CINTAI AKU SELAMANYA

CINTAI AKU SELAMANYA
BAB 57


__ADS_3

Sarah mengangguk pelan “udah” jawabnya. Gadis itu terdiam sebentar lalu membuka mulutnya lagi “sejujurnya aku


kaget saat denger itu, tapi sepertinya mas Zen udah mengambil keputusan” sambungnya lagi.


“Dan mas Zen melimpahkan semua tanggung jawab kafe sama aku” tutur Daniel, laki-laki itu memikirkan ke


depannya nanti, mengelola kafe bukan tugas yang mudah apalagi Coffee Story punya beberapa cabang di luar kota.


“Itu karena mas Zen percaya kalau mas Daniel mampu di beri tanggung jawab ini” pungkas Sarah memberi semangat untuk kekasihnya.


\~\~\~


Langit di luar mulai gelap, bintang yang bersembunyi kini satu per satu mulai muncul di atas sana. Reina masih sibuk melayani pengunjung yang datang, semakin malam suasana kafe malah semakin ramai, di tambah dengan para pegawai kantor yang pulang kerja.


Di depan kafe seberang jalan, terlihat mobil berwarna silver terparkir di tepi jalan, di dalam mobil tersebut


ada dua orang pria, yang satu duduk di jok belakang dan yang satunya lagi di belakang kemudi.


Pria yang duduk di jok belakang menurunkan kaca mobil hampir setengah hingga terlihat wajahnya dari luar, dia


adalah Alex.


“Jadi ini tempat Reina kerja?” tanya Alex pada asistennya yaitu Damian, untuk memastikan informasi yang Damian


berikan benar, maka Alex datang sendiri  ke tempat kerja Reina.


“Iya bos” jawab Damian, dirinya pernah beberapa kali membeli kopi di kafe ini.


Cukup lama Alex mengamati kafe tempat kerja Reina, sepertinya pria paruh baya itu menunggu sampai Reina keluar dari kafe. Sambil menunggu Alex berselancar memainka benda pipih miliknya mencari informasi tentang perusahaan Dave Corporation. Ia berencana akan menjual saham atas nama Reina kepada perusahaan tersebut.


Akhirnya orang yang di tunggu Alex keluar, Reina membuka pintu kafe dan melangkah keluar bersama dengan Zen,


fokus Alex teralihkan saat ia melihat Zen, ia merasa pernah bertemu dengan laki-laki tampan itu.

__ADS_1


Sejenak Alex berpikir mengingat kembali di mana ia bertemu dengan laki-laki yang bersama dengan keponakannya


itu. Saat ia melihat Reina menaiki mobil berwarna hitam yang di kemudikan Zen, pria paruh baya itu akhirnya ingat, pernah meliahat mobil itu di depan rumahnya saat Reina datang ke sana. Ketika gadis itu pulang Reina juga naik mobil suv warna hitam seperti yang sedang ia lihat sekarang.


Dan ketika mobil itu lewat di samping mobilnya, wajah Zen terlihat jelas dari luar karena kaca mobilnya terbuka. Alex langsung ingat dengan laki-laki yang memukulnya di villa.


“Siapa laki-laki itu?” gumamnya sendiri dengan suara lirih, namun terdengar di telinga Damian, asistennya.


“Bos mau aku cari tahu siapa yang bersama mba Reina?” Damian menawarkan diri membantu Alex mencari tahu tentang Zen.


Dari kursi belakang, Alex menganggukkan kepalanya “iya, cari tahu tentang dia, kelihatannya mereka cukup dekat” tuturnya.


“Baik” sahut Damian.


Setelah melihat Reina pergi, Alex juga menyuruh Damian untuk melajukan mobilnya dan pulang ke rumah. Sepanjang perjalanan, ia terus mengingat kejadian di villa, ia bingung dari mana laki-laki itu tahu keberadaan Reina saat itu, padahal villa itu tidak semua orang tahu tempatnya.


Yang paling Alex ingat adalah ketika ia menerobos masuk ke ruangan dan langsung menghantam wajah Alex dengan tangannya yang kuat, sekali pukul pria paruh baya itu langsung terjerembab di lantai, membuat laki-laki itu dengan bebas membawa Reina, ia juga mengalahkan kedua orang yang berjaga di depan pintu, padahal kalau di lihat dari postur tubuh, mereka terlihat sangat jauh berbeda.


Tapi yang Alex tidak tahu saat itu Zen tidak sendiri, ia di bantu Daniel untuk memberi pelajaran pada dua penjaga yang berdiri di depan pintu, Daniel pergi lebih dulu untuk mengambil mobil.


\~\~\~


Reina hanya memilih bahan makanan yang dibutuhkan saja, berbeda dengan Zen, laki-laki itu mengambil apapun yang diinginkan, entah itu di butuhkan atau tidak dia asal ambil, dan tahu-tahu troli yang di bawanya penuh. Reina terkejut ketika melihat isi trolinya.


“Mas Zen! Kamu beli apa aja? Kenapa banyak banget, ini buat persediaan berapa bulan?” tutur Reina sambil mengacak-acak isi dari troli Zen.


Zen hanya terseyum sambil menggaruk kepalanya walau tidak gatal “Ya udah yuk, kita bayar” ajak Zen, kemudian mereka berdua berjalan menuju kasir.


“Total semua jadi Rp. 5.500.000” ucap kasir itu setalah mentotal semua barang yang ada di dalam troli.


Zen mengambil dompet dan mengeluarkan kartu lalu memberikannya pada kasir, setelah selesai membayar dua


sejoli itu kemudian berjalan beriringan menuju parkiran dengan tangan penuh tentengan belanja.

__ADS_1


Sesampainya diparkiran, Zen memasukkan semua barang belanjaannya di bagasi, lalu ia berjalan ke depan dan


masuk ke dalam mobil, Reina sendiri sudah sedari tadi duduk di kursi samping kemudi, Tak lama Zen pun melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju apartemennya.


Reina dan Zen masuk ke dalam apartemen, mereka berjalan menuju kamar masing-masing setelah meletakkan barang belanjaannya di dapur. Dari arah kamar Reina, gadis itu keluar sudah berganti pakaian, ia kemudian langsung berjalan menuju dapur, mengeluarkan satu per satu belanjaannya dan memasukkan ke lemari pendingin. Berbagai macam sayur-sayuran. Buah-buahan semua komplit di beli oleh Zen bahkan lemari pendingin pun penuh saking banyaknya belanjaan yang di masukkan ke dalam.


Kemudian terdengar di telinga Reina pintu kamar Zen terbuka, Zen keluar dari kamar hanya menggunakan celana


pendek dan bertelanjang dada memperlihatkan otot-otot dadanya yang seksi dan perutnya yang sixpack.


Reina menoleh ke arah Zen tanpa berkedip sambil menelan salivanya, apalagi makin lama laki-laki itu makin


mendekat ke arahnya, ia buru-buru mengalihkan pandangannya agar tidak terlalu ketara jika ia terpesona dengan tubuh seksi kekasihnya.


Reina kembali sibuk dengan menata bahan makanan di lemari pendingin, gadis itu berusaha tetap tenang dan mencoba untuk tidak tergoda dengan tubuh kekasihnya yang begitu sempurna.


Zen sudah berdiri di belakang Reina, ia sengaja mendekatkan tubuhnya pada tubuh kekasihnya membuat Reina


merasakan ada sesuatu yang berdesir di hatinya, apalagi saat Zen tiba-tiba melingkarkan tanganya ke perut Reina.


Gadis itu terperanjak, ia merasakan otot dada Zen menempel bebas di punggugnya. Gadis itu mulai merasa tidak tenang, jantungnya berpacu dengan cepat, apalagi saat Zen berbisik memanggil nama Reina tepat di telinganya membuat bulu kuduknya merinding.


Zen membalikkan tubuh kekasihnya agar berhadapan dengan dirinya, bukan wajah Zen yang di tatap Reina saat


berhadapan dengan kekasihnya, matanya malah fokus menatap otot dada kekasihnya yang menggoda, karena penasaran akhirnya gadis itu mengayunkan tangannya mencoba memegang otot dada yang sedari tadi seperti memanggil Reina memintanya untuk di pegang.


Belum sampai memegang, tangannya yang terulur di hadang oleh tangan Zen “kamu mau ngapain?” tanyanya sambil tersenyum miring.


“Nggak ngapa-ngapain ha...ha...ha...” gadis itu tersenyum canggung.


Reina kemudian mendorong tubuh Zen, agar dia bisa keluar dari kungkungan tubuh kekasihnya, namun apa yang terjadi Zen malah menundukkan tubuhnya lalu menggendong Reina ala bridal style dan membawa gadis itu masuk ke dalam kamarnya.


Setelah sampai di kamar, Zen merebahkan tubuh gadis itu di atas kasur berukuran besar dengan seprainya berwarna putih bersih.

__ADS_1


Apa yang terjadi selanjutnya....


__ADS_2