
Kembali ke asrama, Aafreda membaringkan tubuhnya yang kelelahan akibat latihan intensif dengan grandmaster. Ia memejamkan matanya namun suara seseorang membangunkan dirinya, Aafreda membuka matanya perlahan dan melotot ketika melihat wajah Alex yang tak jauh dari wajahnya.
"Hai"
Aafreda segera terbangun dan menggeser tubuhnya dengan canggung, walaupun diluar fisiknya berusia 7 tahun tapi didalam tubuhnya terdapat wanita yang berusia 24 tahun. Aafreda masih sangat sensitif dengan pria walaupun Alex masih belum dikatakan dewasa.
"Kamu sudah kembali dari taman?"
"Yah, itu sangat membosankan ketika tidak ada teman seperti kamu"
Aafreda hanya tersenyum kikuk, dia tidak dalam kondisi baik untuk menikmati suasana akademi ini. Apalagi permasalahannya dengan Achiel belum selesai, ia tidak tahu harus berbuat apa untuk memperbaiki hubungan mereka.
"Bagaimana denganmu? Kamu kelihatan sangat kotor"
"Aku? Aku...Umm aku....Itu"
"Kamu pasti selesai berlatih bukan?" Tanya Alex
"Benar"
"Dengan grandmaster bukan?"
Aafreda menganggukkan kepalanya namun dia tiba-tiba menyadari sesuatu dan menggelengkan kepalanya sekali lagi. Alex tertawa dan duduk bersilang di atas tempat tidur Aafreda, dia tentu saja tahu darimana Aafreda berada. Penciuman hidungnya sangatlah kuat.
"Kamu tahu kan aku adalah Ghoul, aku memilki penciuman yang sangat kuat. Kamu memiliki aroma grandmaster disekitarmu, padahal aku hanya menebak saja jika kamu berlatih dengannya. Bagaimana bisa kamu menjadi murid grandmaster yang terkenal itu? Aku dengar dia sangat misterius dan tegas sekali"
Aafreda berpikir tak ada gunanya ia menyembunyikan hal ini dari ras Ghoul yang memiliki penciuman luar biasa. Lagipula Aafreda percaya dengan Alex karena ia adalah teman yang baik dan tidak memandang rendah ras lain seperti dirinya.
"Hmm...Aku tidak tahu, dia yang memintaku menjadi muridnya waktu itu"
__ADS_1
"Dia yang memintamu? Itu adalah hal yang luar biasa, kalau itu aku pasti aku akan merasa terhormat menjadi murid grandmaster"
"Memangnya kenapa dengannya? Aku hanya mendengar kalau dia hanya duduk di dewan tertinggi di faksi Dunkelheit saja."
"Kamu tidak tahu? Dia adalah grandmaster yang sangat terkenal kuat, dia bahkan mengikuti perang pertama dan kedua melawan faksi Alliance. Aku dengar dia adalah guru Atlas sang Hero Dunkelheit. Kamu tahu Atlas bukan? Hero yang paling kita agung- agungkan di faksi Dunkelheit, Atlas benar-benar sangat kuat. Bersama dengan grandmaster dia berhasil memukul mundur faksi Alliance dari benua kita."
"Atlas? Maksudmu Atlas dari ras Undead itu?"
"Yah, maka dari itu ras Undead sangat disegani karena Atlas berasal dari ras tersebut. Dia adalah Hero faksi Dunkelheit yang terkuat, tidak ada yang bisa melukainya"
Aafreda mengerutkan dahinya, dia tentu saja mengetahui tentang Atlas tapi dia tak menyangka jika gurunya pernah menjadikan Atlas sebagai muridnya. Di dalam novel karakter Atlas tak terlalu dirincikan tapi Aafreda mengetahui jika Atlas memiliki tabiat yang cukup buruk, bahkan dalam novel pernah terdapat sebuah cerita sampingan mengenai Atlas yang membunuh keluarganya. Bagaimana bisa gurunya menjadikan Atlas sebagai muridnya? Aafreda benar-benar tidak mengerti tentang hal ini, baru kali ini ia mengetahui detail isi novel yang ia baca ini.
"Bisakah kamu menceritakan tentang The Hero kepadaku? Aku ingin tahu tentang mereka"
"Baiklah, aku mengetahui faksi Dunkelheit memiliki 5 Hero pertama adalah Atlas, dia memiliki kekuatan dapat membangkitkan Mahkluk yang sudah berada di alam kematian dan kekuatan utamanya adalah dapat bangkit kembali setelah mati. Maka dari itu Atlas paling ditakuti baik dari faksi kita ataupun faksi musuh. Kedua berasal dari ras ghoul, tepatnya ras ku yaitu Romania, aku tidak tahu pasti apa jenis kekuatan miliknya karena aku jarang sekali melihat dia berada di ras kami. Ketiga berasal dari ras Wolf yaitu Lexus, pria dengan roh binatang pastinya. Keempat berasal dari ras vampir yaitu Draco, dia memiliki kekuatan roh alat yang menakjubkan. Lalu yang terakhir berasal dari ras Titan, the Hero dari ras ini sama sekali tidak diketahui mereka hanya muncuk disaat faksi Dunkelheit berada dalam situasi mendesak saja. Ras Titan sangat misterius dan paling ditakuti oleh semua ras faksi Dunkelheit"
Aafreda mengetahui tentang ras Titan, memang ras itu sangat ditakuti oleh semua ras yang ada di dunia Naturra karena kekuatan mereka. Di dalam novel telah disebutkan bahwa ras Titan adalah ras dewa namun mereka berada di sisi gelap. Mereka hidup bersembunyi dari ras dewa yang berada di sisi berlawanan dengan mereka, maka dari itu lah para Titan mengincar putri Cerelia yang merupakan keturunan dari ras dewa yang berada disisi cahaya. Pantas saja mereka sangat menantikan kematian Cerelia.
"Kamu tidak tahu tentang mereka yah?" Tanya Alex
"Aku tahu hanya saja tidak terlalu detail"
Aafreda merasakan Alex yang seperti gelisah, sepertinya Alex ingin menanyakan sesuatu kepada dirinya.
"Kamu terlihat gelisah, apakah kamu ingin menanyakan sesuatu kepadaku?"
"Umm..Aku takut kamu akan tersinggung jika aku bertanya. Jadi lupakan saja"
"Apa itu?"
__ADS_1
Alex menatap Aafreda lama, dia pun merentangkan tangannya dan melambaikannya didepan mata Aafreda. Alex sangat penasaran apakah Aafreda benar-benar tak dapat melihat namun kelihatannya Aafreda tahu apa yang sedang dilihatnya.
"Apakah kamu benar-benar tidak bisa melihat?"
"Aku bisa melihat" Jawab Aafreda
"Kenapa kamu menutup matamu?"
Aafreda juga penasaran dengan hal itu, hanya Achiel yang dapat membuka kain matanya ini namun pria itu kembali memasangkannya dan tak pernah membukanya kembali. Aafreda juga penasaran akan hal itu, dia akan menanyakan hal ini kepada Achiel.
"Entahlah kain ini tidak bisa dibuka sama sekali, aku sudah berkali-kali mencobanya"
"Ahhh...Aku kira kamu tak dapat melihat, ternyata kamu bisa melihat."
"Kenapa dengan hal itu?"
"Aku hanya merasa takjub ketika kita sarapan tadi, kamu dapat menghindari beberapa piring yang diterbangkan oleh anak-anak nakal itu"
"Itu hanya intusiku saja"
Aafreda melirik ke arah kanan tempat tidurnya, tempat tidur tersebut seharusnya menjadi tempat tidur milik ras Undead yang dulu mendorong bahunya saat pertama kali datang tapi anak itu tak menunjukkan batang hidungnya sejak kemarin malam.
"Kemana dia?" Tanya Aafreda
"Kamu tidak tahu, anak itu sudah dipindahkan dia meminta kepada kepala sekolah untuk pindah kamar dan sekarang akan ada seseorang yang datang menggantikannya"
"Siapa" Tanya Aafreda penasaran
Suara decitan pintu membuat Aafreda dan Alex mengalihkan perhatiannya ke arah suara tersebut. Aafreda membulatkan matanya ketika melihat bahwa orang yang telah berada di depan pintu adalah Achiel.
__ADS_1
"Kakak?!!"