
Zen mendapatkan panggilan telepon dari pegawai toko, jika cincin yang di pesannya sudah jadi. Laki-laki itu
segara bangkit dan berjalan keluar ruangan, saat di depan pintu ia berpapasan dengan Yongki.
“Mas Zen mau ke mana?” tanya Yongki, ditanganya ada beberapa berkas yang akan ia berikan pada Zen.
“Aku akan keluar sebentar, taruh saja berkasnya di atas meja” ucapnya sambil berlalu pergi meninggalkan Yongki
yang masih berdiri di depan pintu. Kemudian laki-laki itu masuk ke dalam dan meletakkan berkasnya di atas meja, lalu ia kembali keluar.
Saat mengendarai mobil, Zen tak henti-hentinya mengulum senyum, ia sudah tak sabar untuk melihat cincin yang di
pesannya. Itu adalah desain pertamanya yang ia buat.
“Selamat datang pak Zen” sapa pegawai yang tadi menelepon Zen dengan senyum ramahnya.
Zen membalasnya dengan anggukkan kepala dan senyuman juga, kemudian ia berjalan mengikuti pegawai itu “ini tuan cincinya” pegawai itu menunjukkan cincin berbentuk bintang di tengahnya terdapat berlian.
Zen menatap lekat cincin tersebut, laki-laki itu tersenyum puas karena pesanannya sesusai ekspetasinya, ia bahkan melingkarkan ke jarinya untuk mencoba. Pegawai yang melihat tertawa karena cincin itu hanya masuk setengah di jari manisnya saja
“Tolong bungkuskan yang cantik” pinta Zen sopan.
“Baik pak” pegawai itu membungkuskan dengan sangat rapi, barulah kemudian ia memberikannya pada Zen.
Setelah menerima cincinnya, Zen mengambil kartu di dalam dompet dan menyerahkannya pada pegawai tadi untuk membayar. Kemudian barulah ia keluar meninggalkan toko dan kembali ke kantor.
\~\~\~
\~\~\~
__ADS_1
Di kampus...
Sarah mengajak Reina setelah pulang kerja ke toko kue yang baru buka di dekat kampus, dua gadis itu berjalan
beririgan menuju tempat tersebut. Saat sampai, banyak orang yang mengantri untuk masuk ke dalam toko tersebut, bahkan antriannya pun mengular hingga keluar toko. Membuat Reina dan Sarah saling memandang satu sama lain.
“Sar nggak usah ke sana aja yah, lihat aja tuh antriannya” pinta Reina, ia bahkan menarik tangan Sarah agar kembali ke kampus.
“Tanggung Rei, kita udah nyampe sini, sayang banget kan kalau balik sekarang” rengek Sarah, ia ingin sekali
mencicipi kue yang di jual di sana, soalnya banyak teman-teman kampusnya memamerkannya di media sosial saat mereka sedang mencicipi kue yang menjadi primadona di toko kue tersebut. Sarah tak mau kalah, ia pun ingin melakukan seperti teman kampusnya yang lain. Reina yang mengerti dengan sifat sahabatnya akhirnya mengikuti keinginan Sarah.
Mereka berdua mengantri menunggu giliran untuk di layani. Bau harum menguar keluar dari toko kue tersebut, bau yang khas yang membuat siapa pun menjadi lapar ketika menciumnya.
“Tuh iler lo netes” goda Reina pada sahabatnya itu, yang membuat Sarah malu dan reflek mengusap ujung
Tiba saatnya giliran dua gadis itu masuk ke dalam, Sarah segera berjalan ke etalase yang memamerkan berbagai
macam jenis kue dari balik kaca. Sarah kemudian memilih beberapa jenis kue diikuti Reina kemudian mencari tempat duduk di dalam ruangan toko.
“Emmmm, enaknya” ucap Sarah saat memasukkan satu suap potongan kue ke dalam mulutnya, ia tak peduli dengan berat badannya lagi, untuk hari ini pengecualian, bagi Sarah memuaskan lidahnya mencicipi berbagai kue yang sudah ada di atas piringnya.
Reina hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah sahabatnya itu, tak di pungkiri rasa kue di toko ini memang
berbeda, semuanya sangat pas ketika menempel di lidah. Membuat mereka ingin lagi dan lagi mencicipinya tanpa henti.
Dering ponsel Reina menghentikannya saat ia akan memasukkna kue ke dalam mulutnya, gadis itu kemudian
mengambil ponsel yang tersimpan di dalam tasnya. Tertera nama Zen di layar ponsel miliknya.
__ADS_1
“Halo mas Zen” sapa Reina.
“Kamu lagi di mana kok berisik banget?” tanya Zen penasaran, karena hari ini kekasihnya tidak bekerja di kafe.
“Sarah ngajak aku ke toko kue yang ada di deket kampus, kebetulan toko ini baru buka, jadi kita mampir kemari
sebelum pulang” ungkap Reina memberitahu kekasihnya. Di depannya Sarah sedang asyik mengunyah kue yang ada di dalam mulutnya, ia bahkan tak memperdulikan dengan keadaan sekitar.
“Pulang dari sana, kamu langsung ke kantor yah” pinta Zen dari seberang telepon, di tangannya ia memegang kotak warna cokelat keemasan yang sedari tadi sedang ia perhatikan. Senyum tak pernah lepas dari bibir Zen. Laki-laki itu sudah tak sabar ingin melingkarkan cincin ke jari manis kekasihnya.
Zen ingin kekasihnya tahu jika ia benar-benar serius dengan hubungan yang di jalaninya sekarang, apalagi setelah mereka melakukan malam panas itu, membuat Zen semakin ingin segera meresmikan hubungan mereka.
Sebagai laki-laki yang bertanggung jawab sudah semestinya Zen mengikat kekasihnya agar gadis itu percaya
dengan keseriusan Zen yang dulu pernah ia ucapkan, ia masih ingat saat mengatakan jika ia ingin menikah dengan Reina dan gadis itu pun telah menerimanya. Apalagi ayahnya juga terus mendesak agar ia cepat menikah.
“Siapa yang telepon Rei?” tanya Sarah kepo, apalgi melihat ekspresi Reina setelah mendapat telepon.
“Mas Zen, dia nyuruh gue datang ke kantor” jawab Reina. Gadis itu melirik ke arah piring yang ada di hadapan
Sarah, kini piring yang tadinya penuh hanya tersisa satu potong saja di sana. Sarah benar-benar ingin menghabiska semua kue yang diambilnya. Bahan kue milik Reina pun diincarnya.
“Jangan banyak-banyak makannya Sar, bukannya lo lagi diet” ujar Reina mengingatkan, karena ia melihat
sahabatnya kalap.
“Cuma hari doang kok Rei, besok-besok mah nggak” tuturnya sambil terus mengunyah potongan kue terakhir di
piringnya.
__ADS_1