
"Ada apa ini?" Tanya Sirel yang baru keluar dari sebuah ruangan yang terdapat di ujung guild. Ruangan tersebut merupakan ruangan yang hanya bisa dimasuki oleh para petinggi yang berada di blood elf. Kini Sirel memiliki kedudukan sebagai Komandan bagian khusus penyembuhan di blood elf. Dia memiliki peran yang sangat dominan dalam peperangan melawan faksi Alliance.
"Ahh Sirel...Aku hanya ingin menyapa anak-anak mu tapi kelihatannya pria kecil tidak menyukai ku"
Sirel mendekati posisi Lena dia melihat sosok Achiel disini, Sirel sangat terkejut tidak seharusnya dia memasuki guild ini. Sirel pun menepuk pundak Lena untuk segera berhenti menggoda anaknya.
"Hentikan itu Len, kamu sebaiknya menggoda yang seseorang yang sesuai dengan umurmu"
"Hmpp Kamu terlalu kaku Sirel"
"Kembalikan adikku"
Sirel yang mendengar hal itu memandangi Lena dengan dingin, Lena pun mengembalikan Aafreda yang sudah tertidur lelap kepada Achiel. Achiel menggendong Aafreda di punggungnya dan segera pergi dari guild Blood Elf.
"Lain kali jangan mempermainkan Achiel, aku tidak akan bisa mencegah apa yang akan terjadi nantinya. Kamu tahu kan anak itu siapa? Dia sekarang adalah penerus Dark Soul, kemenangan fraksi kita dimasa depan akan berada ditangannya.Jangan bertindak gegabah Lena" Bisik Sirel
"Aku tahu, maafkan aku Sirel. Hanya saja aku sudah lama tidak mengerjai anak kecil hehe"
" Ya sudah aku pergi dulu, jaga dirimu baik-baik"
"Sampai jumpa lagi Sirel"
Sirel keluar dari guild Blood Elf dia melihat dari kejauhan sosok Achiel yang kini menggendong Aafreda. Sepertinya keputusannya membawa Aafreda kerumah waktu itu adalah hal yang benar, Sirel meyakini bahwa Aafreda suatu hari nanti akan mengatasi Sang Dark Soul. Achiel yang dingin tak tersentuh tanpa diduga sudah menghangat karena Aafreda.
Keesokan paginya, Aafreda terbangun dia bermimpi bahwa dirinya sedang berada disebuah tempat yang seperti surga, penuh dengan roti dan manisan kue kesukaannya. Tapi semuanya tiba-tiba menghilang dalam sekejap, Aafreda tak mengerti dengan apa yang terjadi.
"Sudah bangun?" Tanya Achiel dingin
Apa perasaanku saja hawa anak ini sedang marah. Apa aku melakukan kesalahan kemarin malam? Aku tidak mengingat apa yang terjadi, sebenarnya setelah kami di guild Blood Elf apa yang telah terjadi
__ADS_1
"Kakak sudah bangun sepagi ini, pasti kakak sedang berlatih lagi bukan?"
Aafreda merasa diabaikan oleh Achiel yang kini sedang bersedekap didepan pintu dengan mata dingin miliknya yang terarah tajam kepadanya. Aafreda pun menghela napasnya, dia segera berlari mendekati Achiel dan memeluknya, tak lupa Aafreda memasang wajah manis miliknya.
Jatuhlah kedalam pesona kemanisanku ini wahahaha
"Kakak jangan marah, aku akan sedih kalau kakak melihatku seperti itu terus"
"Hah...Lain kali kamu tidak diperbolehkan memasuki guild Blood Elf lagi dan tidak perlu mencari wanita itu. Sudah aku katakan dia sedang bekerja"
Wah..baru pertama kali dia mengucapkan kalimat sepanjang itu untukku.Apakah dia mengkhawatirkan ku?
"Umm...Aku mengerti kakak. Lain kali aku akan mendengarkan apa yang kakak katakan"
Achiel mengelus kepala Aafreda dengan lembut, dari belakang Sirel muncul dan memeluk kedua putra putrinya.
"Kalian disini ternyata ayo kita sarapan"
Sirel sangat gembira mendengar suara Aafreda yang manis dan imut, putri kecilnya benar-benar sangat manis sekali. Dia akan melindungi putri kecil miliknya ini selamanya.
"Lepaskan itu Aafreda, ayo kita makan" Ucap Achiel menarik Aafreda keperluannya
Ish dasar pengganggu, kamu suka sekali merusak suasana bocah
"Wah ibu memasak makanan kesukaanku?!" Tanya Aafreda semangat
Sarapan kali ini adalah sayur tumis dengan campuran telur yang terlihat sangat lezat, Aafreda sangat menyukai makanan sederhana ini. Teringat ketika kehidupannya dulu, dia selalu memakan makanan yang sangat simple tapi dia sangat menyukainya.
"Makanlah yang banyak Aafreda, ibu membuatnya khusus untukmu sebagai permintaan maaf ibu karena pulang terlambat kemarin malam"
__ADS_1
"Ibu tidak perlu meminta maaf, aku senang ibu kembali baik-baik saja"
Sirel terharu melihat Aafreda yang sangat memperdulikannya disisi lain Achiel sibuk meletakkan nasi dan lauk ke dalam piring Aafreda. Pria kecil ini selalu mengutamakan Aafreda di atas segalanya, tentu saja Aafreda nya merupakan anak yang sangat manis dan lucu ingin sekali dia mengobati kedua mata Aafreda yang tak dapat melihat itu. Tapi dia belum menemukan sesuatu mengenai mata Aafreda, sebenarnya apa yang disembunyikan di selembar kain di mata putri kecilnya tersebut. Sirel tahu jika kain tersebut merupakan kain kuno yang sudah dilumuri kekuatan dewa, siapapun tak akan dapat membukanya kecuali mereka yang terpilih. Sirel mengetahui semua itu setelah membaca buku-buku sejarah di perpustakaan blood elf, selembar kain milik Aafreda memiliki simbol-simbol aneh. Jadi dia mencoba mencari gambaran dari simbol yang terdapat di kain tersebut dan benar saja kain itu bukan merupakan kain biasa melainkan selendang milik dewa. Sebenarnya Sirel tak ingin mempercayai bahwa itu adalah milik dewa, dia tidak ingin mempercayai bahwa Aafreda adalah anak yang diramalkan.
Beberapa tahun yang lalu, ketika terjadi peperangan antara faksi Alliance dan Dunkelheit, seorang peramal mendatangi mereka tidak hanya mendatangi faksi Alliance tapi juga mendatangi faksi Dunkelheit. Peramal itu mengatakan akan ada seorang penolong yang menyelesaikan peperangan ini nantinya, penolong tersebut adalah kiriman para dewa. Dia akan membantu salah satu dari faksi kalian, lalu peramal itu menjelaskan bahwa penolong itu akan memiliki lambang dewa. Jika kalian menemukan lambang itu pada seseorang berarti faksi kalian akan menang melawan faksi lainnya.
Dan sejak saat itulah, kedua faksi mencoba mencari penolong yang memiliki lambang dewa hanya saja Sirel waktu itu tak menyadari bahwa kain milik Aafreda mempunyai lambang dewa. Tapi Sirel juga tak yakin jika Aafreda adalah penolong yang dikirimkan oleh dewa, entah kenapa dia merasa Aafreda hanyalah anak biasa. Seharusnya lambang dewa bersemayam ditubuh pemiliknya, sedangkan Aafreda berada di kain matanya. Sirel mencoba membuang pemikiran aneh tersebut, dia tak akan membiarkan Aafreda dijadikan alat perang nantinya. Aafreda harus tumbuh seperti anak-anak lainnya menikmati kehidupan masa kecil mereka.
"Ibu? Ibu tidak makan"
"Ahh ibu akan makan putri kecilku"
Mereka bertiga sarapan dengan tenang, setelah sarapan Aafreda mencoba berbicara dengan Achiel tentang memasuki akademi. Akademi merupakan tempat pelatihan bagi calon-calon faksi Dunkelheit untuk menjadi pasukan peperangan selanjutnya. Disana mereka akan dilatih menjadi seorang ksatria yang hebat dan menumpas semua faksi Alliance.
"Aku ingin membicarakan tentang akademi, bagaimana jika kamu memasuki akademi sekarang. umurmu sudah memasuki 14 tahun, dan kamu sudah menguasai teknik-teknik pedang secara otodidak. Itu sudah lebih dari cukup untuk kamu memasuki akademi, disana kamu dapat mempelajari hal yang lebih hebat lagi."
Achiel masih tetap diam matanya memandang ke arah luar melihat Aafreda yang kini sedang berlari-lari mengejar kupu-kupu yang sedang mengitarinya. Sirel mengikuti arah pandang Achiel mengetahui hal tersebut Sirel mencoba meyakinkan hal yang membuat Achiel meragu untuk memasuki akademi selama ini.
"Ibu akan menjaga Aafreda dengan baik, pergilah ke akademi Achiel. Mereka membutuhkan seseorang sepertimu untuk bertarung di garis depan"
"Aafreda" Ucap Achiel dingin
"Aafreda akan ikut bersamaku ke akademi" Tambah Achiel dengan tegas
Sirel menghela napasnya dengan berat, dia sudah mengetahui isi pikiran pria kecil didepannya ini. Achiel tak dapat dipisahkan dari Aafreda tapi Aafreda masih terlalu kecil untuk memasuki akademi dan menghadapi hal-hal yang sangat berbahaya seperti itu.
"Achiel...Aafreda masih terlalu kecil. Disana sangat berbahaya kamu tidak..." Ucapan Sirel terpotong oleh kalimat Achiel selanjutnya
"Aku akan melindungi nya, kamu tidak perlu khawatir. Dia akan bersamaku kalau kamu ingin aku masuk kedalam akademi"
__ADS_1
Achiel segera bangkit dan pergi keluar menemui Aafreda yang masih bermain dengan kupu-kupu. Achiel menggendong Aafreda di atas kepalanya dan kembali mengejar kupu-kupu bersama Aafreda.
Tidak ada yang bisa kulakukan, Achiel anak itu sudah menetapkan Aafreda sebagai bagian dari hidupnya.