu saja karena om membutuhkan bantuan mu, kalau kamu waktu itu mau menanda tangani dokumen yang om berikan, om juga nggak perlu bawa kamu ke sini” kata Alex, pria paruh baya itu kemudian berjalan menuju meja yang ada di depan dan mendudukkan tubuhnya di kursi.


“Jadi tanda tangan ku begitu penting, bukannya semua warisan ayah sudah om kuasai, ooh sepertinya belum


semuanya di kuasai oleh om” ujar Reina dengan senyum mengejek.


Alex mengepal erat salah satu tangannya, karena apa yang Reina katakan memang benar, pria paruh baya itu


masih butuh tanda tangan Reina sebagai pemegang saham terbesar perusahaan ayahnya. Namun sepertinya Reina tidak mengetahui hal itu.


\~\~\~


\~\~\~


“Jadi itu yang di namakan menara pandang bayangan?” tanya Zen pada Daniel sembari menatap menara itu dari dalam mobil.


“Iya mas” jawab Daniel, lelaki itu tetap fokus mengemudikan mobilnya.


“Kamu udah pernah kesana Niel?” tanya Zen lagi, karena heran dengan tempat tersebut, ia juga penasaran siapa orang yang membangun bangunan megah di tengah hutan, dan di maksudkan untuk apa?


“Mas sebentar lagi kita masuk kawasan villa, tapi kita nggak tahu Reina ada di villa yang mana, karena ada 4 villa yang di bangun di sana” ucap Daniel memberitahu.


“Kita juga tidak mungkin masuk satu per satu ke villa tersebut, kecuali kita berpencar mungkin akan lebih mudah untuk menemukan Reina” sambung Daniel lagi, Zen yang duduk di samping anak buahnya terlihat diam seperti sedang memikirkan sesuatu.

__ADS_1


“Kita pilih opsi kedua, berpencar” kata Zen, laki-laki itu menatap layar ponsel yang masih terhubung dengan nomor


Reina, namun tak ada suara yang terdengar dari sana.


Setelah sampai di kawasan villa mewah itu, Daniel memarkirkan mobilnya jauh agar tak ada orang yang melihat


kedatangan mereka. Kemudian mereka berpencar untuk mencari keberadaan Reina.


Di dalam villa Reina dan Alex masih memperdebatkan masalah tanda tangan, gadis itu bahkan terlihat menantang Alex dengan omongannya, sebenarnya ada rasa takut yang menggelayuti gadis itu, namun ia berusaha tetap tenang, ia berharap kekasihnya akan segera datang dan membawanya pergi dari tempat itu.


“Jadi kamu tetap tidak mau menandatangi ini?” Alex kembali bertanya kesekian kalinya pada keponakannya itu, namun Reina tetap pada pendiriannya, ia tak mau menandatangai.


“Jadi jangan salahkan om jika harus berbuat kasar pada mu” ucap Alex dingin.


\~\~\~


Di luar Zen berusaha menemukan Reina, ia bahkan sudah menggeledah villa yang pertama namun Reina tidak di


temukan, semua villa di sini terlihat sepi seperti tidak berpenghuni. Kemudian Zen masuk ke dalam villa yang lain, di sana ia menemukan petunjuk, ia melihat mobil yang di tumpangi Reina saat kekasihnya di bawa dua laki-laki berbadan kekar tersebut. Mobil itu terparkir di tempat tersembunyi.


jangan lupa like dan komennya ya...


terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2