
Damian masuk ke ruang kerja Alex dengan membawa map di tangannya, lalu setelah sampai di depan meja bosnya, Damian menyerahkan map tersebut.
“Ini tuan informasi yang anda minta” tutur Damian.
Alex mengambil map tersebut dari tangan Damian, kemudian pria tua itu membukanya, tampak jika Alex berdecak
kagum saat mengetahui latar belakang dari atasan keponakannya. Ia tak menyangka jika anak muda itu adalah putra tunggal dari Marlon Dave, pemilik perusahaan Dave Corporation.
“Zen Marlon” gumam Alex.
“Apa informasi ini benar?” tanya Alex pada Damian, ia ingin memastikan jika asistennya itu mendapatan info dari
sumber yang terpercaya.
Damian mengangguk “benar tuan dan sekarang putra pak Marlon sudah menggantikan posisinya di Dave Corporation” tuturnya.
“Bukankah kita punya proyek kerja sama dengan perusahaan Dave Corporation?”
“Benar tuan”
“Bagus kalau gitu, kita harus mendapatkan proyek kerja sama itu, karena yang aku tahu Dave Corporation akan
menjadi investor, perusahaan kita akan mendapat keuntungan banyak jika proyek itu bisa kita dapatkan”
Senyum sumringah terlihat di wajah Alex, ia tidak menyangka jika anak laki-laki yang pernah memukulnya itu
adalah anak Marlon Dave. Sepertinya mulai sekarang ia harus bersikap baik kepada Reina, karena ia tahu jika keponakannya itu dekat dengan Zen.
Alex beranjak dari duduknya lalu ia mengambil jas yang tergeletak di sofa “ayo kita temui keponakanku yang cantik itu” ucap Alex yang keluar dari ruang kerjanya diikuti Damian di belakangnya.
\~\~\~
“Rei, ini pesanan kopi yang harus kamu antar” tutur Daniel sambil menyerahkan dua cup kopi kepada Reina.
Reina menatap Daniel dengan sorot mata penuh arti, sekarang sudah menjadi kebiasaan untuk Reina mengantar kopi pesananya Zen, setiap hari Zen selalu meminta kekasihnya untuk datang ke perusahaan. Laki-laki itu selalu bisa mencari celah agar tiap hari bisa bertemu dengan Reina walaupun mereka sama-sama sibuk.
\~\~\~
Suara ketukan pintu yang selalu di tunggu Zen saat jam makan siang, laki-laki itu sudah berdiri di depan pintu
dan bergegas membukanya.Reina mengangkat tangannya dan memberikan kopi pesanan Zen.
”Aku nggak bisa lama-lama mas, kafe lagi ramai” tutur Reina memberitahu kekasihnya agar tak menahannya terlalu
__ADS_1
lama. Zen menarik tangan Reina hingga membuat tubuh gadis itu masuk ke dalam.
Zen tersenyum lalu membawa gadis itu untuk duduk di sofa “hanya ini yang bisa aku lakukan, biar bisa sering
ketemu sama kamu, kalau pagi kita cuma ketemu sebentar, sedangkan kalau aku pulang kamunya udah tidur” dengusnya kesal.
“Cup...Cup...Cup...” Reina membelai lembut rambut Zen yang halus. Apa yang dilakukan Reina sama saja
membangunkan macan yang sedang tidur.
Mendapat belaian seperti itu dari kekasihnya membuat darah Zrn bergejolak, dengan tangannya ia manarik tengkuk
leher Reina dan melahap bibir gadis itu tanpa ampun. Mereka tak sadar ada dua orang yang baru saja masuk ke dalam ruangan kerja Zen yang pintunya terbuka lebar, membuat siapa saja yang berada di luar bisa menyaksikan kelakuan dua sejoli yang sedang kasmaran itu.
“Ehem” deheman Marlon mengagetkan Zen dan Reina. Dengan sekuat tenaga Reina mendorong tubuh kekar kekasihnya hingga mundur beberapa jengkal saja.
“Om” sapa Reina, gadis itu langsung berdiri dengan pipi merah merona karena malu terciduk sedang
berciuman dengan putranya.
“Jadi ini kelakuan presdir baru kita Yon” Marlon menyindir putranya di depan Reina dan Yongki.
Yongki hanya diam sambil menahan tawa, ia menanggapi sindiran Marlon pada anaknya dengan anggukkan.
“Ayah datang di saat waktu yang tidak tepat” gerutunya kesal karena ayahnya mengganggu saat ia sedang ciuman
dengan Reina.
“Ayah heran kamu masih bisa cari alasan untuk bisa ketemu sama Reina, padahal kalian juga tinggal bersama, tiap
hari di apartemen juga ketemu” ujar pria paruh baya itu dengan kening berkerut.
“Kayak ayah nggak pernah muda aja” Zen tersenyum meledek, membuat Marlon hanya geleng-geleng kepala menanggapinya.
“Kalau sampai ayah datang ke kantor, berarti ada hal penting yang harus di bicarakan”
Marlon tersenyum, anaknya memang tahu jalan pikirannya, karena kejeniusan Zen menurun dari dirinya. Pria paruh
baya itu lantas mendudukkan tubunya di sofa, ia mulai menceritakan proyek baru kepada Zen.
“Ayah ingin proyek ini di dapatkan oleh perusahaan keluarga Warren?” Zen menjeda perkatannya sebentar “tapi
kenapa yah?” tanya Zen heran.
__ADS_1
“Nanti kamu juga akan tahu” pernyataan Marlon banyak yang mengandung teka-teki, entah apa yang kali ini
pria tua itu rencanakan. Dalam mengurus masalah perusahaan Zen masih perlu banyak belajar dari Marlon, sebab itu ia masih selalu meminta bantuan ayahnya bila ada hal yang kurang di mengerti.
Sementara di kafe, Daniel terkejut dengan kedatangan Alex dan asistennya, selain memesan minuman mereka
juga mencari Reina. Sudah di katakan oleh Daniel jika Reina sedang sibuk mengantar pesanan pelanggan, namun dengan santainya ia duduk di meja dekat pintu sambil menunggu kedatangan Reina.
Reina yang dalam perjalanan ke kafe menghentikan motornya di tepi jalan untuk memeriksa ponselnya yang sedari
tadi berdering. Ia mengangkat telepon yang ternyata dari Daniel.
“Rei, kamu di mana?” tanya Daniel dengan suara lirih.
“Lagi di jalan mas, ini mau balik ke kafe” sahut gadis itu, suara Daniel terdengar aneh di telinganya.
“Jangan balik dulu ke kafe, terserah kamu mau pergi kemana dulu, tapi jangan ke kafe sekarang” pinta Daniel.
“Emang kenapa mas?” tanya Reina, ia semakin heran dengan perkataan bosnya.
“Om kamu ada di kafe, dia nungguin kamu datang” apa yang di katakan Daniel membuat Reina terkejut. Sepertinya
ia masih belum menyerah untuk meminta dirinya menandatangani dokumen, pikir gadis itu.
Setelah panggilan telepon di akhiri, Reina terdiam di atas motor. Ia memikrkan apa yang harus di lakukannya,
apa kembali ke kafe menemui omnya yang sedang menunggunya atau terus menghindarinya.
Reina memejamkan matanya sebentar mencari jawaban atas kegelisahan hatinya, tak lama ia pun membuka matanya kembali, sepertinya ia sudah memiliki keputusan apa yang harus di lakukannya sekarang.
Reina lalu menjalannkan motornya, keputusan yang di ambilnya adalah balik ke kafe, ia tak mau terus menghindari
omnya. Karena sampai kapan pun omnya pasti akan terus mengusik kehidupannya, lebih baik menghadapinya sekarang.
Reina tiba di kafe dan langsung memarkirkan motornya di parkiran khusus karyawan, sebelum masuk ke dalam gadis itu menghela napas dalam, barulah ia melangkahkan kakinya masuk ke dalam kafe.
“Mas lihat, itu Reina” Nadia menunjuk ke arah Reina yang baru saja masuk ke dalam.
“Kenapa dia malah balik ke kafe” ujar Daniel, padahal ia sudah meminta Reina untuk tak kembali dulu ke kafe.
Selamat Malam ...
dan selamat Membaca teman-teman
__ADS_1