
...10. Transfer keyakinan...
Khadijah.
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Kha menoleh ke kanan pada bacaan taslīm pertama lalu menoleh ke kiri setelahnya.
Astaghfirullôhal ‘azhîm alladzî lâ ilâha illâ huwal hayyul qoyyûm wa atûbu ilaih.
Trrd... Trrd....
Ponsel bergetar saat Kha masih merapal dzikir-dzikir. Nama Ummi dengan huruf kapital semua tertera pada ponselnya.
Assalamualaikum putri Ummi. Teteh Kha lagi ngapain?
“Waalaikumsalaam Ummi. Ummi apa kabar? Kha baru selesai Dhuha.”
Alhamdulillah. Ummi, Abi, Syamier sama Gamya Sehat. Teteh Kha gimana? Sehat? Maafin Ummi karena belum sempat jenguk Teteh ke Jakarta. Banyak urusan yang belum bisa Abi selesaikan.
“Nggak apa Ummi---”
Pagi itu, dilantai dua rukonya. Kha habiskan waktu untuk bercengkrama bersama Ummi. Ia menceritakan tentang kemajuan toko bunganya, kerjasama toko bersama Riz wedding organizer, juga bertambahnya karyawan dari yang tadinya hanya Dipa, sekarang sudah ada Asti, Boim, Singgih, dan 5 karyawan lainnya, juga sesekali dibantu Adskhan.
Kha mengakhiri obrolannya bersama Ummi ketika Dipa menghampirinya kelantai dua.
__ADS_1
“Ada Biru dibawah.” Kha mengangguk lalu melipat kembali mukenanya, tak lupa ia kalungkan apron di leher. Begitu tiba dilantai bawah, Kha tidak menemukan siapapun disana kecuali karyawan yang tengah sibuk dengan pekerjaan masing-masing.
Tringgg.
Suara lonceng kecil dari atas pintu membuat Kha memutar badan, ia melihat Biru masuk.
“Ponsel kamu kemana sih?” Pertanyaan Biru membuat Kha mengerutkan kening. “Tadi Tante Risa telfon, tapi kamunya lagi dipanggilan lain. Pihak WO mau meeting siang ini, sekalian ngelanjutin pemotretan yang waktu itu sempet ketunda.” ujar Biru tanpa menoleh, pandangannya terarah pada ponsel di tangannya.
Saat ini Dipa sudah jauh lebih mahir dalam menangani pesanan bunga. Karena itu, Asti yang sekarang bertugas menemani saat ada pekerjaan diluar. Seperti dirinya, Biru pun menambah beberapa karyawan di studio, bahkan lebih banyak daripada karyawan toko bunganya. Sudah dua hari studio terlihat sibuk menata ulang kubikel meja kerja.
“Bareng aja biar sekalian.” Biru bukan memberi penawaran, karena sebelum naik mobil, Biru lebih dulu membuka pintu bagian belakang. Tak apalah, ada Asti yang menemani, Biru juga ditemani dua orang karyawannya, satu laki-laki dan satu perempuan. Fadli dan Moya, karyawan Biru memperkenalkan diri.
...🌼🌼🌼🌼🌼...
Kha memeriksa notulen hasil rapat bersama pihak WO yang berisi jadwal proyek sebulan kedepan. Ada banyak acara yang harus Kha persiapkan, mulai dari mendekor untuk acara pertunangan, foto prewedding, juga acara gender reveal. Untuk awalan, Tante Risa selaku Founder ingin Kha terbiasa dengan proyek kecil sebelum nantinya harus siap mendapat proyek besar seperti mendekor acara pernikahan dan semacamnya.
Biru mengangkat pergelangan tangan untuk melihat jam. “Kalau nggak salah dipersimpangan jalan ada masjid, nanti bisa mampir dulu.” jawab Biru.
Jarak 10 menit dari restoran, Mobil Biru belok kiri dan masuk ke halaman masjid. Asti dan Moya mengikuti langkah Kha menuju tempat bersuci, sementara Fadli dan Biru masih berada diparkiran.
Saat Kha selesai melaksanakan sholat, Asti dan Moya sudah tidak berada disampingnya, mungkin mereka lebih dulu pergi keluar, Kha pun melipat mukena dan mengembalikan ke tempat semula, lalu menyusul yang lain.
Saat Kha sudah siap sholat tadi, ia melihat Biru masih berdiri ditempat dia sekarang, dan masih dengan posisi yang sama saat Kha keluar, kemungkinan besar Biru tidak melaksanakan sholat. Kha menghampiri Biru yang sedang berjongkok di samping mobil.
“Yang lain mana, Mas?”
“Beli minum” jawab Biru singkat.
__ADS_1
Beberapa kali berada dalam kesempatan yang sama, Kha juga tidak pernah melihat Biru melakukan kewajibannya, padahal seperti yang Kha ketahui, Biru adalah umat muslim. Hal itu membuat Kha memberanikan diri untuk bertanya pada Biru.
“Mas, nggak sholat?” Biru menjawab dengan menaikan alis, membuat Kha terdorong untuk membuka obrolan. “Sayang banget, padahal sudah didepan masjid.” sindir Kha dengan suara lembutnya.
Sedetik, dua detik, tiga detik, sampai hitungan 30 detik Biru baru membuka suara.
“Mereka yang terlihat tidak pernah menghadap Tuhannya bukan berarti tidak tahu agama. Barangkali ada banyak hal yang membuat dirinya malu untuk sekedar menengadahkan tangan.”
Kha terdiam, ia masih tidak sepaham dengan jalan pikiran orang yang mampu meninggalkan Tuhan hanya karena kenyataan pahit yang diterima atau karena alasan lain. Wajar Kha berpikir seperti itu, karena ia tumbuh dibawah didikan orang tua yang syarat akan agama.
“Pernah dengar nggak? kalau manusia adalah makhluk ciptaan Allah paling mulia?” Biru menjawab pertanyaan Kha dengan anggukan.
“Saking mulianya, kita sebagai manusia selalu di istimewakan. Bagaimana tidak istimewa, bahkan kesalahan manusia yang sebanyak buih dilautan saja selalu Allah maafkan.” Tutur Kha.
“Malu karena merasa banyak dosa, yang pada akhirnya berujung malas lalu perlahan meninggalkan kewajiban kita sebagai umat yang dimuliakan. Padahal yang Allah minta nggak banyak, 24 jam dari kita Allah hanya meminta sedikit untuk 5 waktu. Selain itu, Dzikir dan shalawat masih bisa kita lakukan disela kegiatan.”
Kha menunduk saat pandangannya bertemu dengan Biru, sorot mata laki-laki didepannya tak dapat ditebak. Entah apa yang Biru pikirkan, Kha hanya berusaha mengingatkan Biru tentang kewajibannya sebagai seorang muslim.
Biru menerawang jauh kearah teras masjid dan berkata “Aku nggak yakin sholatku diterima.”
Senyum Kha mengembang mendengarnya, artinya Biru hanya memiliki rasa tidak percaya diri akan penerimaan Allah dengan ibadahnya.
“Jangan negatif thingking. Nggak perlu risau tentang sholatmu diterima atau nggaknya. Yang penting begitu muadzin berseru, anggap Allah sedang memanggil dan kamu harus bergegas ke Masjid. Jangan berlaga nggak butuh Allah, sampai saat ini kamu masih diberi nafas juga bukti bahwa Allah masih menunggu kamu buat kembali kejalan yang benar.”
Biru bergeming. Pria itu memutar-mutar ponsel ditangan tanpa sedikitpun membalas pembicaraan Kha.
“Itu mereka datang.” Kha menunjuk teman-temannya yang berjalan menuju arah mereka. Biru berdiri, tapi kemudian berlalu meninggalkan Kha dengan gumaman “Thanks udah transferin keyakinan.”
__ADS_1
Ekor mata Kha terus mengikuti kemana Biru berjalan. Begitu melihat Biru memasuki tempat wudhu, Kha tersenyum seraya bergumam “Alhamdulillah....”