
Pulang dari toko kue, Reina diantar Sarah ke perusahaan Zen, saat sudah berada di lobi, Yongki yang diminta
Zen untuk menjemput kekasihnya menghampiri Reina dan langsung meminta gadis itu mengikutinya ke ruangan kerja bosnya di lantai paling atas.
“Silakan mba Reina masuk, mas Zen sudah menunggu sejak tadi” dengan sopan Yongki menyuruh Reina masuk ke ruangan, ia sendiri berbalik kembali ke ruangan kerjanya.
Reina membuka pintu dan melihat Zen tengah berdiri di depan dinding yang terbuat dari kaca melihat ke arah luar. Laki-laki itu menoleh saat Reina menyapanya dari depan pintu.
“Kamu udah dateng” Zen berjalan menghampiri Reina dan langsung mengecup sekilas bibir kekasihnya.
“Ngapain mas Zen minta aku datang ke sini?”
Zen tak menjawab, laki-laki itu berjalan menuju meja kerja dan mengambil ponselnya yang tergeletak di atas meja. Ia kemudian mengajak Reina keluar dan turun ke bawah.
Keluar dari lift Zen menggandeng tangan Reina yang di saksikan oleh para pegawainya, mereka tertegun saat melihat keduanya nampak tersenyum ke arah mereka.
“Pasangan serasi” ucap salah satu pegawai yang terus memandangi mereka hingga keduanya masuk ke dalam mobil.
“Iya, satu laki-laki tampan udah sold out, aku jadi patah hati deh” timpal yang lainnya.
“Tenang aja, masih ada pak Yongki” ujarnya seraya menyenggol tangan temanya, lalu keduanya tertawa kompak.
\~\~\~
\~\~\~
Zen melajukan mobilnya menuju suatu tempat yang ia rahasiakan, karena terlalu percaya pada kekasihnya, gadis itu hanya duduk diam sambil menatap keluar jendela. Ia tidak peduli akan di bawa kemana oleh Zen.
Sampailah keduanya di sebuah restoran, Zen turun dari mobil lalu memutar untuk membukakan pintu untuk Reina.
Gadis itu turun seraya mengucapkan terima kasih.
Zen mengajak Reina masuk ke dalam restoran menuju ruangan VIP yang sudah di pesannya, saat mereka masuk ke dalam, di sana sudah ada Marlon yang duduk di belakang meja.
Zen tersenyum melihat ayahnya yang sudah lebih dulu ada di dalam, Reina menyapa Marlon dengan mengulurkan
tangan mencium punggung tangan pria tua itu.
“Apa kabar Rei?” tanya Marlon dengan senyuman.
__ADS_1
“Baik om” jawab gadis itu cepat.
Kemudian Reina dan Zen duduk berdampingan, pintu terbuka nampak seorang pelayan datang membawa makanan yang sebelumnya sudah di pesan oleh Marlon. Sebelum Reina datang ke perusahaan menemui Zen, laki-laki tampan itu terlebih dulu menghubungi Marlon meminta ayahnya untuk datang ke restoran yang sudah di pesannya.
Pelayan itu menghidangakn banyak makanan di atas meja, “selamat menikmati” ucap pelayan itu sebelum pergi
meninggalkan ruangan.
Zen, Reina dan Marlon menyantap makanan yang tersaji di atas meja. Ketiganya menikmati setiap suapan yang masuk ke dalam mulut mereka. Enak, kata itu yang pas di gambarkan pada makanan yang ada di hadapan mereka. Restoran ini memang terkenal dengan masakannya yang enak, karena di masak oleh para koki yang handal di bidangnya.
Setelah selesai makan, Reina meminta izin untuk ke toilet, di saat gadis itu keluar Zen memberitahu ayahnya
mengapa ia meminta ayahnya datang ke restoran.
“Jadi ini alasannya kamu minta ayah buru-buru pulang” padalal sehari sebelumnya Marlon sedang berada di luar
kota, namun karena permintaan putranya ia meninggalkan urusannya begitu saja.
Zen tersenyum malu, terkadang putranya yang sudah dewasa ini masih saja kekanak-kanakan. Kalau minta sesuatu maunya segera di penuhi.
Reina masuk ke dalam setelah beberapa saat ke toilet, ia melihat Zen berdiri tegak di samping ayahnya. Kemudian meminta kekasihnya untuk mendekat. Kini mereka berdua sudah berdiri saling berhadapan di depan Marlon.
“Ada apa ini mas?” tanya Reina yang bingung ketika melihat Zen nampak siap melakukan sesuatu.
*
“Beberapa waktu telah kita lewati, banyak yang sudah kita lalui bersama, tidak mudah memang, tapi kita selalu bisa melewatinya. Aku sudah menunggu saat ini untuk waktu yang lama bukan karena desakan ayah yang selalu menyuruhku untuk segera melamar mu” Zen menghentikkan kata-katanya saat Marlon memukul tangannya.
“Apaan sih yah” ujar Zen kesal karena ayahnya mengganggunya saat ia sedang berbicara romantis pada Reina.
“Kenapa ayah di bawa-bawa” pungkas Marlon heran.
Reina tertawa melihat interaksi keduanya, lamaran yang awalnya romantis berubah menjadi sebuah pertengkaran kecil antara anak dan ayah.
“Aku terima mas Zen” ucap Reina yang membuat Marlon dan Zen tertegun lalu menoleh ke arah gadis itu.
“Maaf Rei, aku melamar mu dengan cara sederhana seperti ini” tutur Zen merasa bersalah.
“Nggak masalah mas Zen, yang sekarang aku butuhkan kamu segera memasangkan cincin itu di jariku” terang
__ADS_1
Reina yang membuat Zen dan Marlon tertawa.
Zen mengambil cincin itu dari tempatnya lalu memasangkanya di jari manis Reina. Kemudian laki-laki itu memeluk erat tubuh kekasihnya.
“Terima kasih Rei, kamu sudah hadir dalam kehidupan aku” tuturnya lembut.
“Ehem...Ehem...” deheman Marlon membuat Zen melepaskan pelukannya.
“Ayah ganggu aja” keluh Zen kesal.
“Ayah juga ingin di peluk oleh kalian” Marlon merentangkan kedua tangannya agar dua sejoli yang ada di
hadapannya memeluk tubuh tuanya.
Zen dan Reina saling memandang satu sama lain, lalu melangkah maju memeluk Marlon di kanan dan di kirinya,
Marlon mendekap keduanya dengan penuh kasih sayang. Senyum bahagia terpancar dari wajahnya yang masih kelihatan tampan di usianya yang sudah tidak muda lagi.
Zen dan Reina kembali ke apartemen setelah pulang dari restoran sedangkan Marlon kembali keluar kota untuk
melanjutkan pekerjaanya yang tertunda karena acara lamaran putranya yang terkesan mendadak. Namun Marlon senang akhirnya putra satu-satunya menemukan kebahagiaan hidupnya bersama gadis yang di cintainya. Sebelum Marlon kembali ke luar kota ia menyempatkan berziarah ke makam istrinya.
“Sayang anak mu sudah besar dan sekarang ia sudah punya seseorang yang akan menemaninya hingga tua nanti, aku berharap kamu juga senang mendengarnya” Marlon menitikkan air mata seraya mengusap pusara istrinya. Kemudian ia kembali masuk ke dalam mobil dan berlalu pergi untuk melanjutkan perjalanannya ke luar kota.
Di dalam kamar, seorang gadis tak henti-hentinya menatap cincin berlian yang melingkar cantik di jari manisnya. Ia
tak menyangka Zen secepat ini melamarnya. Saat baru saja ia akan memejamkan mata ketukan pintu dari luar membuatnya mengurungkan niatnya. Zen langsung masuk begitu saja tanpa meminta izin terlebih dulu dari si pemilik kamar.
“Kamu belum tidur?” tanya Zen, ia berjalan menghampiri Reina yang terbaring di kasur.
“Ini baru mau tidur” Kata gadis itu lembut.
Zen kemudian menyibakkan selimut yang menutupi tubuh Reina dan ikut berbaring di sampingnya, laki-laki itu lalu
melingkarkan tangannya di pinggang kekasihnya. Reina dan Zen kini berbaring di bawah satu selimut, dengan posisi saling berhadapan.
“Mulai malam ini aku tidur sama kamu” bisik Zen yang membuat Reina tersentak.
“Kenapa?” tanya Reina dengan menaikkan satu alisnya.
__ADS_1
“Biar kamu terbiasa” ucap laki-laki itu seraya mencubit pelan perut Reina yang membuat gadis itu kegelian.
“Mas Zeeeen” teriaknya.