CINTAI AKU SELAMANYA

CINTAI AKU SELAMANYA
BAB 52


__ADS_3

Zen mengendap-endap masuk ke dalam villa tersebut, ia juga melihat dua orang laki-laki yang terekam CCTV


bersama Reina masuk ke dalam mobil, mereka berdiri di depan sebuah ruangan dengan pintu berwarna cokelat keemasan.


“Mungkin Reina ada di dalam sana” gumam Zen. Laki-laki itu juga mengirim pesan pada Daniel agar pegawainya


menyusul dirinya ke villa di mana dirinya berada. Setelah mendapat pesan dari bosnya, Daniel pun segera menyusul ke villa tempat Zen berada, tapi anehnya villa tersebut tidak di jaga ketat, membuat Daniel berpikir mungkin orang yang membawa Reina ke sini tidak berniat untuk menculik kekasih bosnya itu.


Zen masih berdiri di balik dinding sambil mengamati keadaan sekitar, hanya ada dua penjaga di depan pintu,


sepertinya tidak terlalu sulit jika dirinya menerobos masuk ke ruangan tersebut.


\~\~\~


Sementara di dalam ruangan, Reina duduk di sofa sambil menatap Alex yang berdiri di depan sebuah lemari 4 pintu


yang terbuat dari kaca, pria paruh baya itu membuka lemari tersebut dan mengambil sebuah map berwarna merah. Setelah menutup pintu lemari, laki-laki itu berbalik dan melangkah perlahan mendekati Reina yang tengah duduk di sofa.


Alex mendudukkan tubuhya di sofa, kemudian mengeluarkan beberapa kertas dari dalam map tersebut lalu meletakkanya di depan Reina.


“Tanda tangani Rei” titahnya memaksa.


Reina melirik sekilas ke arah dokumen yang ada di depannya “apa dokumen ini ada hubungannya dengan perusahaan ayah? karena om Alex ingin sekali aku menandatangani dokumen ini” ucap Gadis itu tenang. Sebisa mungkin dirinya harus mengulur waktu sampai kekasihnya datang.


“Sepertinya ini ada hubungannya dengan saham perusahaan, benar kan om” katanya lagi dengan memperlihatkan wajah dingin.


Alex masih berusaha tenang, pria itu baru menyadari keponakannya bukan gadis polos seperti dulu yang gampang di bodohi, tapi anehnya kenapa keponakannya itu tidak tahu jika ia memiliki beberapa persen saham di perusahaan ayahnya, semasa hidupnya kakak kandungnya itu sepertinya memang sengaja tidak memberitahu putrinya. Tapi kenapa?


“Cepat tanda tangani ini, atau kamu ingin berakhir seperti ayah mu” gertak Alex yang sudah tidak tahan karena


Reina masih saja tidak mau menandatangani dokumen tersebut.


“Maksud om apa? Jangan-jangan kematian ayah ada hubungannya sama om Alex” gadis itu bahkan sampai berdiri

__ADS_1


saking terkejutnya mendengar apa yang di katakan Alex.


Alex menyeringai “makanya om bilang, lebih baik kamu tanda tangani dokumen itu secepatnya” pungkas pria paruh baya itu dengan suara meninggi.


“Sampai kapan pun Reina nggak akan pernah menandatangani dokumen ini” dengan berani gadis itu mengambil


dokumen yang tergeletak di atas meja lalu menerbangkannya ke udara hingga dokumen tersebut berserakan di lantai. Gadis itu lantas berjalan ke arah pintu hendak membukanya namun sayang  pintunya terkunci.


“Kamu nggak akan bisa keluar dari sini” seringai Alex sambil memperlihatkan kunci yang di pegangnya.


“Bagaimana ini? Kenapa mas Zen belum datang juga” batin Reina menjerit, ia takut om nya akan melakukan tindakan kekerasan padanya.


Di luar ruangan ternyata Zen dan Daniel sedang beradu kekuatan dengan dua laki-laki yang menjaga pintu, walaupun dari bentuk tubuh mereka tidak sebanding dengan tubuh dua laki-laki tampan itu tapi bila diadu kekuatan Zen dan Daniel tidak bisa anggap remeh. Mereka berdua ternyata pernah berlatih taekwondo saat kuliah.


Dua penjaga itu tersungkur setelah Zen dan Daniel menghajarnya, kemudian Daniel meminta bosnya untuk


mendobrak pintu agar bisa masuk ke dalam sedangkan dirinya berjaga di luar.


Hampir saja Reina akan menandatangani dokumen, dari arah pintu Zen masuk setelah mendobraknya, laki-laki itu langsung berlari dan menghajar Alex membabi buta, pria paruh baya itu tersungkur di lantai. Zen bergegas membawa Reina keluar meninggalkan Alex yang hanya bisa memandang kepergian keponakannya dengan wajah geram.


“Breng.sek!!!” tangan Alex mengepal erat dengan urat-urat yang tercetak jelas di lehernya.


\~\~\~


Reina dan Zen berlari menuju mobil yang terparkir jauh dari villa, di dalam mobil Daniel sudah duduk di belakang kemudi menunggu bosnya dan Reina datang, setelah dua orang itu masuk ke dalam mobil, Daniel langsung tancap gas melajukan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata.


Zen menengok ke belakang mengedarkan pandangannya melihat keadaan di luar untuk memastikan jika mereka


tidak mengejar mobil yang di tumpanginya bersama kekasih dan karyawannya.


Helaan napas pelan keluar dari mulut laki-laki itu, akhirnya ia merasa tenag karena anak buah om nya Reina


tidak mengejar mereka. Zen mantap Reina yang duduk di sampingnya, gadis itu terlihat gelisah, tergambar jelas dari caranya memainkan jari-jemarinya, kemudian denga lembut Zen menggenggam tangan Reina.

__ADS_1


“Kamu kenapa?” tanya laki-laki itu, sorot matanya yang tajam terus menatap Reina dengan penuh cinta.


“Kayaknya kecelakaan yang menimpa ayah ada hubungannya sama om Alex” tutur gadis itu dengan mata berkaca-kaca.


“Maksud kamu?” Zen menautkan kedua alisnya mendengar kekasihnya bicara. Daniel yang sedang fokus mengemudi melirik kedua orang yang duduk di kursi belakang dari kaca spion.


“Om Alex ngancam aku, kalau aku nggak tanda tangani dokumen itu, nasib ku akan sama seperti ayah” cairan bening menetes diiringi isak tangis Reina yang teringat kembali dengan sosok ayahnya.


Zen mengulurkan tangannya dari belakang lalu menarik tubuh lemah itu ke dalam pelukannya “kita akan cari tahu


kebenarannya tentang kecelakaan ayah kamu” Zen kemudian mengusap lembut puncak kepala Reina membuat gadis itu merasa tenang, setidaknya sekarang dirinya tidak sendiri,ada seseorang yang bisa di jadikannya sandaran.


Reina yang terbiasa hidup sendiri sepeninggal ayahnya merasa nyaman saat ada seseorang yang bisa melindunginya.


Setelah melalui banyak kejadian menegangkan akhirnya Reina dan Zen bisa kembali ke apartemennya dengan selamat, gadis itu langsung menuju kamar mandi dan menanggalkan semua pakaiannya, ia melangkah kan kakinya masuk ke dalam bathub setelah terlebih dulu diisi dengan air hangat.


Cukup lama gadis itu berendam, hingga terdengar suara Zen memanggilnya dari luar kamar, saat gadis itu keluar


dari bathub telapak kakinya menginjak sesuatu yang licin, tubuhnya tidak dapat ia seimbangkan hingga akhirnya terjatuh kebelakang. Punggungnya mendarat sempurna membentur lantai kamar mandi.


“Awww!!!” rintih Reina yang merasa kesakitan dan nyeri di  bagian punggungnya untung saja kepalanya tidak ikut menyentuh lantai.


Mendengar suara rintihan kekasihnya, Zen langsung menerobos masuk ke dalam kamar kekasihnya, laki-laki itu kemudian membuka pintu kamar mandi, dilihatnya gadis cantik itu berbaring di lantai tanpa menggunakan sehelai benang pun melekat di tubuhnya.


Zen terhenyak melihat pemandangan yang seharusnya tidak boleh di lihatnya, namun ia tidak peduli,  karena yang terpenting sekarang adalah menolong kekasihnya.


Bak seorang kesatria yang menolong tuan putrinya Zen menggendong Reina ala bridal style, membawannya


keluar dari kamar mandi dan membaringkannya ke atas ranjang. Setelah itu ia menyibakkan selimut untuk menutupi tubuh polos kekasihnya yang begitu menggoda, berkali-kali jakunnya naik turun tidak karuan dan buliran keringat menetes dari keningnya. Entah kenapa suhu tubuhnya naik.


“Kenapa kamu bisa jatuh?” tanya laki-laki itu khawatir terlihat jelas dari raut wajahnya.


“Denger suara kamu manggil aku, terus aku keluar dari bathup nggak sengaja nginjek apa itu licin banget, terus aku kepeleset” terang Reina menceritakan kronologi dirinya yang terjatuh di kamar mandi.

__ADS_1


__ADS_2