
Reina menatap nanar mata Sarah dengan senyum mengembang di bibirnya saat gadis itu sudah berada di hadapan sahabatnya.
“Sar” ucap Reina.
Sarah menatap Reina sebentar lalu mengalihkan pandangannya menatap sepupunya yang berdiri di samping sahabatnya.
Karena Zen cerdas ia langsung tahu apa yang diinginkan Sarah walaupun gadis itu hanya memandang dirinya tanpa bertanya apa pun. Zen meraih tangan Reina dan menunjukannya pada Sarah.
“Kita sudah jadian” ucap Zen dengan kata-kata penuh penekanan.
Sarah yang tadinya hanya diam dengan wajah serius akhirnya melepas senyuman manis dari bibirnya dan langsung memeluk erat tubuh Reina.
“Akhirnya sahabat gue nggak jomblo lagi” tuturnya senang.
“Kalau Mas Zen nyakitin Reina ingat ya, Mas Zen berhadapan langsung sama aku” ancam Sarah pada sepupunya itu setelah melepas pelukannya dari Reina, ia mengudarakan dua jarinya yang langsung ia arahkan ke mata Zen.
“Apa kamu pernah lihat mas nyakitin perempuan” timpal Zen.
Sarah diam seraya berpikir “nggak pernah sih, karena aku juga nggak pernah lihat Mas Zen deket sama cewek” ungkapnya dengan senyuman.
“Udah-udah ngobrolnya di lanjut nanti saja” Reina menggandeng tangan Sarah dan mencoba membawanya masuk ke area kampus. Karena bila di teruskan obrolan mereka tidak akan berhenti, Sarah pasti akan mencecar banyak pertanyaan pada sepupunya itu.
“Aku masuk dulu ya mas”
Zen mengangguk lalu ia masuk ke dalam mobil dan melajukannya menuju kafe. Sarah dan Reina berjalan beriringan melewati koridor kampus menuju kelas, saat baru saja akan melangkahkan kakinya masuk ke dalam Sarah menarik tangan Reina.
“Rei, gue lapar kita ke kantin dulu yuk” rengek Sarah yang merasa cacing-cacing di perutnya sedang berdemo
karena belum di kasih makan. Reina mengangguk, ia sendiri juga belum sarapan.
Mereka berdua duduk di meja paling pojok menikmati sandwich yang di pesan sembari menikmati pemandangan
__ADS_1
yang menyejukkan mata menonton cowok-cowok keren bermain basket.
“Kapan lo jadian sama Mas Zen?” tanya Sarah yang masih penasaran dengan hubungan orang-orang terdekatnya.
“Semalam” jawab Reina singkat sambil mengunyah sandwich yang ada di dalam mulutnya.
“Mas Zen orang baik, jadi gue nggak khawatir lo jadian sama dia, bukan karena dia sepupu gue loh ya, tapi karena dia memang laki-laki baik, dia bisa jagain lo” tutur Sarah.
“Apa Mas Zen dulu pernah punya pacar?” tanya Reina yang ingin tahu banyak tentang kekasihnya itu, setidaknya
Sarah pasti tahu tentang masa lalu Zen.
“Gue dulu pernah dengar dari mamah kalau dia pernah deket sama teman kampusnya, tapi gue nggak tahu ya... deket jadi pacar atau cuma sekedar dekat doang, karena Mas Zen orangnya tertutup kalau sudah ngomongin masalah pribadi”
“Tapi Sar lo kan tahu gue yatim piatu gue juga nggak punya apa-apa, kalau orang lain lihat gue pacaran sama Mas
Zen pasti mereka berpikir gue matre dan mau karena Mas Zen kaya”
“Kenapa lo ngurusin apa kata orang, yang tahu lo siapa kan diri lo sendiri, lagian ya yang suka duluan juga bukan lo tapi Mas Zen, sebenarnya udah lama gue curiga kalau Mas Zen suka sama lo karena setiap gue nyeritain lo dia tuh antusias banget waalupun dia belum pernah ketemu sama lo”
kepalanya walau tak gatal karena heran dengan sahabatnya itu.
Setelah selesai makan, mereka pun kembali ke kelas untuk mengikuti mata kuliah yang sebentar lagi akan di mulai,
seperti biasa mereka selalu duduk di bangku paling belakang.
\~\~\~
Di kafe, Daniel dan Nadia merasa heran dengan bosnya yang selalu tersenyum, terlihat raut bahagia menghiasi wajahnya yang tampan itu.
“Mas Zen habis dapat lotre kali ya, dari tadi aku perhatiin senyum-senyum terus” bisik Daniel kepada Nadia yang
__ADS_1
berdiri di sampingnya, gadis itu sedang membersihkan meja bar dengan lap.
Nadia mengangguk cepat karena setuju dengan pendapat Daniel, Zen yang sadar sedang di perhatikan mendekati dua karyawannya itu.
“Minggu depan kita jadi ke Pulau Batu, aku udah reservasi tempatnya, terus kalian boleh bawa pasangan
masing-masing” tutur Zen, Nadia dan Daniel saling memandang kemudian tersenyum bahagia karena diajak liburan oleh bosnya.
kemudian Zen berjalan menuju ruang kerjanya. Dia mendudukkan tubuhnya di kursi kebesaranya dengan punggung yang ia senderkan ke sandaran kursi. matanya menatap layar laptop kemudian seulas senyum mengembang dari kedua sudut bibirnya, ia teringat bahwa sekarang ia sudah punya seseorang yang menempati hatinya. Zen tak sabar ingin segera bertemu dengan Reina. Matanya selalu memandang ke arah jarum jam yang menurutnya berputar lambat.
Setelah selesai kuliah Reina dan Sarah berjalan menuju kafe, terik sinar matahari tak membuat mereka kepanasan, mereka berjalan sambil mengobrol hingga tak terasa sampai di kafe.
Reina berjalan masuk diikuti Sarah di belakangnya, siang ini kafe sangat padat oleh pengunjung bahkan tidak
ada kursi kosong satu pun. Reina langsung berjalan masuk ke ruang ganti untuk berganti seragam, sedangkan Sarah menghampiri Daniel di ruang kerjanya.
Saat Reina keluar dari ruang ganti, ia terkejut ketika melihat bosnya sudah berdiri di depan pintu sedang
menunggu dirinya.
“Mas Zen” seru Reina sembari memegang dadanya karena terkejut. Laki-laki itu merespon dengan senyuman.
“Kamu udah makan siang?” tanya Zen perhatian.
“Belum mas” jawab Reina karena dia memang belum makan siang, setelah kuliah selesai ia langsung berjalan
menuju kafe.
“Mau makan dulu?”
Reina menggeleng pelan “nggak mas entar aja, soalnya aku masih belum lapar, lagian kafe lagi ramai kasian Nadia” ucapnya.
__ADS_1
Zen kemudian mengusap puncak kepala Reina dengan lembut “ ya sudah kalau gitu” sahutnya.
Nadia yang melihat interaksi bos dan juga temannya itu membelalakkan matanya sempurna dan langsung menyadari ada hubungan spesial diantara mereka berdua, ia menyunggingkan senyum simpul di bibirnya yang tadinya akan pergi ke toilet ia urungkan niatnya dan kembali berjalan ke depan.