CINTAI AKU SELAMANYA

CINTAI AKU SELAMANYA
BAB 73


__ADS_3

“Lakukan seperti apa yang aku perintahkan, jangan sampai gagal, ngerti!” titah Alex pada Damian, sepertinya


pria tua itu merencanakan sesuatu yang berbahaya, Zen membatalkan kerja samanya. Ia merasa di bohongi oleh Zen Marlon.


“Lihat saja kamu Zen Marlon, aku akan buat kamu menderita” gumam pria itu dengan menggertak kan gigi dan tangan mengepal erat.


Zen perlahan membuka matanya, ia menoleh ke samping dan mendapati Reina sudah tidak ada di sebelahnya, ia pun akhirnya bangkit dan turun dari ranjang mencari keberadaan kekasihnya.


Reina tengah sibuk di dapur menyiapkan sarapan, gadis itu terlihat mondar-mandir menata meja dan mengambil


piring. Suara pintu terbuka mengalihkan perhatian Reina, gadis itu menatap kekasihnya yang baru saja keluar dari kamar.


“Kok belum mandi” ujar Reina ketika melihat Zen masih memakai piyama.


Zen tak menanggapi omongan Reina, ia terus  berjalan mendekati gadis itu lalu memeluknya seperti anak kecil yang manja pada ibunya. Reina terhenyak, tak biasanya kekasihnya bertingkah seperti ini.


”Nggak tahu kenapa, hari ini rasanya aku pengen di rumah, malas pergi ke kantor” pungkasnya, laki-laki itu masih bergelendot manja pada Reina.


“Ya udah, minta mas Yongki bawa kerjaan kamu ke rumah” usul Reina, yang di tanggapi Zen dengan anggukkan.


Laki-laki itu lalu melepaskan pelukannya kemudian perlahan melangkah ke meja makan dan mendudukkan tubuhnya di kursi.


“Hari ini kamu nggak kuliah kan?” tanya Zen pada kekasihnya.


“Iya” jawabnya cepat.


Setelah selesai sarapan, Zen segera menghubungi Yongki dan meminta pada asistennya itu untuk membawa pekerjaannya ke rumah, hari ini Zen benar-benar tak ingin pergi ke perusahaan. Tak berselang lama Yongki datang dengan membawa setumpuk pekerjaan yang menunggu Zen untuk menyelesaikannya. Zen pikir pekerjaannya akan berkurang saat ia tidak ke kantor, ternyata ia salah.


“Aku kira nggak kerja di kantor pekerjaan ku akan berkurang” keluh Zen saat melihat banyaknya tumpukan berkas


di atas meja.


Yongki tersenyum, “bukannya kalau suasana tempatnya berbeda, pekerjaan akan cepat selesai, apalagi kerjanya di

__ADS_1


temani gadis cantik” ujar Yongki sambil melirik ke arah Reina yaang sedang duduk santai di balkon. Gadis itu fokus menatap layar laptop di depannya, karena sedang mengerjakan tugas kuliah. Walaupun libur, tugas kuliah tetap


menumpuk dan minta segera di kerjakan. Rasanya Reina ingin libur kuliah ia pergunakan waktunya untuk mengistirahatkan badan, tapi apa daya di kejar-kejar tugas kuliah.


Karena fokus menatap layar laptop, Reina bahkan sampai tak sadar mengambil kelas kosong  di depannya, ia tak tahu kalau air minumnya sudah habis, Reina bangkit dan berjalan ke dapur untuk mengambil minum, saat ia akan


kembali ke balkon, Reina melihat Zen tengah serius mengerjakan pekerjaan kantornya.


Reina menatap ke sekeliling meja  yang di tempati Zen kosong tak ada gelas tergeletak di sana. Ia lalu mengambil inisiatif membuatkan minuman untuk dua orang yang tengah sibuk dengan pekerjaan masing-masing, yang satu sibuk dengan laptopnya dan yang satu nya lagi sibuk dengan ponselnya.


Setelah mengambil minum, Reina berjalan menghampiri mereka berdua, dan menyuguhkan dua cangkir kopi di hadapan mereka.


“Di minum kopinya biar nggak ngantuk” seloroh Reina. Zen yang sedang menatap laptopnya mengalihkan


pandangannya ke gadis yang berdiri di depannya sambil menyunggingkan seulas senyum tipis.


“Kamu udah selesai ngerjain tugasnya?” tanya Zen saat melihat Reina yang baru saja akan pergi setelah menyuguhkan kopi.


“Belum, tinggal dikit lagi” sahut Reina tanpa menoleh ke arah Zen, ia tetap berjalan menuju balkon untuk


Seharian Reina dan Zen berada di apartemen, setelah Yongki pulang, Zen mengajak Reina untuk menonton film, tapi tidak di bioskop melainkan tetap di apartemen, laki-laki itu mengambil proyektor miliknya yang tersimpan rapih di dalam lemari, proyektor itu sering di gunakan Zen saat dirinya ingin menonton film tapi malas pergi ke bioskop.


Reina menanggapinya dengan antusias, ia tak menyangka kekasihnya punya kebiasaan unik ini. Duduk di atas


ranjang berukuran luas, seperti sedang di bioskop, Reina dan Zen menonton film di temani popcorn dan juga minuman bersoda.


“Jadi film apa yang akan kita tonton?” tanya Reina penasaran, ia sudah tak sabar ingin segera menontonnya.


Pasti sangat seru menurutnya.


“Lihat saja nanti, kamu juga akan tahu” sahut Zen yang tengah sibuk mengutak-utik proyektor.


Sebelum menyusul Reina duduk di atas ranjang, Zen mematikan lampu kamarnya, agar suasananya mirip dengan di bioskop, gelap dan hanya ada cahaya dari film yang sedang di putar.

__ADS_1


“Aaahh” Reina tersentak ketika melihat adegan di film yang membuatnya terkejut, Ternyata Zen memutar film


horor. Sepertinya laki-laki itu sengaja melakukannya, karena ia tahu gadisnya itu penakut, Zen ingin mengambil kesempatan dalam kesempitan di saat kekasihnya ketakutan dengan adegan film yang membuat spot jantungnya naik turun tidak karuan.


“Mas Zen, kenapa malah nonton film horor sih, dari pada film horor mendingan juga film tentang detektif, atau


pembunuhan” keluh gadis itu.


Zen hanya tersenyum menanggapi keluhan kekasihnya, sepertinya Reina masih tak paham kenapa Zen memutar film horor.


sepanjang menonton film tersebut, sepanjang itu pula teriakan Reina menggema di seluruh ruangan, terkadang Zen menutup telinganya karena suara kekasihnya yang melengking tepat di telinganya, tapi bukannya marah Zen malah terkekeh.


Selesai menonton film horor,. Zen memutar film yang lainnya, entah genre apa yang di putarnya sekarang, Reina hanya duduk manis sambil menatap kekasihnya di depan sana.


"Film horor lagi" celetuk Reina dengan suara serak karena dari tadi ia terus saja berteriak.


"Nggak dong" pungkas laki-laki itu di sertai senyuman.


Zen kembali duduk di samping kekasihnya, tapi ada tatapan aneh saat Zen melirik ke arah Reina membuat gadis itu menaikkan salah satu alisnya.


"Jangan-jangan dia mau ngerjain aku lagi" batin Reina yang berprasangka buruk pada kekasihnya itu.


Film pun di mulai, Reina serius menatap layar lebar di depannya, lagi-lagi ia dikejutkan dengan adegan pembuka yang vul.gar, dimana seorang perempuan sedang melakukan hubungan in.tim dengan laki-laki di kamar mandi.


"Mas Zen" teriakan Reina bahkan lebih kencang dari yang sebelumnya.


Zen terkekeh sambil terus menatap ke depan, ia tak memperdulikan Reina yang memukul tangannya.


"Maksudnya apa coba nonton film kayak gini" gerutu gadis itu.


"Biar kamu pengen" sahutan Zen membuat Reina menyipitkan matanya.


Ia tak sanggup berkata apa-apa lagi, hanya terus menikmati adegan demi adegan yang di suguhkan film romantis tersebut.

__ADS_1


Namun berkali-kali pula Reina menelan salivanya pelan. Ada sesuatu yang berdesir di dalam tubuhnya.


__ADS_2