
Pukul 08.00 pagi Reina sudah bersiap berangkat ke kampus, tak seperti biasa yang selalu memakai celana jeans
dan dan kaos lengan panjang saat ke kampus, kali ini Reina memakai dress di atas lutut dengan rambut yang dibiarkan terurai, dan rutinitasnya setiap pagi sebelum berangkat gadis itu sudah menyiapkan terlebih dulu sarapan untuk Zen.
Zen keluar dari kamar lalu berjalan ke arah dapur, laki-laki itu menghentikkan langkahnya di depan meja makan, kemudian mendudukkan tubuhnya di kursi menikmati sarapan yang di buatkan oleh kekasihnya.
Saat Zen sedang menyeruput kopi , Zen terkesiap melihat penampilan Reina yang terbilang sangat cantik walaupun
dengan riasan tipis di wajahnya apalagi dengan dress yang di pakainya sangat cocok melekat di tubuh ramping gadis itu.
Zen menatap Reina tanpa berkedip, tak biasanya kekasihnya itu memakai dress, muncul pertanyaan di benak Zen, apa dia akan bertemu dengan seseorang? Zen tetap memandang Reina saat gadis itu berjalan menghampirinya. Dilihatnya penampilan kekasihnya dari ujung rambut sampai ujung kaki, bahkan matanya mengikuti kemana pun gadis itu melangkah.
Reina yang tersadar sedang di perhatikan mengernyitkan dahi, apa ada yang salah dengan penampilannya? Ia
bahkan berdiri di depan lemari yang terbuat dari kaca hanya untuk memastikan bahwa penampilannya tidak ada yang aneh.
“Kamu kenapa sih mas, kok ngelihatnya gitu banget?” tanya gadis itu penasaran saat ia mendudukkan tubuhnya di kursi, tepat di depan Zen.
“Kamu mau kemana?” Zen tak menjawab pertanyaan Reina, malah dirinya balik bertanya.
“Ya ke kampus dong mas” sahutnya sambil mengoleskan selai di atas roti.
“Ganti” pinta Zen, laki-laki itu tidak ingin kecantikan kekasihnya dinikmati oleh laki-laki lain di luar sana.
Reina menghela napas pelan, matanya melirik jam yang melingkar di tangan kirinya, sudah tidak ada waktu lagi untuknya mengganti baju, karena waktnya mepet. Namun Zen bersikeras meminta Reina memakai baju yang biasa gadis itu kenakan, celana jeans dan kaos. Reina tak mengindahkan perkataan Zen.
__ADS_1
Setelah selesai sarapan gadis itu bangkit dari duduknya kemudian berjalan masuk ke dalam kamarnya untuk mengambil tas. Ia silangkan tas itu ke tubuhnya lalu berjalan keluar setelah menutup pintu kamarnya. Zen masih terlihat duduk di kursi meja makan, matanya kembali menatap Reina yang masih memakai dress.
“Aku berangkat ya mas” pamit gadis itu berjalan menuju pintu keluar, saat baru saja tangannya memutar kenop pintu, namun di halangi oleh Zen yang sudah berdiri di belakangnya.
Gadis itu membalikkan badan “mas Zen” serunya heran dengan apa yang yang di lakukan kekasihnya itu.
Laki-laki itu menatap Reina, tanpa pikir panjang Zen langsung menggendong Reina ala bridal style berjalan
menuju kamar.
“Mas turunin aku” teriak Reina memberontak, gadis itu terus saja menggerakkan badannya agar Zen kewalahan lalu menurunkannya. Namun Zen tak bergeming, ia tetap membawa Reina dalam gendongannya masuk ke kamar, setelah sampai di kamar Zen menurunkan Reina di atas ranjang.
“Mas Zen apa-apan sih” dengus Reina dengan wajah kesal.
“Ganti bajunya, aku nggak suka kamu pakai dress itu” Zen kemudian berjalan ke arah lemari lalu membuka pintunya, ia mengambil celana jeans, kaos dan juga hem, lalu memberikannya pada Reina.
Reina menatap baju yang baru saja Zen berikan padanya, dengan menghela napas panjang gadis itu berdiri, Zen
kemudan mendekati Reina dan berbisik di telinganya “kamu boleh pakai dress kayak gitu cuma di depan aku aja” ucapnya dengan penuh penekanan.
Zen kemudian keluar kamar menunggu Reina ganti baju lalu mengantarnya ke kampus, setelah beberapa menit
Reina pun akhirnya keluar dengan memakai baju yang di pilih oleh Zen, laki-laki itu tersenyum puas, gadis itu tetap terlihat cantik walaupun hanya memakai baju sederhana. sedangkan Reina keluar kamar dengan memperlihatkan wajah cemberut.
“Udah puas sekarang” dengus Reina, yang di tanggapi anggukan kepala oleh Zen sambil menyunggingkan senyum
__ADS_1
lebar.
\~\~\~
Mereka berdua keluar apartemen, menuruni lift menuju basement untuk mengambil mobil Zen yang terparkir di sana. Kedua sejoli itu masuk ke dalam mobil, Zen kemudian membantu Reina memakai safetybelt, setelah itu barulah ia mengemudikan mobilnya keluar basement.
Menempuh perjalanan selama 30 menit, akhirnya Zen sampai di kampus tempat Reina menuntut ilmu, gadis itu
keluar turun dari mobil, kemudian dari arah belakang Reina mendengar suara perempuan memanggil namanya.
“Reina” teriak lantang Sarah dari kejauhan, gadis itu berjalan menghampiri Reina yang masih berdiri di tempatnya
berpijak sambil memandang mobil Zen yang sudah menjauh.
Reina berbalik dan menyunggingkan seulas senyum tipis di bibirnya, setelah berada di dekat Reina, gadis itu
mengayunkan tangannya memegang dagu sahabatnya, mengamati setiap bagian bibir sahabatnya yang di poles dengan lipstik warna nude.
“Apaan sih Sar?” Reina menautkan kedua alisnya, ia tidak mengerti dengan apa yang di lakukan Sarah.
“Gimana rasanya di cium sama orang ganteng?” Sarah mengerjap-ngerjapkan matanya menggoda Reina yang wajahnya bersemu merah karena malu.
Gadis itu tak menjawab, ia berlalu pergi meninggalkan Sarah begitu saja yang masih penasaran, Sarah mengejar Reina ia belum berhenti bertanya hingga sahabatnya mau menjawab. Namun Reina pun tetap kekeh menutup rapat mulutnya. Dari kejauhan terparkir mobil berwarna putih, ada dua orang yang duduk di dalamnya memperhatikan dua gadis yang sedang berjalan sambil bersenda gurau.
"Bawa gadis itu, jika dia menolak kalian boleh mengancamnya, tapi jangan sampai kalian menyakitinya, itu perintah tuan Alex" suara Damian dari seberang telepon, menginstruksikan anak buahnya untuk membawa Reina.
__ADS_1
"Baik" ucap salah satu laki-laki yang menerima panggilan dari Damian.