Dark Soul

Dark Soul
Meninggalkan Benua Tengah


__ADS_3

"Apakah kalian sudah bosan hidup? Kalian tidak tahu sekarang kita sedang dimana? Menurut kalian ini tempat yang tepat untuk bertengkar" Teriak Neon sekeras mungkin membuat hutan yang awalnya tenang menjadi bergema karena suara nya.


Semua pasukan terdiam tidak terkecuali Fed, walaupun dia mengeluh tetap saja dirinya memiliki rasa pengecut untuk melawan Wakil pasukan.


Neon, pria dengan kulit eksotis dan mata biru lautnya menatap semua pasukan nya dengan bengis. Jika Tuan mereka dikenal sebagai pria yang tak banyak bicara maka Neon dikenal sebagai suara dari sang Tuan, seolah-olah pikiran sang Tuan tersampaikan oleh ucapan Neon. Neon merupakan pria kedua yang paling ditakuti oleh pasukan mereka, Neon lebih suka menyiksa orang yang tidak menuruti perintah Tuannya dan memberikan jasad orang tersebut kepada binatang liar. Fed tidak ingin menjadi mayat ditangan Neon.


Neon menendang bahu Hermon hingga pria dengan wajah luka itu tersungkur ke belakang, Hermon tetap menundukkan kepalanya kebawah tak mampu menatap kemarahan sang wakil pasukan. Neon pun berkata "Jika kalian takut mati, aku bisa membuat kalian merasakan kematian dengan perlahan. Bagaimana dengan itu Fed?"


Fed merinding ketakutan, ia membulatkan matanya penuh kengerian. Perkataan yang terlontar oleh Neon bukanlah sebuah ancaman tapi sebuah tindakan, ia tidak tahu jika Neon mendengarkan semua percakapan mereka. Jika Neon bisa mendengarnya, apakah Tuan juga mendengar perkataan sebelumnya? Apakah dia akan mati mengenaskan disini? Tidak...Dia tidak boleh mati.


Fed melawan "Bukankah kita semua akan mati akhirnya? Apakah itu mati ditangan mu atau ditangan para monster? Kematian itu terdengar tidak begitu menakutkan bagi kami,Benar bukan? Kalian semua!! Ayo dukung aku!! Apakah kalian akan mengikuti perintah yang kalian tidak tahu? Ini sebuah pemaksaan!!"


"Pemaksaan? Apakah Tuanku yang mencoba menyelamatkan mu...Juga pemaksaan? Kamu memohon-mohon kepada Tuanku untuk diselamatkan padahal Tuanku tidak ingin menolong orang merepotkan seperti dirimu. Ingat tempat mu Fed, nyawamu adalah milik Tuanku" Peringat Neon


"Aku tidak minta ditolong, Tuan lah yang menolongku!! Itu bukan permintaan...Akhh"


Sebuah adegan mengerikan terjadi ditengah hutan gelap itu, aliran merah menembus tanah dengan cepat. Semua orang terkesiap kecuali Neon, melihat kejadian tersebut mereka menundukkan kepala semakin dalam dan tidak berani mengarahkan mata kembali ke tubuh Fed yang tak terbentuk lagi.


"Tuan, anda tidak perlu mengotori tangan anda untuk membunuh sampah seperti nya" Ungkap Neon


"Hmm...Bersihkan, beritahu mereka apa yang akan dilakukan selanjutnya" Jawab sang Tuan


"Baik Tuanku"


Pria dengan sebutan "Tuan" itu melangkah menuju pepohonan lebat, semakin ia melangkah semakin lambat dirinya berjalan. Ia berhenti sebentar dan menatap ke segala arah, kedua telapak tangannya menutupi mulut nya yang memperlihatkan deretan giginya. Pria itu tertawa kecil "Sungguh mahkluk menjijikkan"


...----------------...


Aafreda menatap semangkuk bubur yang tersedia didepannya dengan bingung, aroma bubur tersebut dapat membuat seseorang tergugah untuk memakannya tapi tidak untuk seorang Aafreda yang walaupun tidak memakan apapun selama bertahun-tahun. Ia masih merasa bingung dengan cerita novel ini, apa yang harus ia lakukan jika dirinya tak mengetahui siapa musuh aslinya? Dia harus membawa kedamaian? Bagaimana dirinya bisa membawa kedamaian jika semua faksi layaknya musuh dan tak mau mendengarkan siapapun.

__ADS_1


"Tidak perlu dipusingkan, kamu pasti akan tahu jawabannya" Jawab Kakek Stu yang memberikan minuman kepada Aafreda


"Hah...Ini sungguh sulit, darimana aku harus memulai? Semua faksi bahkan tak bisa dimasuki semudah itu" Jawab Aafreda


"Kamu bisa memulai dari yang paling realistis dan logis, pasti ada beberapa faksi yang tidak menginginkan perang ini tapi mereka harus melakukan nya"


"Faksi...Faksi Dunkelheit tidak akan mungkin, aku tau bagaimana dalam nya. Faksi Alliance tidak mungkin juga Cenora berada di dalamnya dan ada seorang origin aneh yang menargetkan ku. Faksi neutral pun sudah terbagi sekarang hanya satu faksi yang kamu katakan yaitu Nona faksi, bukankah mereka ingin membawa kedamaian juga? Mungkin aku bisa memulai dari mereka" Ungkap Aafreda


"Tidak semudah itu, non faksi sangat tersembunyi. Tak ada satu orangpun yang mengetahui lokasi mereka, mereka selalu berpindah-pindah tempat... itu lah rumornya. Aku juga mendengar pemimpin mereka sangat suka membunuh daripada mendengarkan, menurut nya membunuh adalah satu-satunya jalan menuju kedamaian. Apakah kamu yakin memulai dari mereka?" Tanya Kakek Stu khawatir


"Tidak ada jalan lain, kedua faksi tidak bisa dipercaya untuk sekarang hanya Non faksi inilah yang harus aku selidiki walaupun cara mereka dalam membawa kedamaian adalah salah. Bagaimanapun aku tidak bisa melakukan nya sendiri, para mahkluk di dunia ini juga harus berpartisipasi jika mereka tidak ingin berperang lagi."


"Aku mengerti, keputusan mu adalah hak mu. Kamu harus melindungi dirimu dengan baik saat berjalan keluar dari benua ini"


"Baik, aku akan berangkat pagi esok."


"*Akhh"


"Ahhh*!!!"


*Aafreda menatap sebuah desa yang sudah terbakar, puing-puing rumah desa itu sudah tak terbentuk lagi. Sungguh mengerikan untuk Aafreda melihat banyak mayat yang hangus akibat kebakaran itu, tak hanya mayat yang hangus. Mayat dengan darah segar juga menutupi jalan dimana dirinya melangkah.


"Hugh...A...A...Apa yang terjadi? Dimana ini?"


Aafreda melewati jalan samping agar tak melangkahi mayat tersebut, saat dirinya menatap ke depan. Ia melihat sosok pria yang menebas pedangnya tanpa henti kepada mahluk-makhluk didepannya, darah terus mengalir menghiasi permukaan tanah desa itu. Pria itu terkikik mengerikan, seringainya bahkan sangat menakutkan untuk Aafreda.


Tiba-tiba pria itu berhenti dan menolehkan kepalanya ke arah Aafreda, ia menyeringai dan melangkah mendekatinya. Aafreda ketakutan ia ingin mundur namun kakinya tak dapat bergerak sama sekali. Semakin lama sosok itu semakin mendekat sayangnya Aafreda tak dapat melihat wajah pria itu karena tertutupi asap api.


"Aku menemukanmu*"

__ADS_1


"Ahhh....Hah...Hah...Ha..Hanya mimpi, untunglah hanya mimpi" Ungkap Aafreda yang berkeringat dingin


Aafreda menenangkan napasnya yang tak beraturan, kenapa dia bermimpi tentang pria tak dikenal. Pria itu sangat mengerikan bahkan tega membunuh anak-anak, Aafreda berharap tak bertemu dengan pria itu. Ia hanya takut mimpinya menjadi sebuah kenyataan.


"Hanya mimpi Aafreda, tenangkan dirimu dan kembali tidur"


Keesokan paginya, Aafreda sudah bersiap-siap untuk berangkat keluar dari benua tengah. Kakek Stu dan Fly mengantarkan kepergian nya, Fly berkata cemberut " Aku ingin ikut tapi Kakek tidak memperbolehkan ku sama sekali! Padahal umurku sudah 520 tahun"


"Kamu masih belum bisa keluar, jika mahluk-makhluk rakus itu melihatmu. Mereka pasti menginginkan kekuatanmu, kamu adalah satu-satunya ras Pixie yang masih hidup." Ungkap kakek Stu


Fly menundukkan kepalanya sedih, Aafreda menyentuh mahkluk kecil itu dengan telunjuknya. Aafreda tersenyum " Jika dunia ini sudah baik, aku akan membawamu berkeliling dunia Naturra."


"Benarkah?" Tanya Fly semangat


"Tentu saja"


Fly pun terbang memeluk wajah Aafreda, Aafreda tersenyum manis. Aafreda menatap kakek Stu lama kemudian ia secara tiba-tiba memeluk kakek Stu. Bagi Aafreda kakek Stu adalah gurunya, walaupun sikap awalnya tidak bersahabat dengan Aafreda tapi kakek Stu tak pernah berbuat hal buruk kepadanya.


"Terimakasih atas segalanya"


"Ahh...I..Ini sedikit memalukan untukku yang sudah tua"


"Walaupun beberapa hari tapi aku sudah menganggap mu sebagai guru sekaligus kakek ku, selama ini aku tidak punya kakek setidaknya aku tau rasanya memiliki seorang kakek yang sedikit cerewet"


Kakek Stu terkejut mendengar perkataan Aafreda, ia pun tersenyum kecil dan kembali memeluk tubuh kecil didepannya "Jadilah baik dan berbahagialah"


Aafreda melepaskan pelukannya dan melangkah menjauh dari kedua sosok yang menemaninya selama ini, ia melambaikan tangannya dan melangkah jauh hingga tak terlihat lagi oleh Fly dan Kakek Stu.


"Aku harap kamu kembali dengan senyuman itu nak" Ungkap kakek Stu di hati kecilnya

__ADS_1


__ADS_2