
Sudah sebulan pemberitaan tentang kecelakaan Presdir dari Dave Corporation dan kekasihnya berseliweran di media sosial maupun media elektronik, tempat terjadinya kecelakaan pun tak luput dari pemberitaan, semua orang memberitakan dengan versi yang berbeda-beda.
Ada yang mengatakan jika mereka kecelakaan dalam kondisi mabuk, ada juga yang mengatakan jika pengemudi dalam keadaan mengantuk, maka terjadilah kecelakaan.
Zen, Reina dan Yongki hanya tersenyum mendengar pemberitaan tentang mereka yang semuanya tidak benar. Marlon pun kini jadi terkenal wajahnya sering berseliweran di televisi karena sering di wawancarai oleh wartawan.
"Sepertinya yang mendapat keuntungan dari kejadian ini adalah ayah" ujar Zen yang di tanggapi Reina dan juga Yongki dengan senyuman.
"Kenapa? mas Zen iri" ledek Reina.
"Ya nggak lah, masa aku iri" kata Zen membela diri.
Orang yang sedang mereka bicarakan tiba-tiba saja muncul membuat Zen tersenyum kikuk ketika ayahnya menyindir dirinya.
"Gimana Zen dia udah ngabarin kamu?" tanya Marlon dengan wajah serius.
Zen menggeleng pelan "belum yah" jawabnya.
Sebenarnya mereka lagi ngomongin siapa sih, orang yang sedang mereka bicarakan kelihatannya misterius" batin Reina, gadis itu penasaran siapa orang yang membantu Zen.
*
Reina duduk di halaman villa, di sebuah bangku yang langsung menghadap ke lautan luas, gadis itu sedang menikmati angin semilir yang menerpa tubuhnya.
"Sarah lagi ngapain ya" gumam Qiana, sudah sebulan ia tidak tahu dengan keadaan sahabatnya itu, Reina memikirkan Sarah pasti gadis itu setiap hari menangis, bukan hanya dirinya saja yang di tangisi, tapi juga Zen, sepupunya.
Dari dalam villa Zen melihat kekasihnya duduk menyendiri, ia perlahan melangkah menghampiri kekasihnya.
"Kamu lagi ngapain?" tanyanya sembari mengambil tempat untuk duduk.
"Aku lagi mikirin Sarah mas" jawab gadis itu dengan mata berkaca-kaca menahan tangis.
Zen meraih pundak Reina dan mendekap erat tubuh kekasihnya "sabar ya sayang, sebentar lagi ini akan berakhir" ucap Zen lembut dan mengecup puncak kepala Reina.
__ADS_1
Reina mengangguk pelan, ia percaya pada Zen laki-laki itu pasti punya rencana di balik ini semua.
*
Di sebuah ruangan kantor yang gelap, seorang laki-laki masuk ke dalam memakai pakaian serba hitam dan topi berwarna hitam juga. Dengan senter kecil orang itu membalik lukisan yang tergantung di dinding ruangan, seperti sedang mencari sesuatu.
"Ketemu" gumamnya lirih. Laki-laki itu kemudian menekan tombol yang ada di sana, ternyata sebuah berangkas. Ia tak menyangka bisa menemukan berangkas yang selama ini di carinya.
setelah menekan beberapa angka yang terdapat di tombol tersebut, akhirnya pintu berangkas pun terbuka. Sejumlah uang tertumpuk rapih di dalamnya, beberapa dokumen penting juga tersimpan di sana dan ada sebuah kotak warna hitam terselip di tumpukan dokumen, ketika di buka USB warna kuning keemasan tersimpan di dalamnya.
Laki-laki itu mengambil semuanya yang di rasa berharga kecuali uang.
Kemudian barulah ia keluar dari ruang kantor tersebut.
Sampai di apartemen, laki-laki itu membuka satu per satu dokumen yang di bawanya, yang isinya sangat penting, ia juga mencoba mencari tahu apa yang tersimpan di dalam USB itu. saat melihatnya ia sangat terkejut, ternyata kecurigaannya selama ini benar adanya.
Malam itu juga ia menghubungi Zen dan meminta laki-laki itu untuk bertemu dengannya. Zen kemudian menyuruh orang itu untuk datang ke villa.
"Saatnya sudah tiba" gumam Zen, ia lalu memberi tahu ayahnya dan juga Yongki.
"Selamat malam semuanya" ucapnya ketika masuk dan memandangi ketiga orang yang tengah duduk di sofa.
Reina sendiri berada di dalam kamar tengah tertidur pulas.
"Semua buktinya ada di sini" Laki-laki itu menyerahkan map berwarna merah dan USB kepada Zen.
"Terima kasih kamu sudah banyak membantu kami" tutur Zen dengan seulas senyum.
"Itu memang sudah tugas ku, Alex tidak mudah percaya dengan orang, apalagi dulu aku adalah orang kepercayaan pak Davindra, aku benar-benar membutuhkan waktu yang sangat lama agar ia percaya padaku dan akhirnya aku bisa mengumpulkan bukti tersebut.
Marlon beranjak dari duduknya dan memeluk laki-laki itu "terima kasih Damian" ucapnya sambil menepuk pelan punggung laki-laki berpostur tinggi besar itu.
*
__ADS_1
Di ruangan kantor,. duduklah laki-laki dengan posisi kaki bersilang sedang menatap layar laptopnya, sesekali tangan yang memegang pulpen ia ketuk-ketukkan di meja membuat suara tuk...tuk...tuk...menggema di ruangan itu.
Dari arah pintu datang 4 orang memakai jaket kulit masuk menerobos ruangan kerja tersebut. Alex yang tengah duduk langsung berdiri karena terkejut dengan kedatangan mereka.
"Siapa kalian?" tanya Alex sinis.
Satu orang itu berjalan mendekati Alex lalu mengeluarkan kartu identitasnya.
"Kami dari kepolisian" balas laki-laki yang memakai topi hitam.
"Polisi?" Alex terkejut. "Mau apa polisi datang kemari" batin Alex.
Salah seorang polisi lainnya mengeluarkan surat penangkapan dan memperlihatkannya pada Alex.
"Anda kami tangkap atas kasus pembunuhan Davindra Warren, pemalsuan tanda tangan dan kasus penculikan"
"Tangkap dia" titah laki-laki yang memakai topi kepada dua orang di belakangnya. Kedua orang itu langsung memegang tubuh Alex lalu salah satu dari mereka memborgol tangan pria tua itu.
Alex terus memberontak "lepaskan saya" ucapnya ketika di bawa keluar orang petugas, ia menjadi tontonan para pegawainya. Kemudian ia langsung di bawa ke kantor polisi.
Di sana sudah ada Zen, Reina dan Marlon yang menunggu kedatangan Alex. Tak berselang lama Alex datang, Reina yang melihat omnya, langsung menghampiri Alex dengan mata berkaca-kaca.
"Kenapa om bisa ngelakuin itu sama ayah, dia itu kakak kandung om" tutur Reina, Tak tahan lagi menahan air mata yang hampir jatuh gadis itu menangis sejadi-jadinya sampai bersimpuh di hadapan Alex.
"Itu juga semua karena ayah kamu, kalau saja di bukan anak kesayangan kakek mu, om juga nggak akan ngelakuin hal ini" ungkap Alex. Dari dulu ia selalu iri dengan Davindra, dulu orang tua mereka selalu membeda-bedakan antara dua kakak beradik itu. Membuat Alex merasa seperti bukan anaknya. Apalagi setelah ayah mereka membagikan warisan perusahaan kepada masing-masing kedua anaknya. Alex yang gagal mengelola perusahaan diremehkan oleh ayahnya sendiri. Namun semua itu juga akibat ulah nya, dia terlalu banyak menghambur-hamburkan uang. Zen membantu Reina berdiri, ia dengan setia mendampingi kasihnya.
"Tapi bukan berarti om bisa ngelakuin itu sama ayah, apa om nggak ingat di saat perusahaan om terpuruk ayah yang bantu om" sambil terisak Reina terus berbicara, ia ingin menumpahkan rasa kecewanya agar hatinya lega.
Alex melihat dokumen dan USB yang di simpannya di dalam berangkas, ia tak habis pikir dari mana mereka tahu bukti tersebut padahal ia sudah menyimpannya di tempat tersembunyi.
"Dari mana kalian mendapatkan dokumen dan USB itu?" tanya Alex penasaran, karena hanya ia yang tahu dimana berangkas itu di sembunyikan.
"Aku yang mengambilnya" suara tak asing bagi Alex, pria tua itu langsung menoleh ke arah sumber suara tersebut, di depan pintu masuk Damian berdiri dengan gagahnya.
__ADS_1
"Damian!" pupil mata Alex melebar, ia tak percaya dengan apa yang di dengarnya dan di lihatnya.
Damian berjalan melewati Alex dan berdiri di sisi Zen, tak hanya Alex yang terkejut, Reina pun terkejut, karena ia beberapa kali pernah bertemu dengan laki-laki itu.