
Zen terpana melihat Reina memakai dress rancangan desainer langganan ayahnya, gadis itu sangat cantik memakai dress panjang tanpa lengan, rambutnya panjangnya dibiarkan terurai, di selipkan jepitan berbentuk bunga daisy di sisi kanan dan kirinya. Di tambah dengan polesan make up flawless kecantikannya semakin memancar keluar. Zen pun tak berhenti menatap kekasihnya itu. "Ayo jalan, aku udah siap" pungkasnya sembari tersenyum manis membuat jantung Zen berdegup kencang.
Laki-laki itu berdiri dan berjalan menghampiri Reina, "aku nggak rela kecantikan kamu dinikmati banyak orang, kita nggak usah datang aja ya" tutur Zen, ia melingkarkan tangannya di pinggang kecil kekasihnya.
"Kita masuk ke kamar" bisik Zen dengan suara menggoda membuat Reina merinding mendengarnya.
Reina mendorong tubuh Zen, "ayo, kasian mas Yongki udah nungguin di bawah" tutur gadis itu lembut.
Zen dan Reina turun ke bawah dan mendapati Yongki tengah berdiri di samping mobil menunggu kedatangan dua sejoli itu.
Awalnya Yongki akan membukakan pintu mobil untuk Reina, tapi Zen menghentikannya "biar aku aja yang bukain" tuturnya sambil melirik ke arah Reina yang berdiri di belakangnya.
Reina dan Yongki saling melempar senyum satu sama lain melihat tingkah Zen saat itu.
*
Mobil melaju kencang di jalanan sepi karena tidak banyak kendaraan yang berlalu lalang, akhirnya mereka sampai di sebuah hotel bintang 5, banyak paparazi yang menunggu di luar, mereka menyorot siapa saja yang datang ke pesta tersebut.
"Lihat itu Zen Marlon" ucap salah satu paparazi yang berdiri di sepanjang jalan masuk ke dalam hotel.
"Wow dia membawa seorang perempuan cantik" timpal yang lainnya.
Mereka pun memotret sepanjang dua sejoli itu melangkah masuk ke dalam, Zen yang menggandeng mesra tangan Reina merasakan sakit karena gadis itu mencengkeram tangannya erat. Yah, tentu saja Reina pasti gugup karena ini pertama kali baginya di sorot oleh banyak orang.
Saat di dalam pun Zen tak melepaskan tangannya dari kekasihnya itu, kemana pun laki-laki itu melangkah dan bertemu dengan para pengusaha yang lain, Reina tetap berada di sampingnya.
"Siapa gadis cantik yang ada di samping anda pak Zen?" tanya salah satu kolega Zen ketika melihat Reina.
"Dia tunangan saya" jawab Zen bangga.
"Anda pintar mencari calon istri, cantik" ujarnya memuji Reina yang memang benar-benar cantik.
Reina dan Zen menanggapinya hanya dengan senyuman, saat mereka hendak mengambil minuman, keduanya tidak sengaja berpapasan dengan Alex yang baru saja datang, Reina menyunggingkan senyum menyapa om dan tantenya, tapi di tanggapi oleh mereka dengan sinis.
Akhirnya mereka berjalan melewati Alex dan istrinya begitu saja.
__ADS_1
Di pertengahan acara karena merasa bosan Zen dan Reina keluar berjalan-jalan di sekitar hotel. Mereka melihat bangku panjang dan mendudukinya.
"Aku malas kalau datang ke acara kayak gini, mereka terlihat baik di depan, tapi di belakang..." Zen tak melanjutkan perkataannya ia hanya menggeleng kepalanya pelan.
"Bukannya itu udah biasa terjadi di dunia bisnis" ujar Reina.
"Kita pulang aja yuk, aku udah capek" tandas Zen, laki-laki itu kemudian bangun dan menarik tangan Reina agar segera bangkit dari duduknya. Reina menurut saja, karena ia pun sebenarnya tidak suka datang ke acara seperti ini.
Setelah berpamitan dengan tuan rumah pesta tersebut, Zen dan Reina melangkah keluar, Yongki yang tidak ikut ke dalam berjaga di luar, ia tertegun ketika atasannya sudah keluar lebih dulu sebelum acarnya selesai.
"Mas Zen kok udah keluar?" tanya Yongki.
"Aku udah nggak kerasan di dalam" tuturnya sambil masuk ke dalam mobil.
Mereka bertiga akhirnya pulang, tapi dalam perjalanan ada sebuah mobil berwarna putih mengikuti mobil yang dikendarai Yongki.
"Mas kayaknya ada yang ngikutin mobil kita" kata Yongki memberi tahu Zen, ia bisa melihatnya dari kaca spion.
"Hati- hati mungkin itu anak buahnya Alex"
Saat mobil keduanya melintas di jalanan sepi, mobil putih di belakang menambah lagi kecepatannya, sehingga mereka bisa menabrak bagian belakang mobil yang dikendarai Yongki.
Beberapa kali mereka melakukan itu, hingga akhirnya, Yongki tak mampu lagi mengendalikan laju kendaraannya mobil itu pun terperosok ke sungai yang ada di sisi jalan.
Setelah memastikan mobilnya tenggelam ke sungai, orang yang mengendarai mobil putih pergi begitu saja.
Di dalam sungai ketiga orang yang masih berada di dalam mobil berusaha keluar sebelum mobil mereka benar-benar tenggelam ke dasar sungai.
Zen memecahkan kaca mobil agar mereka keluar, dengan bersusah payah akhirnya mereka bisa keluar dan berenang ke tepian sungai.
"Bagaimana ini selanjutnya mas Zen" tanya Yongki.
"Biarkan mereka menganggap kita hilang, untuk sementara kita cari tempat untuk bersembunyi" tutur Zen yang langsung di setujui oleh Yongki.
Melihat pakaian Reina yang terbuka, Zen melepaskan jasnya untuk menutupi tubuh kekasihnya itu.
__ADS_1
Ponsel milik Zen yang anti air masih bisa di gunakan, ia lantas memberi tahu Marlon apa yang terjadi pada mereka, kemudian pria tua itu menyuruh anak buahnya untuk menjemput ketiga orang itu di sana.
Bunyi notifikasi pesan masuk terdengar dari ponsel Zen.
[Kalian tidak apa-apa kan?, aku tidak terlalu keras kan mendorong mobil kalian jatuh ke sungai].
Begitulah kira-kira isi pesannya, Zen pun kemudian membalas.
[Kami selamat, untuk sementara kami bertiga akan bersembunyi, jadi lakukan tugasmu dengan baik].
Entah siapa yang sedang bertukar pesan dengan Zen, wajahnya terlihat sangat serius.
Anak buah Marlon membawa ketiga orang itu ke villa tersembunyi yang berada di pinggiran pantai yang letaknya sangat jauh dari kota.
Marlon juga sedang menuju ke sana, pria tua itu khawatir dengan kondisi mereka, Marlon bahkan mengajak dokter pribadinya untuk mengecek mereka.
Tiga jam perjalanan akhirnya Zen, Reina dan Yongki sampai di villa tersebut. Tempatnya benar-benar terpencil bahkan orang lain pun tidak yakin bahwa di tempat ini berdiri sebuah villa.
"Sampai kapan kita akan tinggal di sini mas?" tanya Reina, saat melihat-lihat di sekitaran villa.
"Belum tahu Rei, mungkin 1 minggu, 2 minggu, mungkin juga bisa sampai 1 bulan" sahut Zen.
Reina menghela napas pelan, ia kemudian menyusul Zen yang lebih dulu masuk ke dalam.
Tak berselang lama sebuah mobil berwarna hitam berhenti di pelataran villa, pria tua dengan rambut hitam dan sedikit beruban turun dari mobil tersebut. Ia kemudian berjalan masuk ke dalam villa.
"Zen, Reina" panggilnya saat melihat dua orang kesayangannya dalam keadaan baik-baik saja.
"Ayah" seru Zen berjalan menghampiri ayahnya dan langsung memeluk tubuh pria tua itu.
Reina yang masih berdiri di belakang, di panggil Marlon agar mendekat padanya, Marlon memeluk kedua sejoli itu.
"Sampai kapan kamu mau terus berdiri kayak gitu" tutur Marlon pada Yongki yang hanya memandangi mereka dari kejauhan.
Yongki menyunggingkan seluas senyum lalu berjalan ke arah Marlon dan ikut memeluk pria tua itu.
__ADS_1
"Ayah benar-benar khawatir dengan kalian" ucapnya sambil meneteskan air mata.