CINTAI AKU SELAMANYA

CINTAI AKU SELAMANYA
BAB 54


__ADS_3

Malam harinya seperti yang sudah dikatakan Zen lewat sambungan telepon, laki-laki itu keluar dari aprtemen setelah sebelumnya ia melihat Reina terlebih dulu di kamarnya untuk memastikan jika gadis itu telah tertidur pulas. Baru lah Zen berjalan keluar menuruni lift menuju basement untuk mengambil mobilnya di sana.


Zen melajukan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata menuju kediaman ayahnya. Banyak hal yang ingn laki-laki itu bicarakan pada ayahnya, tentu saja itu menyangkut Reina, setidaknya ayahnya mungkin mengetahui sesuatu yang berhubungan dengan Warren, ayah gadis yang di cintainya itu.


Setelah menempuh beberapa menit perjalanan, akhirnya Zen sampai di rumah ayahnya yang megah itu. Zen membuka kenop pintu dan masuk ke dalam, laki-laki itu mengedarkan pandangannya ke segala penjuru ruangan, sepi, hening, seperti tidak ada manusia yang menempati rumah besar ini.


Dari lantai atas seorang pria paruh baya tersenyum seraya terus mengamati gerak-gerik anak  laki-laki yang ada di bawah.


“Zen” panggil Marlon yang berdiri di tepi railing tangga atas.


Zen mendongakkan kepalanya ke arah lantai atas di mana ayahnya berada, kemudian laki-laki itu berjalan


perlahan menaiki tangga sat per satu dan sampai lah ia di depan ayahnya. Marlon lalu mengajak Zen masuk ke dalam ruangan yang kira-kira berukuran 3m x 3m berada di sudut lantai atas.


Mengikuti dari belakang, Zen masuk ke dalam ruangan tersebut. Laki-laki itu mengedarkan pandangan sambil


melangkah menyusuri sudut-sudut ruangan yang banyak di penuhi dengan buku-buku di dalam lemari yang pintunya terbuat dari kaca. Dari luar terlihat jelas penataan buku berjejer rapih. Zen perlahan mengayunkan kakinya, menuju sofa yang ada di sudut ruangan dan mendudukkan tubuh di atasnya.


“Ada apa Zen? Sepertinya ada sesuatu yang penting hingga membuat anak ayah yang selalu bilang sibuk jika ayah ingin bertemu, sekarang malah berinisiatif menemui ayah” Marlon mendekati Zen dan duduk di hadapan putranya.


Zen yang tidak suka basa-basi langsung mengatakan maskud kedatangannya, ia ingin ayahnya membantunya untuk mencari tahu tentang perusahaan Warren ayahnya Reina yang sekarang berada di bawah kendali Alex.


“Kamu tahu kan, ayah ini seorang pengusaha, keuntungan apa yang akan ayah dapatkan jika ayah membantu kamu”


“Sama anak sendiri ayah juga...” Zen tidak melanjutkan perkataanya, ia hanya menghela napas dalam dan


menggelengkan kepalanya pelan.


Marlon menaggapinya dengan tersenyum tipis sambil sedikit memiringkan kepalanya, sepertinya hal ini sudah lama di tunggu-tunggu oleh Marlon ketika anaknya datang padanya meminta bantuan.


“Lalu keuntungan apa yang ayah mau dari Zen” terang laki-laki itu dengan wajah serius.

__ADS_1


Marlon menyeringai “tentu saja ayah mau kamu bergabung dengan perusahaan” terangnya, sudah lama sekali ia


menginginkan anaknya bergabung dengan perusahaan.


Zen menatap lekat wajah ayahnya, ia baru menyadari kerutan halus mulai tampak mengitari sekitar area mata pria


paruh baya itu, cukup lama laki-laki ini terdiam, membuat Marlon mengernyitkan keningnya.


“Sepertinya Zen masih belum siap” batin Marlon, terlihat wajah pria paruh baya itu lesu. Marlon menyadari


permintaannya ini pasti berat untuk Zen, karena ia tahu putranya itu memang tidak tertarik untuk mengurus perusahaan.


“Baik, aku setuju yah” jawaban Zen membuat Marlon tercengang, ia tidak menyangka bila anaknya langsung menyetujui keinginannya tanpa harus memberi waktu untuk berpikir terlebih dahulu. Kekuatan cinta memang bisa merubah seseorang, sepertinya ia harus berterima kasih pada Reina.


“Tapi beri aku sedikit waktu untuk mengurus kafe, aku tidak mungkin meninggalkan tempat itu begitu saja, banyak hal yang harus aku bereskan” pinta Zen yang langsung di setujui oleh Marlon.


\~\~\~


Setelah banyak bertukar pikiran dengan ayahnya, Zen pun pamit pulang. Sudah cukup lama ia meninggalkan Reina


“Aku pamit yah” Zen mencium punggung tangan ayahnya, kemudian berjalan ke arah mobil yang terparkir di depan. Laki-laki itu masuk dan duduk di belakang kemudi, sebelum menjalankan mobilnya tidak lupa ia melambaikan tangan ke arah ayahnya yang masih memandanginya dari depan pintu.


Setelah mobil Zen tidak terlihat lagi dari pandangannya, Marlon masuk ke dalam setelah menutup pintu. Pria itu kembali berjalan menaiki tangga menuju ruang kerjanya di lantai atas. Setelah masuk ke dalam ruangan, Marlon duduk di kursi kerjanya dan mengambil ponsel yang ada di atas meja. Dengan wajah serius Malron berbicara dengan seseorang dari sambungan telepon.


\~\~\~


Dalam perjalanan pulang, Zen kembali memikirkan tentang dirinya yang setuju untuk membantu ayahnya mengurusi perusahaan, kalau di pikir-pikir ternyata selama ini ia egois karena hanya memikirkan apa yang dirinya sukai saja, membuka kafe karena itu memang cita-citanya sejak dulu. Sedangkan kepada ayahnya ia merasa bersalah karena dirinya mau membantu ayahnya di perusahaan bukan atas permintaan tulus ayahnya yang selalu ia tolak, namun sekarang demi seorang gadis yang dicintainya.


Zen sampai di basement gedung apartemennya, kemudian laki-laki itu memarkirkan mobil hitam kesayangannya di


tempat biasa. Laki-laki itu turun dari mobil dan berjalan ke arah lift menuju unit apartemennya. Beberapa detik kemudian Zen sampai di lantai 20 tempat apartemenya berada, ia berjalan menyusuri lorong-lorong apartemen menuju unit dengan nomor 1442. Zen menghentikkan langkahnya saat ia sampai di depan pintu apartemennya lalu tangannya menekan nomor sandi yang ada di pintu, tidak lama pintu pun terbuka.

__ADS_1


Perlahan laki-laki itu berjalan masuk ke dalam, namun ai tidak masuk ke dalam kamarnya, melainkan masuk ke


dalam kamar Reina. Zen mendudukkan tubuhnya di tepi ranjang sambil mengusap lembut wajah kekasihnya yang tertidur pulas, merasa ada sesuatu yang menyentuh wajahnya Reina pun perlahan membuka matanya, dilihatnya kekasihnya sedang menatap dirinya.


“Mas Zen” suarnya lirih, Reina mengusap pelan matanya untuk memastikan yang duduk di sampingnya adalah Zen.


Zen menyunggingkan seulas senyum, kemudian laki-laki itu menyibak selimut yang menutupi tubuh Reina dan


membaringkan tubuhnya di samping tubuh gadis cantik itu sambil melingkarkan tangannya di perut Reina.


Reina yang setengah sadar membiarkan Zen barbaring sambil memeluk dirinya, mereka pun tertidur di satu ranjang sampai pagi.


\~\~\~


Keesokan paginya, Reina yang membuka mata lebih dulu turun dari ranjangnya dengan perlahan agar tidak


membangunkan kekasihnya yang masih terlelap. Gadis itu langsung bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri, rasa nyeri di punggungnya sudah mulai mereda membuat Reina bisa bergerak dengan bebas. Setelah berkutat dengan air, gadis itu keluar dan masih mendapati Zen terlelap  di atas ranjangnya.


Perlahan Reina pun melangkahkan kakinya mendekati Zen, di tatapnya wajah teduh kekasihnya yang tampan itu,


rahang tegas serta hidung mancung membuat siapa pun akan terpesona ketika melihatnya.


Diam-diam gadis itu mendekatkan wajahnya dan “cup” mendaratkan ciuman singkat di bibir seksi kekasihnya itu.


Kemudian Reina pun keluar kamar dengan pipi merona karena malu. Sayangnya gadis itu tidak tahu jika Zen sebenarnya sudah bangun, laki-laki itu kemudian memposisikan tubuhnya duduk sambil menyender di sandaran ranjang.


“Ternyata kamu nakal juga ya Rei” gumam Zen sambil memegang bibirnya sendiri, senyum simpul terukir jelas di


wajahnya yang tampan.


Saat Zen baru saja akan turun dari ranjang, ponsel milik kekasihnya berdering. Wajahnya berubah masam saat

__ADS_1


melihat nama seseorang terpampang nyata di layar benda pipih milik Reina.


“Mau apa dia menghubungi Reina?” tutur Zen dingin.


__ADS_2