
...63. Dendam & Ketamakan....
Berita terkini.
•Terduga dalang dibalik penyekapan di kediaman pengusaha Awan Adityawarman, pada akhirnya tertangkap oleh kepolisian dini hari tadi setelah pencarian selama 2 pekan. Kini, 2 perempuan berinisial JN & JA yang tertangkap di daerah dieng, wonosobo, jawa tengah tersebut telah diamankan di kantor polisi Jakarta pusat. Status JA dan JN saat ini masih menjadi saksi dan sedang diperiksa oleh pihak penyidik.
• Berita menghebohkan datang dari dunia hiburan setelah tertangkapnya dua model atas terduga dalang dari tindakan kriminal. Kericuhan tersebut menyeret serta nama anak dari salah satu model berinisial JA karena telah merenggut nyawa salah satu bodyguard rekan modelnya. Saat ini kepolisian tengah menyelidiki seluruh saksi dan orang-orang yang terlihat pada kejadian malam itu.
Kha berdiri mematung di depan televisi saat berita sela dibacakan oleh news anchor. Ia melihat cuplikan video detik-detik penangkapan Ibu mertua dan perempuan yang disebut-sebut sebagai otak dari semua musibah yang menimpa keluarganya. Tak habis pikir, bagaimana seorang Jihan yang begitu dimuliakan oleh Biru dapat berbuat sekeji itu. Namun, berkaitan dengan isi pesan dari Jihan tetap masih menyisakan tanda tanya besar pada benak Kha.
Belakangan harinya sedikit melelahkan. Pekerjaan di toko bunga menjadi berantakan karena ia terus kehilangan fokus. Berkat saran dari Dipa, Kha memutuskan untuk istirahat di rumah baru yang sudah disiapkan oleh Biru. Tentunya bersama Umi dan Abi yang sudah tiba di Jakarta kemarin sore.
“Sabar, terus berdoa sama Allah supaya kalian kuat menghadapi ujian ini. Sementara kamu harus biasakan berpisah sama suamimu, Teh.” ucap Umi.
“Mana bisa, Umi. Nggak ada orang yang akan terbiasa dengan perpisahan. Kenapa rumah tangga Teteh di uji seberat ini, apa Teteh sama mas Biru pernah nyakitin orang ya, Mi?”
“Istighfar, Sayang ... jangan suudzon sama apa yang sudah di takdirkan ke kalian. Sabar dan belajar menerima keadaan tanpa harus membenci kenyataan. Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, teteh tahu, ‘kan?”
Kha mengangguk. “al insyirah ayat 5.” jawab Kha tersenyum. Seperti biasa, umi knows best! selalu bisa menenangkan di saat gundah.
“Ya sudah, selesaikan sapunya setelah ini antarkan makan siang buat suamimu.” kata Umi.
“Tapi Umi, kata Papa untuk sementara Mas Biru belum bisa ditemui lagi sampai proses penyidikan selesai. Mas Biru sudah ditetapkan sebagai terdakwa, dan siap naik sidang,” Kha menunduk. Hingga saat ini ia masih belum juga bisa mengontrol emosi setiap membicarakan soal kasus Biru.
__ADS_1
“Bisa dititipkan ke petugas, Kha. Umi harap masakan umi bisa mengobati rindu Biru sama kita. Oh iya, umi jadi ingat terakhir kali Biru telpon juga bilang kalo dia kangen rendang buatan umi.”
“Mas Biru telfon umi? Kapan? Kok aku nggak tahu.” tanya Kha.
“Sering! Lebih sering dari anak umi malah.” jawab Alsea menggoda mencolek hidung Kha.
Kha menghapus sisa air matanya. Tersenyum simpul melihat betapa bijak Alsea menghadapi dirinya. Mungkin orang tua diluar sana akan kecewa ketika tahu rumah tangga anaknya tengah diguncang musibah, tapi tidak dengan Alsea dan Azzam. Kha merasa rapuh tanpa Biru, tapi orang-orang terdekatnya selalu menguatkan dengan dukungan dan doa.
Selesai membereskan rumah bersama Umi, Kha bersiap mengantarkan makanan ke kantor polisi. Berbeda dari sebelumnya, kali ini Kha tampak tidak peduli dengan penampilannya sebab Awan mengatakan tidak dapat bertemu dengan Biru. Gamis hitam polos pun menjadi pilihannya, di timpa dengan hoodie dan hijab instan. Percuma, mau berhias pun untuk siapa?
Tiba di kantor polisi Kha dan Alsea menuju lobby untuk mengisi daftar tamu, lalu menuju tempat penitipan barang untuk penghuni tahanan. Tak lupa ia menulis sebuah pesan pada secarik kertas, berharap Biru dapat membaca kalimat rindu penuh penyiksaan yang sedang ia alami. Hanya itu yang bisa ia lakukan, meski kecewa ia tetap harus mematuhi peraturan yang berlaku.
“Padahal satu lokasi, satu atap, satu lantai, tapi nggak bisa ketemu.” gumam Kha.
Kha berjalan gontai mundur dari ruang penitipan barang. Saat ia dan Alsea melewati salah satu ruangan, langkahnya terhenti tepat di perbatasan pintu masuk. Ia melihat 5 sosok pria dewasa berdiri berjejer melihat ke satu arah. Membuat dirinya membalikkan badan dan berjalan mendekati pria-pria tersebut. Ialah Azzam, Awan, Abyaz, Barid, dan Alan tengah melihat perdebatan dua orang di hadapannya.
“Bagaimana bisa hidup kamu sehancur ini, Je! Kenapa kamu menjadi anak yang se kejam ini, tega berbuat jahat sama mereka?!” teriak pria paruh baya dengan setelan jas rapi.
“Kejam?! Papi masih berani tanya kenapa aku kejam sama mereka?! Terus papi sendiri memperlakukan aku selama ini apa tidak kejam?!” timpal perempuan bernama Jecin dengan nada lebih lantang.
“Papi nggak ngerti lagi, Je. Kamu benar-benar sudah buat papi kecewa. Kamu bukan putri papi yang dulu.”
“Memang bukan! Jecin anak papi memang sudah mati bahkan sejak baru dilahirkan! Papi kecewa sama aku? Terus aku? Terus gimana perasaan aku, Pi! Apa papi tahu perasaan aku yang selama ini aku rasain? Aku dibesarkan tanpa kasih sayang karena papi selalu sibuk sama dunia papi sendiri. Sampai aku sadar aku bahkan tidak tahu siapa mamiku, seperti apa orang yang sudah melahirkan aku. Hampir saja aku kira perempuan sialan yang foto-fotonya masih utuh dirumah adalah mamiku. Karena nama aku sama dengan nama dia, ternyata ... Dia cuma perempuan sialan yang bikin papi sampai lupa mengenalkan aku sama Mami Luna.”
__ADS_1
“Jecin kamu tidak tahu keadaannya seperti apa dulu, berat buat pa--”
“Cukup!” teriak Jecin, “Kalau papi cuma mau ungkapin penyesalan papi jangan sama aku. Bukan dengan aku anak yang memang tidak pernah papi harapkan! Harusnya papi bunuh saja aku sebelum aku lahir.” mata berair itu menatap tajam pria yang ia panggil Papi.
“Jecin kamu tidak boleh bicara seperti itu. Mau seperti apapun keadaannya kamu tetep anak aku.”
“Pergi, Pi! Lebih baik aku membusuk di dalam penjara dari pada harus hidup sama Papi yang tidak pernah pedulikan aku!”
Kha berdiri mematung di samping Barid. Melihat sorot mata penuh kekecewaan dari seorang putri terhadap ayahnya. Hanya mendengar sepenggal percakapan antara Jecin dan ayahnya saja membuat Kha miris. Seperti apa rasa kecewa yang berkembang menjadi dendam pribadi seperti itu. Apakah sesulit itu menjadi Jecin, lahir dari perempuan yang tidak diinginkan dan tersisih oleh bayangan perempuan yang belum selesai bagi hidup papinya.
Namun, segera ia tepis rasa ibanya terhadap Jecin. Apa pun alasannya, Jecin dan Jihan yang sudah menyebabkan Biru mendekam dibalik jeruji besi. Tak seharusnya Biru terkena imbas dari masalah mereka.
“Kha ... Ngapain kamu di sini, Nak?” tanya Awan.
“Habis antar makanan buat Mas Biru, Pa. Pa, Mama Jihan dimana?” Kha penasaran karena ia belum melihat Jihan setelah berita penangkapannya bersama Jecin.
Awan mengangkat bahu seraya mengusap lembut kepala Kha, “Tadi sudah ketemu Biru, Jihan kasih tahu alasan kenapa dia mau ngikutin ulah gilanya Jecin.”
“Emang alasan Mama Jihan apa, Pa?”
“Jecin mengancam mau sebarin foto tidak pantasnya Jihan sama pria-pria yang ditemuinya selama ini, dan Jihan tidak mau dunia hitamnya diketahui sama Biru. Juga menjanjikan bantuan buat menyingkirkan Barid supaya bisa menjadi pemegang tunggal perusahaan kita.”
“Astaghfirullahaladzim, Mama ....” Kha menutup mulut tak percaya. Hanya karena dendam dan ketamakan, mereka mampu melakukan segala cara.
__ADS_1