
Zen mengantar gadis yang kini telah sah menjadi kekasihnya ke kontrakan, awalnya Zen ingin mengajak Reina
mampir ke tempat makan, namun gadis itu menolak karena ia ingin segera membaringkan tubuhnya di atas ranjang.
Zen meraih tangan Reina saat gadis itu hendak turun dari mobil ketika sudah sampai di kontrakannya.
“Besok aku jemput ya” ucap Zen.
Reina mengangguk seraya tersenyum menatap laki-laki yang ada di hadapannya “aku masuk dulu” gadis itu kemudian turun dari mobil, ia tak langsung masuk ke dalam kontrakannya namun berdiri sambil memandang mobil Zen sampai tak terlihat lagi dari pandangannya.
Ketika sudah ada di dalam kontrakannya, Reina berdiri di balik pintu dengan menyenderkan tubuhnya di tembok.
“Apa aku sudah mengambil keputusan yang benar” gumamnya sendiri, ia mengedarkan pandangan ke seluruh
ruangan kamar yang kecil itu, mengamati satu per satu barang-barang yang tertata rapih di dalam kamarnya.
Sementara Zen dalam perjalanan menuju apartemennya, senyum terus mengembang dari kedua sudut bibirnya,
sesekali ia bersenandung mengikuti lagu yang sedang di dengarnya. Saat sampai di apartemen ia langsung masuk ke dalam kamar mandi dan menanggalkan semua pakaian yang ia kenakan. Guyuran air shower membasahi seluruh tubuhnya membuatnya merasa segar, dari semalam ia tak bisa tidur nyenyak pikirannya di penuhi dengan gambaran Reina. Namun sepertinya malam ini ia akan tidur dengan nyenyak setelah mendapat jawaban dari gadis yang di sukainya itu.
Keesokan harinya matahari pagi mulai menelusup masuk lewat celah-celah gorden kamar milik Reina, ia yang sudah bangun dan sudah berpenampilan rapih berjalan keluar kontrakan untuk berangkat ke kampus. Ketika di luar terlihat mobil berwarna hitam sudah terparkir di sana dan seorang laki-laki berparas tampan tengah berdiri di samping mobil yang tidak lain adalah Zen.
Laki-laki itu melambaikan tangan dengan gaya coolnya di tambah ia mengenakan celana jeans dan kaos berwarna
__ADS_1
putih serta di balut dengan hoodie berwarna navy dan rambut yang di biarkan acak-acakan.
Reina terkesima karena pagi-pagi ia sudah disuguhkan pemandangan yang menyejukkan mata, bukan hanya ia saja yang diam seperti patung saat memandang Zen. Tetangga kontrakannya pun ikut terkesima melihat laki-laki yang berdiri di samping mobil.
“Siapa tuh ganteng banget” celetuk salah satu tetangga Reina.
“Pacar aku” sahut Reina dengan bangganya ia tersenyum smirik seraya menatap tetangganya yang tukang julid itu.
“Hah pacar? kamu nggak usah ngehalu Rei, orang ganteng kayak dia mana mau pacaran sama kamu” timpal tetangganya yang lain.
Reina menaggapinya dengan senyuman yang disertai gelengan kepala, tetangga kontrakannya memang selalu iri
dengan dirinya. Sebenarnya Reina ingin sekali pindah kontrakan namun hanya kontrakan ini yang biaya sewanya cukup terjangkau membuat gadis itu tetap bertahan tinggal di sini walaupun setiap hari ia selalu jadi bahan julidan
tetangga kontrakan yang lain.
berangkat” tuturnya yang membuat tetangga kontrakan Reina membulatkan mulutnya karena terkejut, ternyata laki-laki ganteng itu memang benar pacarnya Reina, pikir mereka.
“Duluan ya” Reina berjalan beriringan dengan Zen menuju mobil, sedangkan tetangga Reina hanya menatap
kepergian gadis itu dengan wajah masam karena tidak senang, mereka langsung berpikir jika Reina pasti sudah menyerahkan tubuhnya hingga laki-laki ganteng itu mau dengannya. Pikiran kotor mulai bersemayam di otak mereka.
\~\~\~
__ADS_1
Dalam perjalanan menuju kampus, Reina lebih banyak terdiam membuat Zen bartanya-tanya, apa gadis yang jadi
kekaksihnya sekarang tidak senang jika di jemput olehnya? Tidak mau berpikiran macam-macam membuat Zen akhirnya menanyakan kenapa Reina diam saja.
“Kamu kenapa Rei dari tadi kok diam saja, apa kamu nggak suka kalau aku jemput?” tanya Zen, kebetulan waktu
itu mobil sedang berhenti karena lampu merah membuat tangan Zen leluasa mengusap rambut panjang Reina.
“Sebenarnya aku sudah lama ingin pindah kontrakan mas, tetangga ku disana tuh orangnya pada nggak asyik, mereka selalu jadiin aku bahan julidan, aku bertahan disana karena biaya sewanya yang harganya miring, aku sudah pernah nyari kontrakan lain, tapi harganya terlalu menguras kantong” jawab Reina panjang lebar menjelaskan kegundahan hatinya selama ini.
“Biar aku bantu nyari tempat yang lain” tutur Zen, kemudian laki-laki itu kembali melajukan mobilnya karena lampu lalu lintas sudah berubah berwarna hijau.
Akhirnya Reina sampai di kampus, saat ia akan membuka pintu mobil, Zen meraih tangan gadis itu.
“Tunggu!”
Reina menoleh ke arah Zen “ada apa mas?” tanyanya dengan wajah bingung.
Zen mendekatkan bibirnya lalu mengecup kening kekasih nya dengan lembut, Reina hanya diam termangu setelah mendapat kecupan mendadak dari kekasihnya itu. Mereka tak sadar ada sepasang mata yang melihat apa yang mereka lakukan dari kaca mobil bagian depan. Ya, Sarah sahabat Reina sekaligus sepupu Zen melihat semuanya, mulutnya terbuka lebar dengan mata terbelalak tak menyangka dengan apa yang baru saja dilihatnya. Sarah mengetuk-ngetuk kaca mobil hingga membuat orang yang ada di dalamnya terkejut.
“Mas, itu Sarah”
“Ayo kita keluar”
__ADS_1
Mereka berdua turun dari mobil, Sarah yang memang sedang menunggu mereka, berdiri dengan tangan yang ia
silangkan di depan dadanya, tak sabar menunggu penjelasan tentang apa yang baru saja dilihatnya.