
Aafreda mendengarkan pria yang terus memanggil setiap murid tanpa henti, dia merasa dibawah tekanan karena disampingnya terdapat sosok Achiel yang masih bersikap dingin kepadanya dan sisi kirinya terdapat Alex yang bersikap ramah dan hangat dengannya. Dia tak tahu harus berbuat apa dengan kondisi ini.
Rasanya berada ditengah-tengah es batu dan air hangat. Sedikit panas dan dingin disaat bersamaan.
Setelah pembagian kelompok roh selesai, dilanjutkan dengan pembakaran bendera faksi Alliance ini adalah sebuah budaya yang harus dilakukan oleh faksi Dunkelheit. Aafreda menatap bendera berwarna putih dengan bunga teratai itu, dia merasa faksi Alliance tak bersalah sama sekali. Menurut Aafreda faksi Dunkelheit lah yang memulai peperangan dengan faksi Alliance, kenapa faksi Dunkelheit sangat terobsesi untuk mengalahkan mereka? Aafreda tak dapat memahaminya.
Setelah pembakaran bendera itu, upacara pembukaan selesai. Semua murid segera beranjak pergi kembali ke asrama mereka termasuk Achiel yang melewati Aafreda dengan dingin. Aafreda menghela napasnya dan menunduk sedih.
"Kamu terus bersedih sejak sarapan, apa yang sedang kamu pikirkan?" Tanya Alex
"Tidak ada, aku hanya lelah"
"Bagaimana kalau kita berjalan ditaman" Rangkul Alex semangat
Aafreda melepaskan rangkulan Alex, dia pun melangkah pergi meninggalkan Alex tak lupa memberi salam kepadanya.
"Pergilah, aku ingin beristirahat"
Aafreda yang baru beranjak turun dari tangga merasakan sebuah tatapan mengarah kepadanya. Ia melihat di ujung gedung itu ada sosok yang ia kenal, Aafreda pun tersenyum dan mengikuti sosok gurunya.
Gurunya berjalan didepan dengan lambat, Aafreda merasakan bahwa mereka sudah jauh dari gedung itu dan berada di kedalaman hutan. Gurunya tiba-tiba berhenti dan membalikkan tubuhnya menatap Aafreda dari atas hingga bawah.
"Hmm...Kemampuanmu belum meningkat sama sekali, apakah kamu tak berlatih?"
Aafreda menggelengkan kepalanya dengan malu, ia tidak tahu bagaimana caranya melatih kekuatan roh miliknya. Dia bahkan tak pernah melihat Achiel melatih kekuatan rohnya, jadi Aafreda tak memiliki informasi apapun.
"Huh... Seharusnya kamu rajin untuk meningkatkan kekuatan roh mu. Beberapa tahun lagi akan dilaksanakan ujian antar murid, jika kamu tidak lulus kamu tak akan bisa masuk ke kelas menengah dan akan berada di kelas dasar selamanya. Apakah kamu ingin terjebak di akademi ini?"
Aafreda menggelengkan kepalanya dengan cepat, tentu saja dia tak memiliki keinginan untuk lebih lama ditempat ini. Dia tak ingin berada di tempat aneh dan menyesakkan ini.
"Baiklah kita akan melakukan pelatihan pertama hari ini"
__ADS_1
"Umm Disini guru?" Tanya Aafreda bingung
"Tentu saja, di akademi itu tidak memungkinkan. Kamu juga ingin merahasiakan hal ini bukan? Bagaimana bisa dewan dari faksi Dunkelheit menjadi guru seorang murid akademi spirit light? Apakah kamu ingin rumor yang buruk beredar?"
"Tentu saja aku tidak mau, baiklah ayo kita lakukan latihan ini"
"Pertama siapkan kuda-kuda mu"
"Kuda-kuda? Aku tidak mempunyai hal itu"
"Bukan kuda tapi kuda-kuda"
"Ahh...Aku tak mempelajari hal itu guru"
"Jadi selama ini apa yang kamu lakukan?"
"Makan dan tidur, lalu bermain" Jawab Aafreda lantang
"Lebarkan kakimu sepanjang satu meter, bungkukkkan tubuhmu kedepan sedikit dan rentangkan telapak tangan kananmu kedepan"
Aafreda mengikuti instruksi gurunya, dia pun melakukan semua hal itu dengan mudah. Aafreda mengira kuda-kuda di dunia ini berbeda dari dunianya, ternyata dunia ini sama saja dengan dunianya. Ini adalah jenis kuda-kuda yang hampir sama dengan karate yang pernah ia pelajari.
"Hembuskan napas mu dengan pelan, hirup dengan hidungmu dan buang perlahan dari mulutmu. Lakukan sebanyak 5 kali"
Aafreda kembali mengikuti instruksi gurunya, bagi Aafreda ini adalah hal yang mudah karena ia sering belajar karate, taekwondo ataupun tinju selama hidup di dunia sebelumnya. Kelihatannya dunia ini hampir tak jauh berbeda dengan dunianya.
"Sekarang keluarkan kekuatanmu"
Aafreda bingung, bagaimana caranya dia mengeluarkan kekuatannya? Dia sekarang berada di posisi kuda-kuda karate, apakah dia harus mengeluarkan kekuatan fisiknya?
"Guru apakah kamu mengajakku bertarung?" Tanya Aafreda polos
__ADS_1
Gurunya kembali menghela napas berat, ia pun mendekati Aafreda dan menepuk telapak tangan kanannya yang telah terbuka sedari tadi.
"Keluarkan kekuatanmu di telapak tanganmu ini, kamu ingat saat ujian kelulusan roh, semua murid diuji melihat kekuatannya dari telapak tangan. Kekuatan roh tanaman berfokus pada telapak tangan, kekuatan roh binatang berfokus pada dada sedangkan kekuatan roh alat berfokus pada senjata mereka. Kamu dapat mengeluarkan kekuatan tanamanmu dari telapak tangan ini, cobalah kamu fokus dan memahaminya"
Aafreda menganggukkan kepalanya tanda mengerti, ia hanya perlu fokus pada telapak tangannya. Intinya dia hanya perlu mengalirkan kekuatan rohnya di sana.
Selama beberapa jam Aafreda tak menghasilkan apapun, dia mulai kelelahan. Keringat mengucur di dahinya tanpa henti, walaupun begitu Aafreda tak menyerah, setidaknya dia harus memiliki kekuatan agar mampu melindungi dirinya di dunia ini. Melihat Achiel yang bisa bersikap dingin kepadanya sekarang membuat Aafreda yakin bahwa Achiel mungkin akan membunuh dirinya dimasa depan.
Perlahan sinar keemasan mulai muncul di telapak tangan Aafreda, namun sangat sulit sinar itu membentuk menjadi sebuah tanaman Kamomil emas. Aafreda mengerahkan seluruh kekuatan nya namun sinar itu kembali menghilang tanpa jejak, Aafreda pun tumbang karena kehilangan keseimbangan tubuhnya. Ia merasakan lelah disetiap otot lengannya.
rasanya lenganku akan patah, kenapa sulit sekali menjadi kuat.
Gurunya menatap Aafreda dengan dingin, ia melangkah mendekati Aafreda dan berbicara lembut kepadanya. Dia memahami Aafreda yang memiliki kemampuan tak biasa dari murid lainnya.
"Aafreda aku tahu kamu spesial, maka dari itu aku mengejar kamu untuk menjadi muridku. Apakah kamu menyerah dengan latihan ini?"
Aafreda menangkap makna tersirat dari ucapan gurunya, ia pun kembali berdiri dan melakukan posisinya kembali. Dia tentu saja tidak akan menyerah, dia akan mendapatkan kekuatan untuk melindungi dirinya dan ibunya.
Hari sudah menjelang sore, namun Aafreda masih belum mampu melakukan latihannya dengan sempurna. Aafreda merasakan lengan kanannya mulai keram begitu pula dengan kedua kakinya. Gurunya mengelus kepala Aafreda dan memintanya untuk kembali ke asrama.
"Beristirahat lah, kita akan melanjutkan hal ini nanti"
"Hah...Hah..Hah...Kapan...Itu guru?"
Gurunya tersenyum karena Aafreda mulai bersemangat untuk melatih dirinya. Dia pun melangkahkan kakinya menjauh dari Aafreda sambil berujar.
"Aku akan menemuimu nanti nak, persiapkan dirimu"
Aafreda menatap kepergian gurunya dengan wajah pucat, dia pun kehilangan keseimbangan nya dan berbaring di atas rumput. Aafreda memandangi langit senja yang bewarna jingga, begitu indah dan menawan.
"Aku akan menjadi kuat"
__ADS_1