
Unknown Place
Aafreda berjalan di dalam hutan tersebut, dia melihat pohon yang menjulang tinggi hampir menyentuh langit. Anehnya, dia merasa tidak takut dengan tempat ini. Aafreda memang merasakan beberapa roh yang tak pernah ia pelajari di dalam buku. Sepertinya dia benar-benar berada di benua tengah.
Aafreda terus menelusuri rindangnya hutan yang asing untuknya, dia hanyalah seorang pembaca novel dulu tapi entah kenapa hidupnya yang kini berada di dalam dunia novel lebih sulit daripada hidupnya di dunia nya yang dulu. Tempat ini lebih sulit, hanya mereka yang berkekuatan adalah raja dan yang terlemah adalah buruan, dan kini dia menjadi buruan sang Raja.
Aafreda menyisir rambut nya yang terus menerus mengganggu penglihatannya kedepan, situasi sekarang adalah situasi tersulit dalam hidupnya. Tidak ada yang bisa membantu Aafreda, tidak Achiel, tidak ibunya dan tidak Alex. Dia harus berjuang sendiri dan tidak tahu apa yang akan dihadapinya nanti.
Apakah aku harus mempercayai nenek itu? Tapi kalau aku ragu pun itu semua tidak akan mengubah apapun, aku sudah ditempat ini sekarang. Tidak bisa kembali lagi.... Bagaimanapun aku harus tetap tahu apa yang terjadi dengan mata ini.
Setelah berjalan cukup lama, Aafreda melihat cahaya kecil dari kejauhan yang perlahan semakin membesar ke arahnya. Aafreda membulatkan matanya saat melihat sebuah benda kecil bercahaya terbang tepat di hidungnya, Aafreda mengambil benda itu dan melihat bayangan manusia kecil. Bukankah ini seperti yang dilihatkan dalam film fantasi, ini adalah peri. Dia tidak terkejut dengan adanya peri di dunia fantasi novel ini.
"Hallo, apakah kamu baik-baik saja?" Tanya Aafreda
Peri kecil itu segera bangun dan menatap Aafreda bingung, dia pun mengepakkan sayap kecilnya kembali dan mengelilingi tubuh Aafreda dengan penasaran. Aafreda merasakan bahwa peri kecil itu ingin meneliti dia, apakah dirinya lawan atau kawan.
"Siapa kamu?" Tanya peri tersebut
"Aafreda, bagaimana dengan kamu?"
"Aafreda? Aafreda? Sepertinya aku pernah mendengarnya hmm, oh iya namaku Fly"
"Oh Fly, senang bertemu denganmu"
"Hmm kamu aneh, kamu...kamu anak kesayangan si dewa yah?" Tanya fly
"Anak kesayangan? Aku tidak mengerti? Aku anak dari seorang BloodElf"
"BloodElf? Hmm...Aku rasa kamu anak kesayangan dewa. Apakah kamu tidak tahu?"
Aafreda semakin bingung dengan perkataan yang dilontarkan oleh peri itu, sepertinya ucapan nenek benar. Tempat ini mungkin akan memberikan jawaban apa yang terjadi pada dirinya.
"Kalau kamu anak kesayangan si dewa seharusnya kamu tidak boleh berada disini"
"Kenapa?" Tanya Aafreda
__ADS_1
"Tempat ini adalah tempat yang membenci hal-hal berkaitan dengan dewa. Kalau mereka semua tahu kamu disini, kamu akan dibunuh"
"Aku bukan anak dewa, aku adalah elf"
"Kamu ini keras kepala sekali! Matamu...Matamu itu menunjukkan kalau kamu adalah anak kesayangan nya ehh...matamu...hmm"
"Apakah kamu tahu sesuatu tentang mataku? Bisakah kamu memberitahuku apa maksud dari mata ini? Apa itu anak kesayangan dewa dan yang lainnya? Aku tidak mengerti apapun sama sekali."
Fly menatap Aafreda dari atas kebawah, dia pun menarik helaian rambut Aafreda dan meminta nya untuk mengikuti sosoknya. Aafreda pun mengikuti Fly menuju bagian hutan paling dalam, dia hanya mengikuti kata hatinya jika fly bukanlah orang baik berarti takdir kematiannya adalah di tempat ini.
Fly berhenti didepan sebuah pohon dan mendorong batang pohon tersebut hingga menghasilkan sebuah lubang besar. Fly meminta Aafreda untuk masuk, Aafreda awalnya ragu namun ia mencoba meyakinkan dirinya. Aafreda pun melangkah masuk namun kegelapan menyelimuti dirinya dan Aafreda kehilangan kesadaran.
...----------------...
Aafreda membuka matanya perlahan, cahaya lembut memasuki penglihatan miliknya. entah kenapa cahaya itu terasa sangat jelas tidak berbentuk seperti hitam putih lagi, warnanya seperti senja matahari. Aafreda mengerutkan keningnya dan melihat sekeliling tempat itu, dia kini dapat melihat warna ruangan tersebut dengan jelas. Warna kayu yang begitu lembut, tanaman yang bewarna hijau dan bunga mawar yang merah mengkilap. Aafreda memegang matanya dan dia tidak merasakan lilitan kain kasa itu lagi.
Bagaimana bisa? Bukankah hanya Achiel yang bisa membuka lilitan ini? Apa yang terjadi?
"Oh kamu sudah bangun? Kakek!!! Aafreda sudah bangun!"
"Manusia? Kenapa manusia ada disini?"
"Anda sudah bangun, syukurlah anda sudah bangun" Ungkap kakek itu lega
"Maaf tapi aku sedang menanyakan kenapa anda manusia berada di tempat ini? Ini adalah tempat yang berbahaya"
Kakek tua itu mengerutkan keningnya, dia menatap Aafreda dan melihat dengan teliti wujud Aafreda. Dia bingung bukankah anak kesayangan dewa itu seharusnya manusia? kenapa menjadi seorang elf berdarah kotor?
"Kamu...Aku ingin menanyakan sesuatu denganmu lebih dulu" Ungkap sang kakek
"Aafreda ini namanya kakek Stu, dia agak pemarah tapi dia baik."
"Fly kemari, kamu diam saja"
Fly pun kembali terbang mendekati Stu sambil menundukkan kepalanya dengan cemberut.
__ADS_1
"Apa yang ingin anda tanyakan?"
"Kamu....Apakah matamu itu...Kamu mencurinya dari seseorang?"
"Tidak, ini sudah ada sejak lahir"
"Tidak mungkin, itu bukanlah milikmu seharusnya milik yang satunya. Apakah aku melakukan kebodohan itu lagi, itu tidak mungkin...Aku rasa aku melakukannya dengan benar" Gumam Stu
"Maaf kamu mengatakan apa?"
"Mata itu bukan matamu, itu seharusnya milik yang satunya. Bagaimana bisa kamu memiliki nya, kekuatanmu sekarang tidak dapat mengendalikan kekuatan itu."
"Aku tidak mengerti dengan apa yang anda katakan, mata ini bukan milikku lalu itu milik siapa?" Tanya Aafreda
"Manusia"
Aafreda yang mendengar jawaban itu pun sangat terkejut, jika ras manusia yang seharusnya memiliki mata ini berarti kekuatan mata ini adalah milik Cenora. Aafreda mengerti sekarang dengan perkataan sang nenek mengenai mata miliknya, kembalikan sesuatu bukan milikmu relakan saja maka aku akan selamat. Itu adalah kata-kata yang selalu terngiang di kepala Aafreda, jadi takdirnya tetap tidak akan berubah.
"Kamu bukan manusia, kamu hanyalah elf berdarah kotor."
Aafreda tertawa hambar, elf berdarah kotor? Sebegitu menjijikkannya ras BloodElf dimata rasa lain bahkan oleh ras benua tengah yang terisolasi oleh dunia luar. Sangat lucu untuk Aafreda bahwa darah yang mengalir ditubuhnya diinjak-injak seperti ini.
"Apa yang salah terlahir sebagai seorang BloodElf? Aku juga tidak menginginkan hal seperti ini? Bukankah dewa mu yang membuatku lahir di dunia ini dan sekarang kamu membenci ku sama saja kamu membenci buatan dewa mu" Ungkap Aafreda dingin
stu terkejut mendengar ucapan Aafreda, dia tidak menyangka bahwa gadis muda ini memiliki temperamen yang buruk.
"Hati-hati dengan ucapanmu gadis muda, aku bisa mengeluarkan mu dari tempat ini dan kamu akan mati dalam sekejap, tapi aku tidak bisa melakukan hal itu karena kamu adalah tanggung jawabku"
"Tanggung jawab? Siapa kamu? Apakah kamu kakekku? Aku hanya punya seorang ibu dan kakak"
"Karena kamu adalah pemilik mata itu maka aku harus menjagamu tetap selamat disini, kamu...harus mengembalikan mata itu kepada yang hak"
"Cenora? Jadi aku harus mengembalikan nya kepada Cenora? Bagaimana kalau aku tidak mau? Ini adalah mataku sejak awal, kenapa aku harus mengembalikan sesuatu yang sejak awal adalah milikku"
"Itu bukanlah milikmu tapi...milik ras manusia. Kamu mengatakan nama gadis yang lain adalah Cenora? Itu benar adalah miliknya, gadis manusia yang diberkati dan disayangi oleh dewa"
__ADS_1
Aafreda menyeringai, Cenora adalah gadis manusia yang disayangi dewa? Apakah Dewa sedang buta saat membuat Cenora. Gadis itu adalah gadis yang egois, jika dia memiliki kekuatan ini entah apa yang akan terjadi dengan dunia Naturra dan Faksi Dunkelheit.