CINTAI AKU SELAMANYA

CINTAI AKU SELAMANYA
BAB 39


__ADS_3

Reina dan Zen duduk saling berhadapan di sofa yang ada di ruang kerja laki-laki itu, untuk beberpa saat mereka hanya diam dan saling pandang satu sama lain. Reina menghela napas dalam sebelum menceritakan yang terjadi ketika gadis itu ada di rumah om nya.


“Mereka nyuruh aku menandatangani dokumen, tapi yang mencurigakan masa aku nggak boleh tahu isi dokumennya itu apa” ungkap Reina kesal.


“Kamu bilang peninggalan ayah kamu jatuh ke tangan om mu semua kan” ujar Zen memperjelas, sebab yang ia


ketahui semua warisan Reina jatuh ke tangan Alex.


Reina mengangguk pelan, ia kemudian kembali menghela napasnya dalam sambil memikirkan sesuatu. Lucunya Zen malah tertawa melihat ekspresi wajah Reina ketika sedang berpikir, bibir gadis itu mengerucut ke depan dengan bola mata menghadap ke atas.


Reina melirik sekilas saat menyadari Zen sedang memandanginya sambil tersenyum, dengan tatapan penuh tanda


tanya gadis itu mengarahkan pandanganya kepada Zen.


“Mas Zen kenapa senyum-senyum gitu?” tanya Reina dengan raut wajah heran.


“Nggak apa-apa, aku seneng aja ngelihat kamu” sahutnya, kemudian laki-laki itu beranjak dari tempat duduknya


menghampiri Reina.


“Mas akan selalu ada buat kamu apapun yang terjadi, kalau ada apa-apa kamu harus ngasih tahu aku, biar aku


juga nggak khawatir” ungkapnya sambil memeluk tubuh gadis itu.


Reina mengangguk dalam pelukan Zen kemudian gadis itu meminta Zen melepaskan pelukannya karena sudah waktunya ia kerja. Reina kemudian berdiri dan pergi keluar ruangan bosnya itu, sedangkan Zen masih tetap duduk di posisnya sambil memandang punggung Reina hingga gadis itu tak terlihat lagi dari balik pintu.


“Sepertinya masih ada aset berharga yang di tinggalkan om Warren untuk Reina, dan Alex pasti tahu tentang itu makanya ia minta Reina menandatangin dokumen” gumam Zen sendirian.


Reina melangkah perlahan menuju meja bar, di sana ia melihat Nadia tengah sibuk melayani pelanggan. Gadis itu


sangat sabar ketika ada pelanggan yang rewel dengan banyaknya permintaan atas kopi yang di pesannya, membuat orang-orang di belakangnya yang mengantri menjadi tidak sabar. Namun dengan telaten Nadia tetap memenuhi permintaan pelanggan yang adalah seorang ibu-ibu paruh baya.


Setelah selesai melayani pelanggan yang banyak permintaan ini, Nadia perlahan mundur ke belakang, karena

__ADS_1


sudah waktunya ia pulang, tugasnya kini di gantikan oleh Reina.


“Selamat menikmati Rei” ucapnya sebelum pergi sambil menepuk bahu Reina.


Reina menanggapinya dengan mengangkat jempol yang di arahkan untuk teman kerjanya itu seraya berkata “beres” sambil menyunggingkan senyum manis.


Nadia pun berjalan ke ruang ganti untuk mengganti seragam kerjanya, setelah bergati pakaian gadis itu tak


langsung keluar ia terlebih dulu mendudukkan tubuhnya di kursi yang ada di ruangan itu.


“Kalau ada 10 pelanggan kayak tadi, bisa-bisa aku langsung kena hipertensi” gumamya. Kemudian dari dalam


tasnya terdengar bunyi ponsel, ia mengambil ponsel itu dan melihat siapa orang yang menghubunginya, wajahnya langsung berubah senang ketika melihat nama Rian ada di layar ponselnya, gadis itu langsung mengangkat telepon dari Rian.


“Aku udah di depan kafe” ucap laki-laki itu, ia langsung mematikan teleponnya secara sepihak.


Nadia langsung beranjak dari duduknya dan berjalan keluar menemui kekasihnya yang sudah menunggunya di


“Ayo naik” ucap Rian saat Nadia sudah berada di dekatnya.


\~\~\~


\~\~\~


Di dalam kafe, Reina benar-benar sibuk karena banyak pengunjung yang datang karena bersamaan dengan karyawan yang pulang kerja, jadi sebelum mereka pulang beristirahat di rumah, mereka terlebih dulu menghabiskan waktu di kafe sambil ngobrol dengan teman.


“Mba Ice Caramel Machiato satu, less sugar ya” ucap pengunjung memesan kopi yang di pilihnya, seorang laki-laki


tampan dengan perawakannya mirip dengan Zen, laki-laki itu memakai setelan jas lengakp dengan tatanan rambutnya yang klimis.


“Baik” sahut Reina ramah tak lupa gadis itu juga menyunggingkan senyum manis.


“Mba udah lama ya kerja di sini” laki-laki itu mencoba mengajak Reina mengobrol,

__ADS_1


“Lumayan” jawab gadis itu singkat karena ia sedang sibuk meracik kopi yang di pesan laki-laki di depannya.


Kemudian mata laki-laki itu tertuju pada name tag yang terdapat di seragam Reina sambil menatap wajah cantik gadis yang ada di depannya, laki-laki itu tersenyum melihat betapa cekatanya cara gadis itu bekerja.


“Ini pesanannya Ice Caramel Machiato less sugar” tutur Reina sambil memberikan 1 cup kopi di hadapan laki-laki itu.


“Terima kasih ya...Reina” kemudian laki-laki itu pergi mencari tempat duduk yang kosong, akhirnya ia menemukan meja kosong yang terletak di pojok, dekat dengan dinding yang terbuat dari kaca.


Reina mengerutkan dahi ketika laki-laki itu menyebut namanya “dari mana dia tahu nama aku” ucapnya yang tak


sadar bahwa namanya terpampang jelas di seragam kerja yang di pakainya.


Zen keluar dari ruang kerjanya ia mendapati karyawan sekaligus kekasiihnya itu sedang menatap laki-laki yang


duduk di pojokan dengan wajah bingung. Laki-laki itu datang menghampiri Reina dengan wajah masam.


“Kamu lagi ngelihatin siapa?” Zen bertanya tepat di samping telinga Reina, membuat gadis itu terkejut karena


kedatangan Zen yang tiba-tiba.


“Mas Zen!” seru Reina.


“Aku nggak suka ya kamu mandang-mandang cowok lain, apalagi cowok modelan kayak gitu” tutur Zen dengan


wajah dingin.


“Mas Zen cemburu”


“Nggak! Siapa yang cemburu, aku cuma nggak suka, ada laki-laki lain yang kamu perhatiin sampai segitunya  padahal kamu udah punya pacar yang sempurna kayak aku” ujarnya menyombongkan diri, Reina sudah terbiasa dengan kata-kata sombog Zen yang memuji dirinya sendiri, namun itu juga salah satu hal yang di sukai Rena dari Zen.


Jangan lupa like dan komennya


terima kasih...

__ADS_1


__ADS_2