CINTAI AKU SELAMANYA

CINTAI AKU SELAMANYA
BAB 59


__ADS_3

Karena malam sudah semakin larut, Marlon akhirnya berpamitan dengan Zen dan juga Reina, sebelum pergi ia berpesan pada putranya agar tidak melakukan macam-macam pada Reina, namun di tanggapi dingin oleh Zen.


“Ayah kayak nggak pernah muda aja” ucap Zen kala itu yang membuat Marlon geleng-geleng kepala mendengarnya, pria itu hanya mencoba mengingatkan, namanya laki-laki dan perempuan satu rumah apalagi mereka menjalin hubungan pasti rentan untuk melakukan hal-hal di luar batas.


Marlon berharap agar anaknya bisa segera menikah dan memberinya cucu, di usia senjanya ia hanya ingin hidup


tenang bersama cucunya nanti menjalani kehiduan yang damai tanpa memikirkan masalah perusahaan. Itu lah mengapa Marlon menginginkan Zen untuk bergabung di perusahaan, melimpahkan semua tanggung jawab pada anak tunggalnya itu.


Dalam perjalanan menuju rumahnya Marlon lebih banyak diam, pandangannya menatap keluar jendela menerawang jauh, Yongki yang sedang mengemudi sesekali melirik dari kaca spion mengamati apa yang sedang di lakukan bosnya di kursi belakang.


“Tumben banget pak Marlon diam, biasanya dia banyak bicara” batin Yongki. Semenjak dari apartemen Zen, atasannya lebih banyak diam, ia seperti sedang memikirkan sesuatu, apa ini ada hubungannya dengan Zen.


Yongki pun tidak ambil pusing, yang dia lakukan sekarang hanya menjalankan tugas yang di perintahkan oleh


atasannya, kalau untuk masalah keluarga atasannya itu, di luar jangkauannya.


Di apartemen Zen...


Reina berdiri di balkon sambil menyenderkan tubuhnya di railing pagar, secangkir teh menemani gadis itu dalam


kesendirian. Diminumnya teh yang di pegangnya seteguk demi seteguk seraya menikmati indahnya pemandangan kota di waktu malam yang di hiasi lampu. Dari belakang Zen berjalan menghampiri kekasihnya.


“Kamu lagi lihat apa?” Zen melingkarkan tangannya ke perut Reina, dagunya ia senderkan ke pundak Reina sambil menghirup aroma parfum dari tubuh kekasihnya yang membuatnya nyaman.


“Lihat deh mas, kelihatan indah kan” Reina menunjuk ke arah mobil-mobil di bawah sana yang beringsut-ingsut menjalar di jalanan yang padat, dari atas hanya terlihat lampu-lampunya yang menyala.


“Besok aku udah mulai kerja di perusahaan ayah, untung aja sekarang kita tinggal bareng jadi tiap hari masih


bisa ketemu” suara Zen lirih, laki-laki itu makin mendekap erat tubuh Reina.


Zen melepas pelukannya lalu memegang kedua lengan kekasihnya dan membalikan tubuhnya ke hadapan laki-laki


itu. Ia menatap manik mata Reina yang indah, tangannya mengusap lembut pipi gadis itu.


“Rei, ayo kita nikah” ucap Zen penuh keyakinan.


Reina terdiam seraya terus memandangi wajah Zen, gadis itu sedang mencerna apa yang baru saja di


dengarnya, apa ia tidak salah dengar, tiba-tiba kekasihnya mengajak nikah. Hatinya bergemuruh antara senang dan bingung.


“Rei!” seru Zen, gadis tak menanggapi ajakannya untuk menikah.

__ADS_1


“Apa mas udah yakin sama aku? Bagaiamna dengan om Marlon, apa dia setuju mas Zen nikah sama aku” suara gadis itu lirih, antara dia dan Zen bagaikan bumi dan langit.


“Ayah malah yang nyuruh aku segera nikahin kamu, dia takut punya cucu duluan sebelum kita nikah” Ucap Zen


dengan seulas senyum tipis dan penuh harap jika kekasihnya akan setuju untuk menikah.


“Bagaimana?” tanya Zen lagi, ia tak sabar menunggu jawaban yang keluar dari mulut kekasihnya, walaupun


sebenarnya ia yakin Reina pasti akan setuju menikah dengannya.


“Maaf mas, aku nggak bisa” tutur gadis itu dengan kepala tertunduk.


Bagaikan di sambar petir, Zen tidak percaya dengan jawaban yang di lontarkan Reina, bagaimana mungkin


kekasihnya menolak ajakannya untuk menikah, apa ada yang kurang dalam dirinya? Apa jangan-jangan selama ini kekasihanya tidak mencintai dirinya?


“Kenapa Rei” suara Zen dalam, terdengar kesedihan dari pertanyaannya. Tangannya mencengkeram erat kedua


lengan Reina membuat gadis itu memekik kesakitan.


“Awww, sakit mas”


Melihat kesedihan di mata Zen karena penolakannya membuat Reina tersenyum, ia menangkup pipi Zen dengan kedua tangannya.


“Aku tadi belum selesai ngomong, aku nggak bisa, karena aku nggak bisa nolak kamu” pungkas gadis itu, Reina


kemudian menarik wajah Zen agar mendekat ke wajahnya, lalu tanpa malu gadis itu mengecup sekilas bibir Zen, membuat Zen terdiam sembari mengerjap-ngerjap kedua matanya. Otaknya masih belum berfungsi dengan baik jadi Zen hanya diam mematung.


Melihat Zen yang masih shock setelah mendengar jawabannya, Reina pun akhirnya meninggalkan Zen sendiri di balkon, gadis itu kemudian berjalan masuk ke dalam menuju kamarnya.


“Jadi kamu setuju Rei” teriak Zen setelah sadar gadis itu setuju untuk menikah dengannya, laki-laki itu pun


mengejar Reina sampai ke kamar, saat Reia akan menutup pintu kamar, Zen menghalagi dengan tangannya ia masih belum puas dan ingin mendengar sekali lagi jawaban kekasihnya untuk memastikan jika ia tak salah dengar.


“Jadi kamu beneran setuju nikah sama aku”


Reina menganggukkan kepalanya “iya” sahut gadis itu.


Senyum sumringah terlihat jelas dari bibirnya, saking senangnya Zen bahkan mengangkat tubuh Reina dan memutarnya beberapa kali hingga gadis itu mengeluh pusing.


“Mas turunin aku, kepala aku pusing” desis Reina, mendengar keluhan kekasihnya Zen segera menurunkan tubuh

__ADS_1


kekasihnya.


“Maaf Rei, aku terlalu senang mendengarnya, aku akan ngasih tahu ayah kabar gembira ini” Zen bergegas keluar


dari kamar Reina, namun baru sampai di ambang pintu, laki-laki itu kembali membalikkan tubuhnya dan berjalan mengampiri Reina lalu dengan cepat ia mencium bibir gadis itu dan kembali berjalan keluar.


Reina masih berdiri di posisinya menatap punggung Zen yang menghilang dari balik pintu, kemudian ia berjalan ke


arah ranjang dan duduk di atasnya. Reina mengambil album foto yang di simpan di dalam nakas.


“Ayah, ibu, aku sudah menemukan orang yang akan menjagaku dan melindungiku, ayah dan ibu mggak usah khawatir lagi” bibirnya bergetar saat ia berbicara dengan foto ayah dan ibunya, buliran bening menetes membasahi pipinya.


\~\~\~


“Apa! Ayah nggak salah denger” Marlon terkejut ketika Zen memberitahu ia akan menikah dengan Reina. Seulas


senyum terukir di kedua sudut bibir Marlon, pria itu memang menginginkan putranya untuk segera menikah. Ia pun meminta Zen untuk segera melangsungkan pernikahan.


Hari yang bersejarah untuk Zen pun tiba, pagi-pagi laki-laki itu sudah rapih dengan memakai jas lengkap melekat di tubuhnya, ia tidak pernah memakai pakaian formal seperti saat ini, bila datang ke kafe ia lebih sering memakai pakaian casual.


Reina keluar dari kamar setelah merias wajahnya, ia melihat Zen tengah berdiri di depan pintu sambil mengatur


napas, sepertinya laki-lai itu gugup.


“mas Zen” panggil Reina, gadis itu berjalan ke arahnya dengan tersenyum manis.


“Gimana Rei, penamipilan aku?” Zen meminta pendapat kekasihnya tentang jas yang di pakainya.


“Apapun yang kamu pakai, selalu cocok di badan kamu” puji Reina, ia mengulurkan tangannya merapikan dasi yang melekat di leher Zen, setelah itu ia merapikan jasnya.


“Ayo kita berangkat, aku antar kamu dulu ke kampus” Zen menggenggam tangan Reina dan membawanya menuruni lift untuk mengambil mobil di basement.


Setelah sampai di kampus saat Reina akan turun dari mobil, Zen meraih tangan Reina menahan gadis itu untuk


tak buru-buru keluar.


“Ada apa mas?” Reina heran laki-laki itu tersenyum smirik ke arahnya.


“Asupan vitaminnya mana?” Zen mengerucutkan bibirnya minta di cuim oleh Reina.


Gadis itu tersenyum  lalu tubuhnya mendekati Zen dan mencium bibir kekasihnya itu, tak puas hanya di cium sekilas, lalu ia memperdalam ciumannya.

__ADS_1


__ADS_2