
Di balkon apartemennya Zen duduk termenung di kursi gantung sambil memikirkan apa yang ayahnya katakan,
memintanya untuk bergabung dengan perusahaan. Sudah sejak lama setelah penolakannya dulu ternyata ayahnya masih menginginkan dirinya untuk membantunya di perusahaan. Sebenarnya bisa saja dirinya memenuhi permintaan Marlon, namun hatinya belum sreg karena harus duduk di balik meja selama berjam-jam.
Reina datang membawa secangkir kopi berjalan menghampiri kekasihnya. Reina menatap Zen yang sedang melamun, kemudian gadis itu menepuk pelan pundak Zen agar ia tersadar dari lamunannya.
“Mas” panggilnya lembut.
“Eh kamu Rei” dia menoleh menatap Reina.
Gadis itu memberikan secangkir kopi yang di bawanya sambil mendudukkan tubuhnya di kursi gantung samping Zen.
“Kamu kenapa?” tanya gadis itu khawatir.
“Aku lagi mikirin omongan ayah, menurut kamu gimana Rei?” Zen meneguk segelas kopi yang di pegangnya sambil
menatap Reina menunggu gadis itu memberi pendapat tentang permasalahan yang di pikirkannya.
“Ikuti kata hati mas Zen, tapi...” Reina menjeda perkataannya.
“Tapi apa Rei?” sambar Zen.
“Aku pengen denger alasannya kenapa mas Zen nggak mau ikut bergabung di perusahaan om Marlon?”
“Aku nggak suka duduk berjam-jam di belakang meja” ungkapnya, Zen memberikan cangkir di tangannya kepada Reina, tersisa setengah kopi setelah laki-laki itu meminumnya, Reina kemudian meneguk sisa di dalam cangkir kopi tersebut sampai habis.
Zen menatap Reina setelah gadis itu menghabiskan kopinya, laki-laki itu melihat ada sisa kopi menempel di bibir
__ADS_1
kekasihnya itu. Zen tersenyum kemudian mengayunkan tanganya menyeka sisa kopi yang menempel dengan jarinya. Reina tersentak, refleknya yang cepat memundurkan sedikit kepalanya. Setelah menyeka bibir Reina dengan jarinya, laki-laki itu menjilat sisa kopi yang menempel di jarinya sambil melirik ke arah Reina.
Reina yang melihat menggeleng kepalanya pelan, kemudian gadis itu beranjak dari duduknya hendak meletakkan
cangkir ke atas meja. Namun Zen malah menarik tangan Reina membuat gadis itu kembali ke posisinya semula.
“Ihh mas...” Reina tak sempat meloloskan kata-katanya karena Zen lebih dulu membungkam bibir gadis itu dengan
bibirnya. Reina hanya diam dengan satu tangannya masih memegang cangkir kopi. Ia menikmati sentuhan lembut bibir kekasihnya dengan mata tertutup.
\~\~\~
\~\~\~
Di tempat lain, seorang laki-laki paruh baya duduk dengan menyenderkan punggungnya di kursi di sebuah ruangan
“Tuan memanggil saya” ucap laki-laki itu, ia berdiri tegak di hadapan pria paruh baya itu yang ternyata
adalah Alex.
“Aku ingin kau bawa gadis ini ke hadapanku” perintah Alex sambil memberikan sebuah foto gadis cantik yang sedang tersenyum, yang tidak lain adalah Reina.
“Baik tuan” laki-laki itu kemudian berbalik hendak pergi dari ruangan Alex. Ketika laki-laki itu baru saja akan membuka pintu, Alex menghentikan langkahnya.
“Tunggu! aku berharap gadis itu mau ikut dengan mu tanpa paksaan, namun bila gadis itu menolak berikan dia
ancaman tapi jangan sampai kau menyakitinya, mengerti!” tegas Alex, setidaknya pria paruh baya itu masih punya hatu nurani untuk tidak menyakiti keponakannya.
__ADS_1
Laki-laki bertubuh kekar itu mengangguk “mengerti tuan” sahutnya, kemudian ia membuka pintu dan keluar dari
ruangan kerja Alex. Lak-laki bertubuh kekar yang bernama Damian ini mangamati dengan seksama foto seorang gadis yang di pegangnya. Melihat paras cantik gadis itu, Damian merasa tak asing melihatanya, ia teringat akan gadis yang pernah di temuinya di kafe.
Di apartemen Zen...
Reina duduk di sofa ruang tamu sembari menatap layar laptop di depannya, ia sedang melakukan live zoom bersama Sarah, dari arah dapur Zen barjalan dan menatap Reina yang terlihat fokus dengan layar laptopnya. Saat gadis itu berbicara Zen menatap heran, ia mengira kekasihnya berbicara seorang diri.
Mata laki-laki itu terfokus pada gerak bibir Reina yang menggemaskan, ia teringat kembali ciuman yang baru saja
mereka lakukan di balkon, Dengan senyum smirik Zen melangkahkan kakinya mendekati Reina dan mendudukkan tubuhnya di samping Reina tanpa melihat ke arah laptop. Tiba-tiba Zen menarik tengkuk leher kekasihnya itu lalu mendaratkan sebuah ciuman di bibir Reina. Gadis itu tersentak, ingin sekali ia memberi tahu bahwa dirinya sedang membahas tugas kampus dengan Sarah melalui live zoom, namun bibirnya yang di bungkam bibir Zen membuatnya tak bisa melontarkan kata-kata. Tak habis akal Reina memukul-mukul dada bidang Zen agar laki-laki
itu berhenti menciumnya, namun bukannya melepaskan ciumannya Zen malah semakin memperdalam ciumannya hingga menautkan lidah mereka. Dari tempat lain, Sarah yang menyaksikan adegan live ciuman sahabat dan sepupunya itu membelalakan pupil matanya lebar dengan mulut menganga sempurna.
Sedangkan Reina masih terus berusaha memberitahu Zen jika sarah melihat apa yang dilakukannya sekarang,
akhirnya dengan sekuat tenaga Reina mendorong tubuh Zen, hingga laki-laki itu melepaskan ciumannya.
“Kamu kenapa sih Rei, nggak mau di cium sama aku” tutur Zen kesal.
“Itu mas itu...” dengan jarinya Reina menunjuk ke arah layar laptopnya, Zen kemudian menoleh ke layar laptop
yang ada di depannya, betapa terkejutnya ia melihat Sarah di sana menyaksikan pergulatannya dengan Reina.
“Mas Zen!” teriak Sarah dari seberang.
Zen tersenyum canggung sambil menggaruk tengkuk lehernya, kemudian secepat kliat ia berdiri dan melesat
__ADS_1
meninggalkan Reina yang tertunduk malu akibat perbuatan mesvmnya yang di saksikan langsung oleh sepupunya itu.