
Aafreda terbangun dari tidurnya, ia melihat sebuah ruangan yang familiar, kini ia menyadari bahwa dirinya masih berada di barrack prajurit Origin. Aafreda pun segera berdiri, ia merintih kesakitan karena tungkai kakinya yang memar.
Ini gara-gara aku menggunakan heels disaat berlari kakiku kerasa sakit. Hah...Kenapa aku harus menggunakan sepatu ini sih!
Aafreda melangkahkan kakinya keluar tenda dan melihat beberapa prajurit masih mengobati teman mereka, entah kenapa Aafreda terhanyut dalam adegan tersebut. Namun seseorang menghancurkan suasana dibarrack dengan hawa dinginnya, tidak lain orang itu adalah Vincent yang mendekati Aafreda dengan tatapan dingin.
Vincent menarik tangan Aafreda dan dalam sekejap mereka sudah berada di dalam kamar Aafreda yang telah disediakan oleh Vincent sejak penculikan nya. Hawa pria itu sangat menakutkan membuat Aafreda sedikit meneguk ludahnya.
Sekarang apa? Aku hanya membantu prajurit nya, apakah dia akan membunuh ku?
"Kamu tahu kesalahanmu?"
"Tidak" Jawab Aafreda lugas
Vincent mendorong Aafreda hingga menabrak dinding, membuat Aafreda merasakan dinginnya dinding kerajaan milik pria ini. Pria tersebut menggenggam dagu Aafreda dengan kuat, membuat Aafreda merintih kesakitan
"Jangan menyentuh pasukanku, mereka adalah orang yang penting untukku. Kamu kira aku tak bisa membunuhmu, aku akan melakukannya jika kamu mencoba membunuh orang yang aku lindungi"
Apa yang dia lindungi, bukankah dia sangat terobsesi dengan kekuasaan. Aku tahu siapa kamu Vincent, kamu menginginkan kekuatan berkah dewa ini untuk menguasai ketiga faksi dan menghabisi mereka yang tak taat kepadamu tapi sayangnya kamu mati setelah aku.
Aafreda dan Vincent saling bertatapan tajam, Vincent tanpa aba-aba mengigit leher Aafreda dan menghisap darahnya. Aafreda ingin merintih namun rintihan nya akan menyebabkan suara yang ambigu apalagi posisi mereka yang sangat rapat bahkan Aafreda dan mencium aroma pria didepannya ini.
Sakit sialan! Pria ini apakah lapar? Kenapa menghisap seperti itu. Akhh tanganku juga tak bisa digerakkan sama sekali, tubuhku sangat lemah karena kemarin malam. Astaga aku tidak suka posisi ini
Vincent menarik wajahnya dari tengkuk Aafreda, Aafreda mencoba bernapas tenang karena pandangannya mulai kabur. Aafreda pun kehilangan kesadarannya dan Vincent dengan cepat memeluk tubuh wanita itu, ia mengangkat Aafreda ala bridal style dan membaringkan nya di atas tempat tidur dengan lembut.
"Diana"
"Yah tuan?"
__ADS_1
"Siapkan air mandi untuknya dan bawa makanan yang bergizi untuk dirinya. Jangan sampai lalai tidak memberinya makan"
"Baik tuanku"
Vincent pun pergi dan melangkahkan kakinya menuju barrack prajurit.
Aafreda membuka matanya secara perlahan, ia melihat langit-langit kamar yang tak asing lagi selama beberapa bulan ini. Aafreda mencoba bangun namun lehernya terasa sangat sakit, kali ini gigitan tajam milik Vincent terasa hingga menuju jantungnya.
Sialan pria itu dia tanpa ampun menyiksaku, aku seperti domba yang harus dibesarkan lalu dimakan setiap hari. Aku ingin pergi darinya tapi penjagaan kerajaan nya benar-benar bukan main.
Diana segera mendekati Aafreda dan memberikan minuman hangat kepadanya, Aafreda menerima itu dan minum dengan anggun. Ia merasa sedikit nyaman setelah minum, Aafreda pun menatap Diana di sampingnya.
"Apa yang terjadi denganku? Aku hanya ingat bahwa tuan mu melakukan hal tak senonoh kepadaku"
"Nona... Jangan berkata seperti itu, kalau tuan mendengar nya nona tak akan selamat lagi"
"Hamba selalu setia kepada tuan hamba dan hamba melayani siapapun yang diperintahkan tuan kepada hamba"
"Benar-benar seperti anjing" Gumam Aafreda
"Nona jangan membenci tuan seperti itu, Tuan sangatlah baik hanya saja dia menunjukkan nya dalam bentuk kasar. Saya selalu berhutang budi kepadanya, maka dari itu saya mengabdi sebagai pelayan setia kerajaan ini"
Ohh benar, di dalam novel sering disebutkan jika orang-orang Vincent sangat setia kepadanya hingga kematiannya yang dibunuh oleh Achiel. Mereka bahkan membalaskan kematian tuannya namun mereka pada akhirnya mati juga ditangan Achiel, malang sekali nasibmu Vincent. Kamu sama saja seperti ku, entah kenapa aku merasa aku dan Vincent berada di kubu yang sama.
"Kenapa? Memangnya apa yang dilakukan Vincent kepadamu?" Tanya Aafreda penasaran
"Tuan Vincent pernah menyelamatkan hamba dan keluarga hamba dari serangan faksi Dunkelheit, ia bahkan mendapatkan luka pedang yang panjang di punggungnya karena hal itu tapi tuan mengatakan bahwa ia baik-baik saja dan meminta kami untuk pergi ketempat yang aman, namun kami tak sepenuhnya aman pasukan Dunkelheit masih memburu kami dan tuan berkali-kali melindungi kami karena hal itulah keluarga ku memutuskan untuk mengabdi kepadanya walaupun saya bukan bagian dari ras Origin"
"Pantas saja aku tak merasakan bau origin di tubuhmu maka dari itu aku tak terlalu takut dengan mu Diana"
__ADS_1
"Tentu saja, maka dari itu nona selalu mengabaikan apa yang saya katakan bukan?"
"Ehh tidak kok"
Aafreda dan Diana tersenyum akan perkataan mereka, Aafreda memang mengetahui bahwa Vincent bukanlah orang yang buruk bagi orang-orang nya tapi dia orang yang buruk untuk Aafreda. Pria itu selalu berkata kasar dan memperlakukan dirinya dengan semena-mena.
"Nona bolehkah saya mengatakan sesuatu"
"Tentu saja apa itu?"
"Tuan Vincent sangat memiliki harapan besar kepada nona, nona tahu kenapa tuan selalu meminta anda untuk membuka kain mata itu? Karena hanya dengan kekuatan nona semua ini akan selesai, tuan tak ingin melihat orang-orang nya harus mati ditangan musuh terus menerus. Tuan setiap pulang setelah perang ia selalu mengubur barang-barang prajurit nya dan berdiam diri semalaman di tempat penguburan. Tuan adalah orang yang paling baik bagi saya, mungkin tuan belum bisa baik kepada nona karena nona berasal dari faksi musuh. Ia memerlukan kekuatan nona bukan untuk dirinya tapi untuk orang-orang nya."
Aafreda yang mendengar hal itu seakan tak percaya, bagaimana pria bengis itu mau menggunakan kekuatannya hanya untuk melindungi rakyatnya. Bukankah di dalam novel dia menginginkan Cenora untuk keegoisan nya akan kekuasaan.
Ketika malam tiba, Aafreda memutuskan untuk pergi keluar ditemani oleh Diana. Ia butuh udara segar untuk dirinya, di kejauhan Aafreda menatap beberapa prajurit dan Vincent pergi menuju suatu tempat sambil membawa beberapa tubuh manusia dalam gerobak.
Aafreda mengikuti kemana mereka pergi dengan Diana yang sudah panik berkat tindakan nya. Aafreda menatap tempat yang dipenuhi dengan aroma bunga, Aafreda pun melihat tubuh-tubuh manusia yang terbungkus karung diturunkan. Tiba-tiba tanah yang dipijak Aafreda bergetar dan ia melihat prajurit Vincent menguburkan mereka semua, Aafreda terkejut dengan hal itu. Ia menatap Diana untuk meminta jawaban namun Diana hanya tersenyum.
Aafreda melihat Vincent yang berdoa kepada mereka yang telah mati, Pria itu dengan rambut merah kehitaman memejamkan matanya sambil melakukan doa. Aafreda pun mempercayai apa yang dikatakan oleh Diana bahwa Vincent tidak buruk seperti yang ia lihat selama ini.
"Kalian pergilah lebih dulu"
"Baik Tuan"
Semua prajurit yang menemani Vincent telah pergi, Vincent pun melangkahkan kakinya mendekati tempat persembunyian Aafreda
"Keluar... Aku tahu kamu disana, bau tikus di tubuhmu tak akan hilang"
Aishh aku rasa aku tidak akan mempercayai nya, kenapa dia kasar kepadaku sih.
__ADS_1