
Aafreda menatap Achiel yang telah berdiri didepan pintu kamar mereka dengan melotot, Aafreda tak menyangka bahwa Achiel adalah murid yang akan menggantikan murid dari tas Undead tersebut. Achiel dengan dingin menatap Aafreda dan Alex, dia pun melangkahkan kakinya ke tempat tidurnya dan mengepak keluar semua barang-barang nya.
"Dia saudaramu bukan?" Bisik Alex
Aafreda menganggukkan kepalanya, tapi kini hubungan mereka tidak begitu baik. Dia tidak tahu harus menyapa Achiel atau mengabaikan dirinya. Aafreda pun memutuskan untuk mendekati Achiel dan membantunya.
"Kakak? Baguslah kamu disini, jadi aku mempunyai teman mengobrol lagi"
"Hei, bukankah kita tadi sudah mengobrol. Jadi aku ini apa?" Tanya Alex tak terima
Aafreda mengabaikan Alex, dia menatap Achiel yang masih sibuk mengeluarkan barang-barang nya bahkan Achiel tak menatap wajahnya sama sekali. Aafreda tak tahu harus berbuat apa lagi, dia sudah berinisiatif untuk menyapanya terlebih dahulu namun Achiel masih bersikap dingin kepadanya.
Alex tak terima diabaikan dia pun menari lengan Aafreda membuat Aafreda mengaduh kesakitan karena kekuatan Alex yang sangat kuat, karena hal itulah Achiel terpancing dan menatap Alex dengan pandangan tak bersahabat.
"Lepaskan tanganmu dari lengannya" Ucap Achiel dingin
"Kenapa? Ini adalah lengannya. Kenapa kamu yang ikut campur?" Bantah Alex
Kedua pria tersebut saling bertatapan sangat l dama, Aafreda bingung dengan keadaannya sekarang. Tiba-tiba Achiel menarik tangan Aafreda dan membawanya kesisinya. Aafreda tak menyangka bahwa dengan hal ini Achiel masih peduli kepadanya.
Bagus, terus pancing dia Alex. Pikir Aafreda semangat.
"Baiklah, lagipula aku hanya bermain-main kkkk"
Suara tawa Alex kembali terdengar membuat Aafreda tak menyukai tawa aneh itu. Alex pun segera berbaring di tempat tidurnya dan tertidur dengan nyenyak. Aafreda menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku Alex, sepertinya Alex sedang mencoba membantu dirinya.
Aafreda masih merasakan genggaman tangan Achiel, Achiel pun melepaskan genggaman mereka. Aafreda kembali murung , tiba-tiba Achiel memberikan sebagian pakaiannya kepada Aafreda dan meminta dirinya untuk membantu dia. Aafreda kesenangan dan dengan cepat membantu Achiel memasukkan pakaiannya kedalam lemari.
Setelah mereka berdua selesai, Aafreda duduk di atas tempat tidur miliknya. Kini dia duduk berhadapan dengan Achiel, Aafreda pun memutuskan untuk memulai pembicaraan.
"Kakak...Aku minta maaf, lain kali aku akan membicarakan hal-hal penting kepadamu"
"Tidak, seharusnya aku yang minta maaf karena aku belum terlalu dewasa"
__ADS_1
Aafreda tersenyum dia pun menarik tangan Achiel dan menggenggam nya dengan erat, dia tersenyum kepada Achiel dan Achiel pun luluh karena sikap manisnya.
"Baiklah ayo rapatkan tempat tidur kita"
"Rapatkan?"
"Jangan dekat-dekat dengan pria itu, dia membuatku kesal sejak pagi tadi"
Aafreda dengan pasrah menuruti kembali permintaan Achiel, dia tak dapat membiarkan Achiel membenci dirinya karena pria ini adalah orang yang akan membunuh dirinya di masa depan sebaik mungkin dia harus bersikap menurut kepadanya sampai Achiel menikah dengan putri Cerelia.
...****************...
Keesokan harinya, Aafreda dan Alex bangun terlambat. Mereka berteriak dikamar mereka dan segera bersiap-siap, Aafreda menatap kemarahan ke arah tempat tidur milik Achiel. Bagaimana bisa Achiel tak membangunkan dirinya sama sekali.
"Ayo cepat kita sudah terlambat di kelas pertama !!"
"Sebentar, jangan berlari. Itu sangat melelahkan"
Mereka berdua membuka pintu dan berlari kedepan meja guru namun tak terlihat satupun guru di ruangan itu. Disisi lain para murid sedang sibuk menulis sesuatu, Aafreda menatap mereka dengan bingung. Kenapa para murid tersebut terlalu serius dengan tugas mereka.
"Bagus tidak ada guru kita selamat Aafreda, aku rasa guru kita juga terlambat kkkk"
Tiba-tiba angin berhembus dengan kencang, kelopak bunga mawar merah mengitari tubuh mereka berdua dan secara ajaib kelopak bunga tersebut berputar didepan mereka dan membantu sesosok manusia, yang tak lain adalah guru tanaman mereka.
"Bagus sekali Tuan Laurent dan Nona Rance, berani sekali kalian datang di hari pertama akademi ini. Aku tidak menyangka harus melihat tingkah tidak bagus dari Tuan muda ras Ghoul yang kita hormati"
Aafreda menatap hal itu dengan takjub, dia tidak yakin bahwa itu adalah sihir. Bagaimana bisa seseorang terbuat dari kelopak bunga yang berterbangan. Aafreda masih menatap kejadian itu dengan melongo.
"Ambil tempat duduk kalian dan salin buku itu dari halaman 234-567. Aku harap semua itu selesai setelah kelas ku bubar. Apakah kalian mengerti?"
Alex dan Aafreda menganggukkan kepala mereka dengan cepat, mereka pun segera duduk dan menyalin semua tulisan yang terdapat dalam buku tebal itu.
Sialan Achiel, sekarang dia sedang duduk tenang disini dan tak merasa bersalah dengan apa yang diperbuatnya. Tanganku merasa akan patah sebentar lagi.
__ADS_1
Beberapa jam kemudian mereka berdua kesakitan karena telah menyalin setiap lembaran buku tersebut. Guru mereka menerima kertas tulisan mereka dan segera pergi dari ruangan kelas, Alex dan Aafreda mengaduh kesakitan karena tangan mereka.
"Astaga, tanganku sangat sakit" Ungkap Alex
"Ini semua gara-gara kamu yang berbicara hal buruk tentang guru"
"Aku tidak tahu jika dia adalah kelopak bunga yang sedang mengawasi anak-anak. Sangat menyeramkan sekali, apakah kita akan menjadi kelopak bunga karena berada di roh tanaman. Aku harap aku tidak menjadi hal itu"
Achiel mendekati mereka dan menarik tangan Aafreda, Aafreda ingin menolak namun kekuatan Achiel sangatlah kuat. Achiel mengoleskan salep ke tangan milik Aafreda, Aafreda merasakan kehangatan di setiap jari-jarinya. Entah kenapa semua rasa sakit dan pegal di jari-jari nya menghilang dalam sekejap.
"Apa itu kak? Kenapa tanganku tidak sakit lagi?"
"Ini obat untuk penyembuhan, aku tidak menyangka bahwa kamu akan tidur selama itu seharusnya aku membangunkan mu"
"Hei tanganku sakit juga" Ungkap Alex tak didengar oleh mereka berdua
"Lalu kenapa kamu tidak membangunkan ku?!!" Kesal Aafreda
"Aku lihat kamu sedang tertidur nyenyak jadi aku tak ingin membangunkan mu sama sekali"
"Hallo aku juga butuh obat itu, tanganku sakit juga" Ungkap Alex kembali
"Baiklah, lain kali bangunkan saja agar aku tidak kesiangan."
Alex pun mengambil secara diam-diam obat milik Achiel dan mengoleskan ke tangan miliknya, Achiel yang menyadari hal itu pun mengambil obatnya dan menatap Alex dengan dingin.
"Jangan sentuh kalau jari-jari mu tak ingin hilang"
Apa salahku, aku juga butuh obat huhu. Ungkap Alex di dalam hatinya
"Berikan saja kepadanya, dia yang membantuku bangun tadi kalau tidak aku pasti terlambat sendirian"
Achiel melemparkan obat tersebut kepada Alex, dia pun menarik tangan Aafreda dan keluar dari kelas. Alex menerima obat itu dengan hati gembira, Aafreda berteriak kepada Alex untuk menyusul mereka.
__ADS_1