
Keesokan harinya mereka kembali setelah berlibur dua hari di pulau Batu, Zen menurunkan Daniel dan yang lainnya di depan kafe, hanya tersisa Reina yang masih di dalam mobil, laki-laki itu tidak mengantar gadis cantik itu ke kontrakan melainkan ke apartemen miliknya.
“Ini bukan jalan ke kontrakan aku, kita mau kemana mas?” tanya Reina ketika melihat jalan yang tidak mengarah
ke kontrakannya.
Zen menoleh ke samping menatap kekasihnya sembari tersenyum “ ke apartemen aku” ucapnya santai.
Reina terdiam, seperti ada sesuatu yang di pikirkannya, ia bahkan tak mengomentari ucapan kekasihnya itu. Zen menghentikan mobilnya di depan sebuah supermarket dan meminta Reina menunggunya di dalam mobil, laki-laki itu kemudian turun dari mobil dan berjalan masuk ke dalam. Sembari menunggu Zen, gadis itu asyik berselancar
dengan ponselnya menggeser naik dan turun benda pipih yang di pegangnnya, sesekali senyum terlihat mengembang di bibirnya saat melihat ada sesuatu yang lucu.
Lima belas menit kemudian Zen keluar dengan membawa tentengan plastik besar di tangannya, Reina yang melihat kekasihnya itu heran kenapa dia tak mengajaknya ke dalam.
“Kalau mau belanja bahan makanan kenapa aku nggak di ajak” keluh gadis itu dengan memperlihatkan wajah cemberut.
Zen tersenyum “ aku nggak mau kamu kecapean, lagian aku nggak belanja banyak, cuma beli kekurangannya aja”
sahutnya sambil mengelus puncak kepala Reina setelah ia duduk di belakang kemudi.
__ADS_1
Zen menjalankan mobil menuju apartemennya, hanya butuh 20 menit akhirnya sampai di apartemen miliknya. Reina sudah tak asing dengan apartemen milik kekasihnya itu karena ia sudah beberapa kali datang kesana. Laki-laki itu membuka pintu dan masuk ke dalam di susul Reina di belakangnya.
Zen langsung masuk ke dalam kamar untuk membersihkan diri, sedangkan gadis itu membawa plastik yang berisi bahan makanan ke dapur. Ia mengeluarkan satu per satu bahan makanan dari dalam plastik sambil mengecek apa saja yang telah di beli kekasihnya itu.
\~\~\~
Setelah selesai mandi, ia memakai celana pendek dan kaos kemudian keluar dari kamarnya, ia mencari keberadaan Reina yang ternyata ada di dapur. Dengan langkah pelan Zen berjalan menghampiri kekasihnya yang sedang mencuci tangannya di wastafel. Laki-laki itu langsung mendekap tubuh kekasihnya dari belakang hingga membuatnya terkejut.
“Mas Zen” teriaknya menoleh ke belakang.
Zen tersenyum, kemudian ia menjatuhkan kepalanya di bahu Reina dengan tangan yang terus bergerak meraba-raba perut rata gadis itu. Tangannya yang tak bisa diam membuat Reina mencubitnya agar dia berhenti.
“Awww, sakit Rei” desisnya, namun ia tak melepaskan dekapan tangannya.
Zen menggeleng “ aku saja yang masak, dan kamu lebih baik mandi” tuturnya sambil mengendus tubuh Reina.
Reina mencium tubuhnya sendiri dan tersenyum “yah sebaiknya aku memang mandi” gadis itu melepaskan tangan Zen lalu berjalan menuju kamar kekasihnya. Setelah menyelesaikan ritual mandinya, Reina baru menyadari jika bajunya semuanya kotor dan belum di cuci, ia yang masih memakai handuk keluar dari kamar mandi dan mencari pakaian milik Zen di lemari yang pas untuk di pakainya.
Namun hal tak terduga terjadi Zen tiba-tiba masuk ke dalam kamar dan mendapati kekasihnya hanya memakai handuk dengan rambut yang basah, laki-laki itu menatap dengan menelan salivanya beberapa kali. Reina yang merasa tidak enak karena membuka lemari kekasihnya tanpa izin langsung meminta maaf.
__ADS_1
“Maaf mas Zen aku berbuat lancang tidak meminta izin dulu saat membuka lemari, baju ku semuanya kotor jadi aku
berniat meminjam baju mu” ungkap Reina yang terlihat takut jika Zen marah.
Laki-laki itu diam tak bersuara, ia terus menatap Reina dari ujung rambut sampai ujung kaki, entah kenapa ada sesuatu yang membuatnya tidak tenang, jantungnya berdetak sangat cepat, ia merasa suhu ruangan di dalam kamar terasa panas walaupun sudah menggunakan ac.
Reina meremas kedua tangannya dan menundukkan kepala melihat Zen yang terus menatapnya, ia bahkan tak sadar hanya menggunakan sehelai handuk yang menutupi tubuhnya. Zen perlahan berjalan mendekati Reina, bau tubuhnya sehabis mandi apalagi melihat buliran air yang menetes dari rambut basahnya membuat akal pikiran Zen seolah lumpuh. Ketika Zen sudah berada di depannya Reina menggeser tubuhnya yang berdiri di depan pintu lemari yang terbuka, lalu laki-laki itu mengulurkan tangannya mengambil baju yang tersusun rapih.
“Pakai ini” Zen memberikan kaos berwarna putih kepada Reina, tak sengaja matanya melihat dua benda kenyal milik keksaihnya itu yang sedikit menyembul, yang lagi-lagi membuat jakunnya naik turun tidak karuan.
“Cobaan apalagi ini ya Tuhan” batinnya.
Zen buru-buru keluar dari kamar ia tidak ingin otaknya digelayuti dengan pikirannya yang kotor, dengan langkah
lebar Zen keluar dari kamar dan menutup pintunya. Setelah mendapatkan baju, Reina langsung memakainya, ia kemudian keluar dari kamar berniat membantu Zen memasak.
Gadis itu berjalan menuju dapur dan melihat Zen tengah sibuk meracik sayuran “aku bantuin mas” tutur Reina.
Zen menoleh ke arah Reina dan ia merasa bersalah memberikan kaos berwarna putih itu pada kekasihnya, pakaian
__ADS_1
dalam Reina yang berwarna hitam terpampang jelas di matanya membuatnya menghela napas panjang.
“Apa kamu sengaja mau godain aku Rei” batin Zen yang tersiksa karena jiwa kelelakiannya mulai menguasai dirinya.